درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 44)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
قال في أوله: والحمد لله الذي جعل في كل زمان فترة من الرسل بقايا من أهل العلم، يدعون من ضل إلى الهدى، ويصبرون منهم على الأذى، يحيون بكتاب الله الموتى، ويبصرون بنور الله أهل العمى.
Imam Ahmad berkata pada bagian awal risalah tersebut: Segala puji bagi Allah yang pada setiap masa kekosongan di antara para rasul tetap menjadikan sejumlah ahli ilmu. Mereka menyeru orang yang tersesat menuju petunjuk dan bersabar menghadapi gangguan mereka. Dengan Kitab Allah mereka menghidupkan hati-hati yang mati, dan dengan cahaya Allah mereka membuat orang-orang yang buta dapat melihat.
فكم من قتيل لإبليس قد أحيوه، وكم من ضال تائه قد هدوه، فما أحسن أثرهم على الناس، وأقبح أثر الناس عليهم!
Betapa banyak orang yang telah menjadi korban Iblis mereka hidupkan kembali, dan betapa banyak orang yang tersesat lagi kebingungan mereka beri petunjuk. Betapa baik pengaruh mereka terhadap manusia, dan betapa buruk perlakuan manusia terhadap mereka!
ينفون عن كتاب الله تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين، الذين عقدوا ألوية البدعة، وأطلقوا عقال الفتنة.
Mereka menyingkirkan dari Kitab Allah penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, klaim-klaim orang yang membawa kebatilan, dan takwil orang-orang yang jahil; yaitu mereka yang mengibarkan panji-panji bid‘ah dan melepaskan kendali fitnah.
فهم مختلفون في الكتاب، مخالفون للكتاب، مجمعون على مفارقة الكتاب، يقولون على الله وفي الله وفي كتاب الله بغير علم.
Mereka berselisih mengenai Kitab, menyelisihi Kitab, namun bersepakat untuk menyimpang dari Kitab. Mereka berbicara tentang Allah, mengenai Allah, dan mengenai Kitab Allah tanpa ilmu.
يتكلمون بالمتشابه من الكلام، ويخدعون جهال الناس بما يشبهون عليهم، فنعوذ بالله من فتن المضلين.
Mereka berbicara dengan perkataan-perkataan yang samar dan menyerupai satu sama lain, lalu memperdaya orang-orang awam yang tidak mengetahui dengan berbagai kesamaran yang mereka timbulkan. Maka kita berlindung kepada Allah dari fitnah orang-orang yang menyesatkan.
والمقصود هنا قوله: «يتكلمون بالمتشابه من الكلام، ويخدعون جهال الناس بما يشبهون عليهم».
Yang dimaksud dalam pembahasan kita di sini adalah perkataannya: “Mereka berbicara dengan perkataan-perkataan yang samar, lalu memperdaya orang-orang awam dengan kesamaran yang mereka timbulkan.”
وهذه الكلمات بعينها ثابتة عن النبي ﷺ في وصف الخوارج.
Ungkapan dengan makna semacam ini juga diriwayatkan dari Nabi ﷺ dalam penjelasan mengenai Khawarij.
ويتضمن الألفاظ المتشابهة المجملة التي يعارضون بها نصوص الكتاب والسنة، وتلك الألفاظ المذكورة جعلوا لها معاني، وتلك المعاني هي التي قصدوها بها، فتحصل الاشتباه والإجمال.
Termasuk dalam hal itu adalah lafaz-lafaz samar dan global yang mereka gunakan untuk menentang nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah. Lafaz-lafaz tersebut mereka beri makna-makna tertentu, dan makna itulah yang sebenarnya mereka kehendaki ketika menggunakannya. Dari sinilah muncul kesamaran dan ketidakjelasan.
كلفظ العقل والعقلي والمعقول الذي يناقض عندهم الشرع، ومعلوم أن لفظ العقل عند المسلمين ليس بمصدر عقل يعقل عقلاً، وإنما قوة يكون بها العقل في الغريزة، وهم يريدون بذلك جوهراً مجرداً قائماً بنفسه.
Contohnya adalah istilah akal, rasional, dan ma‘qul, yang dalam penggunaan mereka dapat ditempatkan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan syariat. Padahal telah diketahui bahwa pengertian akal di kalangan kaum Muslimin bukanlah sebagaimana konsep yang mereka maksudkan. Akal adalah suatu kemampuan yang dengannya seseorang berpikir dan yang terdapat dalam fitrah manusia, sedangkan mereka dapat menggunakan istilah tersebut untuk menunjuk suatu substansi abstrak yang berdiri sendiri.
وكذلك لفظ «المادة، والصورة»، بل وكذلك لفظ: «الجوهر، والعرض، والجسم، والتحيز، والجهة، والتركيب، والجزء، والانقسام، والعلة، والمعلول، والعاشق، والعشق، والمعشوق».
Demikian pula istilah materi dan bentuk; demikian pula istilah substansi, aksiden, jisim, menempati ruang, arah, susunan, bagian, pembagian, sebab, akibat, pihak yang mencintai, cinta, dan yang dicintai.
بل ولفظ «واجب الوجود»، بل ولفظ «الوجود، والموجود، والعدم»، بل ولفظ «واجب، وممكن»، بل ولفظ «الوجود، والوجوب، والذات»، وغير ذلك من الألفاظ.
Demikian pula istilah wājib al-wujūd, istilah wujud, yang maujud, dan ketiadaan; istilah wajib dan mungkin; serta istilah wujud, keniscayaan, dzat, dan berbagai istilah lainnya.
وما من أهل علم إلا وهم معترفون بأنهم يصطلحون من الألفاظ بما يوافق مرادهم، كما لأهل الصناعات العلمية ألفاظ يعبرون بها عن صناعتهم، وهذه الألفاظ هي عرفية خاصة، ومرادهم بها غير المفهوم منها في أصل اللغة، سواء كان ذلك المعنى حقاً أو باطلاً.
Tidak ada suatu kelompok ahli ilmu kecuali mereka mengakui bahwa mereka membuat istilah-istilah tertentu sesuai dengan makna yang mereka kehendaki. Sebagaimana para ahli berbagai disiplin ilmu memiliki istilah yang mereka gunakan untuk mengungkapkan bidang keahlian mereka. Istilah-istilah tersebut merupakan kebiasaan khusus dalam bidang mereka, dan makna yang mereka maksudkan dengannya dapat berbeda dari pengertian asal lafaz tersebut dalam bahasa, baik makna yang mereka maksudkan itu benar maupun batil.
Leave a Reply