درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 45)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وإذا كان كذلك فهذا مقام يحتاج إلى بيان:
Jika demikian, maka persoalan ini memerlukan penjelasan lebih lanjut.
وذلك أن هؤلاء المعارضين إذا لم يخاطبوا بلغتهم واصطلاحهم فقد يقولون: أنا لا أفهم ما قيل لنا، أو أن المخاطب لنا والراد علينا لم يفهم قولنا، ويلبسون على الناس بأن الذي عيناه بكلامنا حق معلوم بالعقل أو بالذوق، ويقولون أيضاً: إنه موافق للشرع إذا لم يظهروا مخالفة الشرع.
Orang-orang yang menentang itu, apabila tidak diajak berbicara dengan bahasa dan istilah teknis mereka, dapat berkata, “Kami tidak memahami apa yang disampaikan kepada kami,” atau mengatakan bahwa orang yang berbicara kepada mereka dan membantah mereka tidak memahami perkataan mereka. Mereka lalu menimbulkan kesamaran di hadapan manusia dengan menyatakan bahwa makna yang mereka maksudkan melalui istilah tersebut adalah kebenaran yang diketahui melalui akal atau pengalaman batin. Mereka juga mengatakan bahwa makna tersebut sesuai dengan syariat selama mereka belum menampakkan secara terang pertentangannya dengan syariat.
كما يفعله الملاحدة من القرامطة والفلاسفة ومن ضاهاهم، وإذا خاطبوا بلغتهم واصطلاحهم ـ مع كونه ليس هو اللغة المعروفة التي نزل بها القرآن ـ فقد يفضي إلى مخالفة ألفاظ القرآن في الظاهر.
Hal seperti ini dilakukan oleh kaum mulhid dari kalangan Qaramithah, para filsuf, dan kelompok-kelompok yang menyerupai mereka. Namun apabila mereka diajak berbicara dengan bahasa dan istilah teknis mereka—padahal istilah tersebut bukan bahasa yang dikenal sebagai bahasa turunnya Al-Qur’an—hal itu dapat menimbulkan kesan lahiriah seakan-akan lafaz-lafaz Al-Qur’an diselisihi.
هم يعارضون ألفاظ القرآن بألفاظ مجملة
Mereka Menentang Lafaz-Lafaz Al-Qur’an dengan Lafaz-Lafaz yang Global
فإن هؤلاء عبروا عن المعاني التي أثبتها القرآن بعبارات أخرى ليست في القرآن، وربما جاءت في القرآن بمعنى آخر.
Mereka mengungkapkan makna-makna yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an dengan ungkapan-ungkapan lain yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an, bahkan terkadang lafaz tersebut terdapat dalam Al-Qur’an tetapi digunakan dengan makna yang berbeda.
فليست تلك العبارات مما أثبته القرآن، بل قد يكون معناها المعروف في لغة العرب التي نزل بها القرآن منتفياً باطلاً، نفاه الشرع والعقل.
Karena itu ungkapan-ungkapan tersebut bukanlah lafaz yang ditetapkan oleh Al-Qur’an. Bahkan makna yang dikenal dari lafaz itu dalam bahasa Arab—bahasa yang dengannya Al-Qur’an diturunkan—bisa jadi merupakan makna yang tertolak dan batil, yang dinafikan oleh syariat maupun akal.
وهم اصطلحوا بتلك العبارات على معان غير معانيها في لغة العرب، فتبقى إذا أطلقوا نفيها لم تدل في لغة العرب على باطل، ولكن تدل في اصطلاحهم الخاص على باطل.
Mereka kemudian membuat kesepakatan istilah untuk menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut dengan makna yang berbeda dari maknanya dalam bahasa Arab. Akibatnya, ketika mereka menafikan lafaz tersebut, penafian itu dalam bahasa Arab belum tentu menunjukkan suatu kebatilan, tetapi dalam istilah khusus mereka dapat mengandung makna batil.
فمن خاطبهم بلغة العرب قالوا: إنه لم يفهم مرادنا، ومن خاطبهم باصطلاحهم أخذوا يظهرون عنه أنه قال ما يخالف القرآن، وكان هذا من جهة كون تلك الألفاظ مجملة مشتبهة.
Jika seseorang berbicara kepada mereka dengan bahasa Arab, mereka berkata, “Ia tidak memahami maksud kami.” Namun jika seseorang berbicara kepada mereka berdasarkan istilah teknis mereka, mereka lalu menampakkan seolah-olah orang tersebut telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Hal itu terjadi karena lafaz-lafaz tersebut bersifat global dan mengandung kesamaran.
وهذا كالألفاظ المتقدمة مثل لفظ: القدم، والحدوث، والجوهر، والجسم، والعرض، والمركب، والمؤلف، والمتحيز، والبعض، والتوحيد، والواحد.
Contohnya adalah istilah-istilah yang telah disebutkan sebelumnya, seperti qidam, huduts, jauhar, jisim, ‘aradh, sesuatu yang tersusun, sesuatu yang terkomposisi, sesuatu yang menempati ruang, bagian, tauhid, dan satu.
فهم يريدون بلفظ التوحيد والواحد في اصطلاحهم: ما لا صفة له ولا يعلم منه شيء دون شيء ولا يرى، والتوحيد الذي جاء به الرسول لم يتضمن شيئاً من هذا النفي.1Penulis menyinggung bahwa istilah seperti jauhar, ‘aradh, jism, jihah, dan istilah sejenis dipakai oleh sebagian ahli kalam dengan makna teknis tertentu, lalu digunakan untuk menafikan sifat-sifat Ilahiyah. Menurut penulis, istilah-istilah tersebut bukan lafaz Al-Qur’an dan Sunnah, dan makna yang dimaksudkan harus diperiksa terlebih dahulu. Ia merujuk pula kepada pembahasannya dalam risalah at-Tadmuriyyah.</efn_note]
Dalam istilah mereka, yang dimaksud dengan “tauhid” dan “satu” adalah sesuatu yang tidak memiliki sifat, yang tidak dapat diketahui satu perkara darinya secara terpisah dari perkara lainnya, dan yang tidak dapat dilihat. Padahal tauhid yang dibawa Rasul tidak mengandung sedikit pun dari penafian semacam ini.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply