درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 46)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وإنما تتضمن إثبات الإلهية لله وحده، بأن يشهد أن لا إله إلا هو، ولا يعبد إلا إياه، ولا يتوكل إلا عليه، ولا يوالى إلا له، ولا يعادى إلا فيه، ولا يعمل إلا لأجله، وذلك يتضمن إثبات ما أثبته لنفسه من الأسماء والصفات.
Tauhid itu justru mengandung penetapan uluhiyyah hanya bagi Allah: dengan bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, tidak beribadah kecuali kepada-Nya, tidak bertawakal kecuali kepada-Nya, tidak memberikan loyalitas kecuali karena-Nya, tidak memusuhi kecuali karena-Nya, dan tidak beramal kecuali untuk-Nya. Semua itu sekaligus mengandung penetapan terhadap nama-nama dan sifat-sifat yang Dia tetapkan bagi diri-Nya.
قال جابر بن عبد الله في حديثه الصحيح في سياق حجة الوداع: فأهل رسول الله ﷺ بالتوحيد: «لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك».
Jabir bin ‘Abdillah, dalam hadis sahihnya ketika meriwayatkan rangkaian Haji Wada‘, berkata bahwa Rasulullah ﷺ mengucapkan talbiyah dengan tauhid: “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
وكانوا في الجاهلية يقولون: لبيك لا شريك لك، إلا شريكاً هو لك، تملكه وما ملك، فأهل النبي ﷺ بالتوحيد كما تقدم.1
Sedangkan orang-orang pada masa Jahiliyyah mengatakan: “Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali satu sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau memilikinya dan apa yang dimilikinya.” Maka Nabi ﷺ bertalbiyah dengan tauhid sebagaimana telah disebutkan.
قال تعالى: «وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ» (سورة البقرة: ١٦٣).
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah: 163).
وقال تعالى: «وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ» (سورة النحل: ٥١).
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Allah berfirman: Janganlah kalian mengambil dua sesembahan. Sesungguhnya Dia hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku hendaknya kalian takut.” (QS. an-Nahl: 51).
وقال تعالى: «وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ» (سورة المؤمنون: ١١٧).
Allah Ta‘ala juga berfirman: “Siapa yang menyeru sesembahan lain bersama Allah, padahal tidak ada hujah baginya mengenai hal itu, maka sesungguhnya perhitungannya berada di sisi Rabb-nya.” (QS. al-Mu’minun: 117).
وقال تعالى: «وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِنْ دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ» (سورة الزخرف: ٤٥).
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau: pernahkah Kami menjadikan selain Ar-Rahman sesembahan-sesembahan untuk disembah?” (QS. az-Zukhruf: 45).
وقال تعالى: «وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ» (سورة النحل: ٣٦).
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut. Di antara mereka ada yang Allah beri petunjuk, dan di antara mereka ada yang telah pasti atasnya kesesatan.” (QS. an-Nahl: 36).
وأخبر عن كل نبي أنهم دعوا الناس إلى عبادة الله وحده لا شريك له.
Allah juga memberitakan tentang setiap nabi bahwa mereka menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
وقال تعالى: «قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ» (سورة الممتحنة: ٤).
Allah Ta‘ala berfirman: “Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata.” (QS. al-Mumtahanah: 4).
وقال تعالى عن المشركين: «أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ» (سورة ص: ٥).
Allah Ta‘ala juga berfirman tentang orang-orang musyrik: “Apakah ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu menjadi satu sesembahan saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5).
وقال تعالى: «وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا» (سورة الإسراء: ٤٦).
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Apabila engkau menyebut Rabb-mu saja dalam Al-Qur’an, mereka berpaling ke belakang dengan penuh kejengkelan.” (QS. al-Isra’: 46).
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply