درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 47)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
وقال تعالى: «وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ» (سورة الزمر: ٤٥).
Allah Ta‘ala berfirman: “Apabila Allah saja yang disebut, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi kesal; tetapi apabila yang disebut adalah sesembahan-sesembahan selain-Nya, tiba-tiba mereka bergembira.” (QS. az-Zumar: 45).
وقال تعالى: «إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ» (سورة الصافات: ٣٥ – ٣٦).
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah,’ mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair yang gila?’” (QS. ash-Shaffat: 35–36).
وهذا في القرآن كثير.
Ayat-ayat semacam ini sangat banyak terdapat di dalam Al-Qur’an.
وليس المراد بالتوحيد مجرد توحيد الربوبية، وهو اعتقاد أن الله وحده خلق العالم، كما يظن ذلك من يظنه من أهل الكلام والتصوف.
Yang dimaksud dengan tauhid bukanlah semata-mata tauhid rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan alam, sebagaimana disangka oleh sebagian orang dari kalangan ahli kalam dan tasawuf.
ويظن هؤلاء أنهم إذا أثبتوا ذلك بالدليل فقد أثبتوا غاية التوحيد، ويظن هؤلاء أنهم إذا شهدوا هذا وفنوا فيه فقد فنوا في غاية التوحيد.
Mereka menyangka bahwa apabila hal tersebut telah mereka tetapkan dengan dalil, berarti mereka telah menetapkan puncak tauhid. Sebagian lainnya menyangka bahwa apabila mereka telah menyaksikan hal tersebut dan mengalami fanā’ di dalamnya, berarti mereka telah mencapai puncak tauhid.
وكثير من أهل الكلام يقول: التوحيد له ثلاث معان، وهو: واحد في ذاته لا قسيم له، أو لا جزء له، وواحد في صفاته لا شبيه له، وواحد في أفعاله لا شريك له.
Banyak ahli kalam mengatakan bahwa tauhid memiliki tiga makna: Allah satu pada Dzat-Nya sehingga tidak memiliki tandingan atau bagian; satu dalam sifat-sifat-Nya sehingga tidak memiliki sesuatu yang serupa dengan-Nya; dan satu dalam perbuatan-perbuatan-Nya sehingga tidak memiliki sekutu.
وهذا المعنى الذي تتناوله هذه العبارة فيها ما يوافق ما جاء به الرسول ﷺ، وفيها ما يخالف ما جاء به الرسول، وليس الحق الذي فيها هو الغاية التي جاء بها الرسول، بل التوحيد الذي أمر به أمر يتضمن الحق الذي في هذا الكلام وزيادة أخرى.
Makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut sebagian sesuai dengan apa yang dibawa Rasul ﷺ, dan sebagian lainnya menyelisihi apa yang beliau bawa. Akan tetapi, bagian yang benar di dalam ungkapan tersebut bukanlah tujuan tertinggi yang dibawa Rasul. Tauhid yang beliau perintahkan mencakup kebenaran yang terdapat di dalam ungkapan itu sekaligus mengandung perkara lain yang lebih dari itu.
فهذا من الكلام الذي ليس فيه الحق بالباطل وكتم الحق.
Dengan demikian, pembahasan semacam ini menjadi contoh perkataan yang di dalamnya terjadi pencampuran kebenaran dengan kebatilan serta penyembunyian sebagian kebenaran.
وذلك أن الرجل لو أقر بما يستحقه الرب تعالى من الصفات، ونزهه عن كل ما ينزه عنه، وأقر بأنه وحده خالق كل شيء ـ لم يكن موحداً، بل ولا مؤمناً حتى يشهد أن لا إله إلا الله، فيقر بأن الله وحده هو الإله المستحق للعبادة، والتزم بعبادة الله وحده لا شريك له.
Sebab apabila seseorang mengakui sifat-sifat yang layak bagi Rabb Ta‘ala, menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang harus disucikan dari-Nya, dan mengakui bahwa hanya Dia yang menciptakan segala sesuatu, orang tersebut belumlah menjadi seorang yang bertauhid, bahkan belum menjadi seorang mukmin, sampai ia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah; sehingga ia mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya sesembahan yang berhak diibadahi dan berkomitmen beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya.
والإله هو بمعنى المألوه المعبود الذي يستحق العبادة، ليس هو الإله بمعنى القادر على الخلق.
Kata al-ilāh bermakna pihak yang disembah dan diibadahi, yang memang berhak mendapatkan ibadah. Maknanya bukan sekadar “pihak yang mampu menciptakan”.
فإذا فسر المفسر الإله بمعنى القادر على الاختراع، واعتقد أن هذا أخص وصف الإله، وجعل إثبات هذا التوحيد هو الغاية في التوحيد، كما يفعل ذلك من يفعله من متكلمة الصفاتية، وهو الذي ينقلونه عن أبي الحسن وأتباعه، لم يعرفوا حقيقة التوحيد الذي بعث الله به رسوله.1
Apabila seseorang menafsirkan al-ilāh sebagai “pihak yang mampu mencipta dan mengadakan”, lalu menganggap bahwa inilah sifat Allah yang paling khusus, serta menjadikan penetapan tauhid semacam ini sebagai tujuan tertinggi tauhid—sebagaimana dilakukan sebagian mutakallim dari kalangan yang menetapkan sifat, dan sebagaimana dinukil dari Abu al-Hasan dan para pengikutnya—maka mereka belum mengenal hakikat tauhid yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya.
فإن مشركي العرب كانوا مقرين بأن الله وحده خالق كل شيء، وكانوا مع هذا مشركين.
Sebab kaum musyrik Arab dahulu mengakui bahwa Allah semata adalah Pencipta segala sesuatu, tetapi meskipun demikian mereka tetap merupakan orang-orang musyrik.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply