درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 49)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
ومن المعلوم بالاضطرار من دين الإسلام أن هذا شرك، فهذا ونحوه من التوحيد الذي بعث الله به رسله، وهم لا يدخلونه في مسمى التوحيد الذي اصطلحوا عليه.
Telah diketahui secara pasti dalam agama Islam bahwa hal tersebut merupakan syirik. Padahal perkara inilah dan yang semisal dengannya yang termasuk dalam tauhid yang dengannya Allah mengutus para rasul-Nya. Namun mereka tidak memasukkannya ke dalam pengertian “tauhid” yang mereka buat berdasarkan istilah mereka sendiri.
وأدخلوا في ذلك نفي صفاته، فإنهم إذا قالوا: لا تنقسم له، ولا جزء له، ولا شبيه له، فهذا اللفظ ـ وإن كان يراد به معنى صحيح ـ فإن الله ليس كمثله شيء.
Sebaliknya, mereka memasukkan ke dalam pengertian tauhid itu penafian terhadap sifat-sifat-Nya. Ketika mereka berkata, “Dia tidak terbagi, tidak memiliki bagian, dan tidak memiliki sesuatu yang serupa dengan-Nya,” maka lafaz tersebut—meskipun dapat dimaksudkan untuk suatu makna yang benar—memang benar bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.
وهو سبحانه لا يجوز عليه أن يتفرق، ولا يفسد، ولا يستحيل، بل هو أحد صمد، والصمد: الذي لا جوف له، وهو السيد الذي كمل سؤدده.
Mahasuci Dia; tidak mungkin Dia tercerai-berai, mengalami kerusakan, ataupun berubah menjadi sesuatu yang lain. Bahkan Dia adalah Al-Ahad dan Ash-Shamad. Ash-Shamad adalah yang tidak memiliki rongga, dan juga berarti Sang Pemimpin yang kesempurnaan kepemimpinan-Nya telah mencapai puncaknya.
فإنهم يدرجون في هذا نفي علوه على خلقه ومباينته لمصنوعاته، ونفي ما يقوم به من صفاته، ويقولون: إن إثبات ذلك يقتضي أن يكون مركباً منقسماً، وأن يكون له شبيه.
Akan tetapi, mereka memasukkan ke dalam ungkapan tersebut penafian terhadap ketinggian Allah di atas makhluk-Nya, keterpisahan-Nya dari ciptaan-Nya, serta penafian sifat-sifat yang ada pada-Nya. Mereka mengatakan bahwa menetapkan semua itu mengharuskan Allah menjadi sesuatu yang tersusun dan terbagi, serta mengharuskan adanya sesuatu yang menyerupai-Nya.
وأهل العلم يعلمون أن مثل هذا لا يسمى في لغة العرب التي نزل بها القرآن تركيباً وانقساماً، ولا تمثيلاً.
Padahal para ahli ilmu mengetahui bahwa perkara semacam itu dalam bahasa Arab—bahasa yang dengannya Al-Qur’an diturunkan—tidak dinamakan sebagai susunan, pembagian, ataupun penyerupaan.
وهكذا الكلام في مسمى الجسم والعرض والجوهر والتحيز وحلول الحوادث وأمثال ذلك، فإن هذه الألفاظ يدخلون في مسماها الذي ينفونه أموراً مما وصف الله به نفسه، ووصفه به رسوله.
Demikian pula pembahasan mengenai istilah jisim, ‘aradh, jauhar, menempati ruang, terjadinya perkara-perkara baru, dan istilah-istilah semisalnya. Ke dalam cakupan istilah-istilah yang mereka nafikan itu, mereka memasukkan perkara-perkara yang justru Allah gunakan untuk menyifati diri-Nya dan yang digunakan Rasul-Nya untuk menyifati-Nya.
فينفون بها علمه وقدرته وكلامه، ويقولون: إن القرآن مخلوق، لم يتكلم الله به، وينفون بها رؤيته.
Dengan istilah-istilah tersebut mereka kemudian menafikan ilmu Allah, kekuasaan-Nya, dan kalam-Nya. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan bahwa Allah tidak berbicara dengannya. Dengan dasar istilah yang sama mereka juga menafikan kemungkinan melihat Allah.
لأن رؤيته على اصطلاحهم لا تكون إلا لمتحيز في جهة وهو جسم، ثم يقولون: والله منزه عن ذلك، فلا تجوز رؤيته.
Sebab menurut istilah mereka, sesuatu hanya dapat dilihat apabila menempati suatu arah dan merupakan jisim. Kemudian mereka berkata, “Allah Mahasuci dari hal seperti itu,” lalu berdasarkan premis tersebut mereka menyimpulkan bahwa Allah tidak mungkin dilihat.
وكذلك يقولون: إن المتكلم لا يكون إلا جسماً متحيزاً، والله ليس بجسم متحيز فلا يكون متكلماً.
Demikian pula mereka mengatakan bahwa sesuatu yang berbicara pasti merupakan jisim yang menempati ruang. Karena Allah bukan jisim yang menempati ruang, menurut mereka Allah tidak dapat disebut berbicara.
ويقولون: لو كان فوق العرش لكان جسماً متحيزاً، والله ليس بجسم متحيز فلا يكون متكلماً فوق العرش، وأمثال ذلك.
Mereka juga mengatakan: apabila Allah berada di atas ‘Arsy, niscaya Dia merupakan jisim yang menempati ruang; sedangkan Allah bukanlah jisim yang menempati ruang. Lalu mereka membangun berbagai kesimpulan lainnya berdasarkan premis semacam ini, dan berbagai perkataan yang sejenis dengannya.
Leave a Reply