درء تعارض العقل والنقل لشيخ الإسلام ابن تيمية
Menolak Pertentangan antara Akal dan Dalil Naqli (Bagian 50)
إعداد ودراسة: الدكتور محمد السيد الجليند
Disusun dan Dikaji oleh: Dr. Muhammad as-Sayyid al-Julaynad
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel ini merupakan bagian dari seri terjemahan kitab Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql li Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah dan masuk dalam kategori Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
المبتدعة يوقعون المسلم في حيرة
Ahli Bid‘ah Menjerumuskan Seorang Muslim ke dalam Kebingungan
وإذا كانت هذه الألفاظ مجملة ـ كما ذكر ـ فالمخاطب لهم إما أن يفصل ويقول: ما تريدون بهذه الألفاظ؟ فإن فسروها بالمعنى الذي يوافق القرآن قبلت، وإن فسروها بخلاف ذلك ردت.
Apabila lafaz-lafaz tersebut bersifat global dan mengandung kesamaran—sebagaimana telah dijelaskan—maka orang yang berbicara dengan mereka dapat mengambil sikap dengan meminta perincian seraya berkata, “Apa yang kalian maksudkan dengan lafaz-lafaz ini?” Jika mereka menafsirkannya dengan makna yang sesuai dengan Al-Qur’an, makna tersebut diterima. Jika mereka menafsirkannya dengan makna yang menyelisihi Al-Qur’an, makna tersebut ditolak.
وإما أن يمتنع عن موافقتهم في التكلم بهذه الألفاظ نفياً وإثباتاً، فإن امتنع عن التكلم بها معهم فقد ينسبونه إلى العجز والانقطاع، وإن تكلم بها معهم نسبوه إلى أنه أطلق تلك الألفاظ التي تحتمل حقاً وباطلاً.
Atau ia dapat menolak mengikuti mereka dalam menggunakan lafaz-lafaz tersebut, baik untuk penafian maupun penetapan. Namun jika ia menolak berbicara menggunakan istilah mereka, mereka mungkin menuduhnya tidak mampu menjawab dan telah kehabisan hujah. Sebaliknya, apabila ia berbicara menggunakan istilah mereka, mereka dapat menisbatkan kepadanya penggunaan lafaz-lafaz yang mengandung kemungkinan makna benar sekaligus batil.
وأوهموا الجهال باصطلاحهم: إن إطلاق تلك الألفاظ يتناول المعاني الباطلة التي ينزه الله عنها، فحينئذ تختلف المصلحة.
Kemudian, dengan istilah teknis mereka, mereka dapat menimbulkan kesan kepada orang-orang yang tidak mengetahui bahwa penggunaan lafaz tersebut mencakup makna-makna batil yang Allah harus disucikan darinya. Dalam keadaan seperti ini, cara yang paling maslahat dapat berbeda sesuai keadaan.
فإن كانوا في مقام دعوة الناس إلى قولهم وإلزامهم به أمكن أن يقال لهم: لا يجب على أحد أن يجيب داعياً إلا إلى ما دعا إليه رسول الله ﷺ.
Apabila mereka berada dalam posisi mengajak manusia kepada pendapat mereka dan mewajibkan manusia menerimanya, maka dapat dikatakan kepada mereka: tidak wajib bagi siapa pun memenuhi seruan seseorang kecuali kepada perkara yang telah diserukan oleh Rasulullah ﷺ.
فما لم يثبت أن الرسول دعا الخلق إليه لم يكن على الناس إجابة من دعا إليه، ولا له دعوة الناس إلى ذلك، ولو قدر أن ذلك المعنى حق.
Maka sesuatu yang tidak terbukti bahwa Rasul telah menyeru manusia kepadanya, tidaklah wajib bagi manusia memenuhi seruan orang yang menyeru kepadanya. Orang tersebut juga tidak berhak mewajibkan manusia menerima seruan itu, sekalipun seandainya makna yang dimaksud pada dirinya sendiri benar.
وهذه الطريقة تكون أصلح إذا لبس ملبس منهم على ولاة الأمور، وأدخلوه في بدعتهم، كما فعلت الجهمية بمن لبسوا عليه من الخلفاء، حتى أدخلوه في بدعتهم من القول بخلق القرآن وغير ذلك.
Metode ini lebih tepat digunakan apabila sebagian dari mereka menimbulkan kesamaran kepada para penguasa sehingga memasukkan mereka ke dalam bid‘ah tersebut. Hal seperti ini dilakukan Jahmiyyah terhadap sebagian khalifah yang berhasil mereka pengaruhi, sampai para khalifah itu dimasukkan ke dalam pendapat bid‘ah mereka mengenai penciptaan Al-Qur’an dan persoalan-persoalan lainnya.
فكان من أحسن مناظرتهم أن يقال: ائتوننا بكتاب أو سنة حتى نجيبكم إلى ذلك، أو فلسنا نجيبكم إلى ما لم يدل عليه الكتاب والسنة.
Karena itu, termasuk cara terbaik dalam berdebat dengan mereka adalah mengatakan: “Datangkanlah kepada kami dalil dari Al-Qur’an atau Sunnah, maka kami akan memenuhi seruan kalian kepada perkara tersebut. Adapun sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, kami tidak akan mengikuti kalian padanya.”
وهذا لأن الناس لا يفصل بينهم النزاع إلا كتاب منزل من السماء، وإذا ردوا إلى عقولهم فلكل واحد منهم عقل، وهؤلاء المختلفون يدعي أحدهم أن العقل يدعوه إلى علم ضروري ينازعه فيه الآخر.
Hal itu karena perselisihan di antara manusia tidak dapat diputuskan secara tuntas kecuali dengan Kitab yang diturunkan dari langit. Jika mereka dikembalikan semata-mata kepada akal masing-masing, setiap orang memiliki akalnya sendiri. Di antara orang-orang yang berselisih tersebut, salah seorang mengklaim bahwa akal membawanya kepada suatu pengetahuan yang bersifat pasti, sementara orang lain justru menyelisihinya dalam perkara yang sama.
فلهذا لا يجوز أن يجعل الحاكم بين الأمة في موارد النزاع إلا الكتاب والسنة.
Karena itu, tidak boleh yang dijadikan hakim di antara umat dalam perkara-perkara perselisihan kecuali Al-Qur’an dan Sunnah.
منهج الإمام أحمد في مناظرته
Metode Imam Ahmad dalam Perdebatannya
وبهذا ناظر الإمام أحمد الجهمية لما دعوه إلى المحنة، وصار يطالبهم بدلالة الكتاب والسنة على قولهم.
Dengan metode inilah Imam Ahmad berdebat dengan Jahmiyyah ketika mereka menyerunya dalam peristiwa mihnah. Beliau terus menuntut mereka untuk menunjukkan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah atas pendapat mereka.
فما ذكروا حججهم كقوله تعالى: «خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ» (سورة الأنعام: ١٠٢)، وقوله: «مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ» (سورة الأنبياء: ٢)، وقول النبي ﷺ: «تجيء البقرة وآل عمران» وأمثال ذلك من الأحاديث، مع ما ذكروه من قوله ﷺ: «إن الله خلق الذكر» ـ أجابهم عن هذه الحجج بما بين به أنها لا تدل على مطلوبهم.
Ketika mereka menyebutkan hujah-hujah mereka, seperti firman Allah Ta‘ala, “Pencipta segala sesuatu” (QS. al-An‘am: 102), dan firman-Nya, “Tidak datang kepada mereka suatu peringatan yang baru dari Rabb mereka…” (QS. al-Anbiya’: 2), serta hadis Nabi ﷺ mengenai datangnya Surah al-Baqarah dan Ali ‘Imran, dan hadis-hadis semisalnya, termasuk riwayat yang mereka gunakan dengan lafaz, “Sesungguhnya Allah menciptakan adz-dzikr,” Imam Ahmad menjawab hujah-hujah tersebut dengan menjelaskan bahwa semua itu tidak menunjukkan kesimpulan yang mereka tuntut.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Leave a Reply