مدخل: المُحدِّدات الرئيسة للقراءات الحداثية للقرآن
Pendahuluan: Faktor-Faktor Utama yang Menentukan Pembacaan Modernis terhadap Al-Qur’an [Seri 4]
Penulis : Thariq Hajji
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pendahuluan: Faktor-Faktor Utama yang Menentukan Pembacaan Modernis terhadap Al-Qur’an ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran
لو عُدنا إذن لإشكال تحديد مصطلح «القراءات الحداثية للقرآن»، فإننا وانطلاقًا من هذا التصنيف نستطيع القول مبدئيًّا (كتحديد لأحد أبعاد المصطلح)، بأنَّ القراءات الحداثية هي: قراءات تقف خارج التقليد مضمونيًّا ومنهجيًّا،
Jika kita kembali kepada problem penentuan istilah “pembacaan-pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an”, maka berdasarkan klasifikasi ini kita dapat mengatakan secara awal — sebagai penentuan terhadap salah satu dimensi istilah tersebut — bahwa pembacaan-pembacaan modernis adalah pembacaan yang berada di luar tradisi, baik dari sisi isi maupun metodologi.
فهي لاحقة على مرحلة اهتزاز التقليد والمُرسَّمة عبر «قراءات ضد التقليد»، وهي تحاول ملء الفراغ المنهجي الناتج من واقعة اهتزاز التقليد عبر استحداث مناهج غربية حديثة.
Pembacaan tersebut muncul setelah fase guncangnya tradisi yang ditandai oleh “pembacaan-pembacaan anti-tradisi”, dan berusaha mengisi kekosongan metodologis yang muncul akibat guncangnya tradisi itu dengan menghadirkan metodologi-metodologi Barat modern.
هذا التحديد الذي قُمنا به هنا عبر التصنيف والـمَوْقَعَة لهذه القراءات يُعبِّر فقط عن أحد أبعاد «القراءات الحداثية»،
Penentuan yang kita lakukan di sini melalui klasifikasi dan penempatan posisi pembacaan-pembacaan tersebut baru mengungkap salah satu dimensi dari “pembacaan-pembacaan modernis”.
ففي الحقيقة إنَّ استحداث المنهجيات الغربية لم يكن مجرد محاولة من أجل تجاوز الفراغ المنهجي الحادث بعد «الخروج من التقليد»،
Pada kenyataannya, menghadirkan metodologi-metodologi Barat bukan semata-mata merupakan upaya untuk mengatasi kekosongan metodologis yang terjadi setelah “keluar dari tradisi”.
بل إنَّه يتعلق كذلك بإطار خاص وسياق معرفي مُحدَّد في مسيرة التحديث العربي؛ أي ظهور ما يسميه محمد جابر الأنصاري بـ«العلمانية الإسلامية»، وما يسميه علي مبروك بـ«التأسيس الثاني للنهضة».
Namun, hal itu juga berkaitan dengan suatu kerangka khusus dan konteks epistemologis tertentu dalam perjalanan modernisasi Arab, yaitu munculnya apa yang oleh Muhammad Jabir al-Anshari disebut sebagai “sekularisme Islam”, dan apa yang oleh ‘Ali Mabruk disebut sebagai “peletakan dasar kedua bagi kebangkitan”.
هذا السياق حاسم في ظننا في تَشكُّل القراءات الحداثية بالشكل الذي نعرف، حتى إننا لا يمكننا ربما تصوّر الاستحداث للمناهج الغربية وتطبيقها على القرآن دون هذا السياق المُؤسِّس؛
Menurut kami, konteks ini sangat menentukan dalam terbentuknya pembacaan-pembacaan modernis dalam bentuk yang kita kenal. Bahkan, barangkali kita tidak dapat membayangkan hadirnya metodologi-metodologi Barat dan penerapannya terhadap Al-Qur’an tanpa konteks fondasional ini.
لذا فإنّ هذا السياق المعرفي يُعتبَر أحد المُحدِّدات المهمة للقراءات الحداثية، من حيث كونه هو الذي يُؤسِّس هذه القراءات معرفيًّا، ويمنحها رهاناتها الخاصة -أو ربما نسختها الخاصة من رهانات عامة كما سيأتي-،
Karena itu, konteks epistemologis ini merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pembacaan-pembacaan modernis, karena konteks inilah yang meletakkan dasar epistemologis bagi pembacaan-pembacaan tersebut dan memberinya berbagai pertaruhan yang khas — atau mungkin versi khasnya sendiri dari berbagai pertaruhan yang bersifat umum, sebagaimana akan dijelaskan kemudian.
وبالتالي فإن هذا المُحدِّد يحتاج منَّا إلى عناية؛ لسبر مضمونه من أجل تدقيق أعمق لمصطلح القراءات الحداثية.
Oleh karena itu, faktor penentu ini perlu mendapatkan perhatian dari kita agar kandungannya dapat ditelusuri secara mendalam, sehingga istilah “pembacaan-pembacaan modernis” dapat dirumuskan dengan ketelitian yang lebih jauh.
ثانيًا: السياق المعرفي للقراءات الحداثية، أو القرآن والتأسيس الثاني للنهضة:
Kedua: Konteks Epistemologis Pembacaan Modernis, atau Al-Qur’an dan Peletakan Dasar Kedua bagi Kebangkitan
في فصل خاصّ من كتابه «ثورات العرب، خطاب التأسيس» يُؤرِّخ علي مبروك لمرحلة مهمة من مراحل التحديث العربي، وهي مرحلة تأزُّم الخطاب النهضوي العربي في نسخته الأولى «الخطاب الإصلاحي من الطهطاوي لعبده» وما تبعها من محاولة «التأسيس الثاني لخطاب النهضة» عبر نقل «ثقل مقاربة الخطاب للحداثة من السياسي للثقافي».
Dalam sebuah bab khusus dari bukunya Tsaurat al-‘Arab, Khithab at-Ta’sis, ‘Ali Mabruk menguraikan sejarah salah satu fase penting dalam perjalanan modernisasi Arab, yaitu fase krisis wacana kebangkitan Arab dalam versi pertamanya — “wacana reformasi dari ath-Thahthawi hingga ‘Abduh” — dan upaya setelahnya untuk melakukan “peletakan dasar kedua bagi wacana kebangkitan” melalui pemindahan “titik berat pendekatan wacana terhadap modernitas dari wilayah politik menuju wilayah budaya”.
وأزمة التحديث وفقًا لمبروك لا تتعلّق فحسب بكونه قد بدأ سياسيًّا، حيث ابتداء التحديث بمحاولات الدول استحضار المؤسسات الحديثة، وإرسال البعثات وإجراء التنظيمات،
Menurut Mabruk, krisis modernisasi tidak hanya berkaitan dengan kenyataan bahwa modernisasi itu bermula secara politik, ketika negara-negara mulai berusaha menghadirkan institusi-institusi modern, mengirim berbagai misi pendidikan, dan melakukan penataan-penataan administratif.
بل الأزمة هي أن هذه «السياسوية» في مقاربة الحداثة؛ لم تقتصر على فعل الساسة المنشغلين وبطبيعة حقل السياسة بالجاهز والبراني، (بمنطق قطف الثمرة، وليس أبدًا تقليب التربة وغرس البذرة)1،
Akan tetapi, krisisnya adalah bahwa “politisasi” dalam pendekatan terhadap modernitas ini tidak hanya terbatas pada tindakan para politisi yang — sesuai dengan karakter bidang politik — sibuk dengan hal-hal yang sudah jadi dan bersifat eksternal, dengan logika “memetik buah”, bukan menggemburkan tanah dan menanam benih.
وما يتبع هذا من مقاربة للحداثة تقوم بنزع نتاجاتها من سياقاتها الفكرية التي تُؤسِّسها «التنظيمات دون ديموقراطية – التكنولوجيا دون منهج علمي»، فتنتهي لتحديث براني سطحي قشري،
Dari pendekatan seperti ini lahirlah cara memandang modernitas dengan mencabut hasil-hasilnya dari konteks intelektual yang mendasarinya: “penataan tanpa demokrasi, teknologi tanpa metode ilmiah”. Pada akhirnya, hal itu menghasilkan modernisasi yang eksternal, dangkal, dan hanya menyentuh kulit permukaan.
بل تعدَّت حقل السياسة لتعمل على تشكيل الخطاب الفكري النهضوي نفسه سياسويًّا، وهذا ووفقًا لمبروك يتضحُ تمامًا في هذا الخطاب ومنذ لحظة تدشينه مع الطهطاوي «مُنظِّر دولة الباشا الحديثة» وإلى محمد عبده؛
Bahkan, pola tersebut melampaui ranah politik dan turut membentuk wacana intelektual kebangkitan itu sendiri secara politis. Menurut Mabruk, hal ini tampak sangat jelas dalam wacana tersebut sejak awal kemunculannya bersama ath-Thahthawi — “teoretikus negara modern sang Pasha” — hingga Muhammad ‘Abduh.
لذا فقد جاءت مقاربة هذا الخطاب للحداثة مقاربة سياسوية، تهتمُّ لمعلول الحداثة لا لعلتها، للجانب الخارجي من الحداثة لا للجانب الجواني المعرفي المُؤسِّس لها.
Karena itu, pendekatan wacana ini terhadap modernitas hadir dalam bentuk pendekatan yang politis: ia memperhatikan akibat modernitas, bukan sebabnya; memperhatikan sisi luar modernitas, bukan sisi dalam yang bersifat epistemologis dan menjadi landasan pembentuknya.
فقامت بالفصل النفعي بين نتاجات الحداثة الفكرية وما يُؤسِّسها معرفيًّا تمهيدًا لدمجها في النظام الفكري التقليدي2،
Karena itu, dilakukanlah pemisahan secara pragmatis antara produk-produk intelektual modernitas dan landasan epistemologis yang mendasarinya, sebagai persiapan untuk memasukkan produk-produk tersebut ke dalam sistem pemikiran tradisional.
فكما يؤكِّد نصر أبو زيد فإنَّ الطهطاوي ومحمد عبده روَّاد هذا الخطاب، ورغم أنَّهم كانوا قد تجاوزوا بالفعل التعامل مع الغرب كتكنولوجي كما تعامل معه الساسة، إلى الوعي بالفكر الحداثي في عمقه،
Sebagaimana ditegaskan Nashr Abu Zayd, ath-Thahthawi dan Muhammad ‘Abduh merupakan para perintis wacana ini. Meskipun keduanya memang telah melampaui cara para politisi memperlakukan Barat hanya sebagai sumber teknologi dan telah sampai kepada kesadaran terhadap pemikiran modern dalam kedalamannya,
إلا أنَّ هذا الاهتمام وبسبب هذه السياسوية التي يشير لها مبروك كان لا يزال يقتصر على الانهمام بنتاج الفكر الغربي لا بمناهجه؛ مما يجعل مقاربتهما «الفكرية» أيضًا مقاربة برانية.
namun perhatian tersebut — akibat pola politis yang ditunjukkan Mabruk — masih terbatas pada produk-produk pemikiran Barat, bukan metodologinya. Dengan demikian, bahkan pendekatan “intelektual” keduanya tetap merupakan pendekatan yang bersifat eksternal.
هذه السياسوية المُسيطِرَة على الخطاب وما نتج عنها من سمات لتعامل الخطاب مع الحداثة ووفقًا لمبروك أدَّت لفشل هذا الخطاب على مستوى الفكر والواقع،
Menurut Mabruk, dominasi pola politis atas wacana tersebut, beserta karakteristik yang dihasilkannya dalam cara wacana itu berhubungan dengan modernitas, telah menyebabkan kegagalan wacana tersebut pada tingkat pemikiran maupun realitas.
على المستوى الأول نشأ الخطاب ذرائعيًّا وانتقائيًّا ونفعيًّا يقيم طلاء حداثي برّاني فوق مضمون تقليدي «أثر السياسة على حقل المعرفة وفقًا لنصر أبو زيد»،
Pada tingkat pertama, wacana tersebut tumbuh dalam bentuk pragmatis, selektif, dan utilitarian, dengan meletakkan lapisan modernitas yang bersifat eksternal di atas kandungan tradisional — yang menurut Nashr Abu Zayd merupakan “pengaruh politik terhadap ranah pengetahuan”.
أمّا على هذا المستوى الأخير فقد كان الفشل مُدوِّيًا حيث انتهى إلى الهزيمة أمام الغرب والاحتلال؛ مما يدل على سطحية هذا التحديث،
Adapun pada tingkat realitas, kegagalannya sangat nyata, karena berakhir pada kekalahan di hadapan Barat dan penjajahan; sesuatu yang menunjukkan dangkalnya modernisasi tersebut.
لذا ومع تعقُّد أزمة هذا الخطاب كان لا بد من «البحث عن حلّ»؛ لتجاوز إشكال التأسيس، فكان لا بد من نقل ثقل المقاربة من البراني للجواني، من السياسي للثقافي، من النتاجي للمنهجي3.
Karena itu, seiring semakin kompleksnya krisis wacana tersebut, diperlukan “pencarian solusi” untuk mengatasi problem peletakan dasar. Titik berat pendekatan harus dipindahkan dari yang eksternal menuju yang internal, dari politik menuju budaya, dan dari produk menuju metodologi.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- ثورات العرب خطاب التأسيس، علي مبروك، دار العين، القاهرة، ط1، 2012، ص94.
‘Ali Mabruk, Tsaurat al-‘Arab, Khithab at-Ta’sis, Dar al-‘Ain, Kairo, cet. 1, 2012, hlm. 94.
- نفسه، ص93.
- في هذا السياق يقرأ مبروك نشأة الجامعة المصرية، كمحاولة لتجاوز أزمة الخطاب عبر إيكال مهمة إثارة الأسئلة الكبرى والتأسيس الفلسفي للحداثة إليها وإلى كلية الآداب تحديدًا.
علي مبروك، ثورات العرب، خطاب التـأسيس، دار العين، القاهرة، ط1، 2012، ص106.
Dalam konteks ini, Mabruk membaca lahirnya Universitas Mesir sebagai upaya untuk melampaui krisis wacana dengan menyerahkan tugas mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar dan meletakkan landasan filosofis bagi modernitas kepada universitas tersebut, khususnya kepada Fakultas Sastra.
‘Ali Mabruk, Tsaurat al-‘Arab, Khithab at-Ta’sis, Dar al-‘Ain, Kairo, cet. 1, 2012, hlm. 106.
Leave a Reply