مدخل: المُحدِّدات الرئيسة للقراءات الحداثية للقرآن
Pendahuluan: Faktor-Faktor Utama yang Menentukan Pembacaan Modernis terhadap Al-Qur’an [Seri 6]
Penulis : Thariq Hajji
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pendahuluan: Faktor-Faktor Utama yang Menentukan Pembacaan Modernis terhadap Al-Qur’an ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran
ثالثًا: رهانات القراءات الحداثية:
Ketiga: Pertaruhan-Pertaruhan Pembacaan Modernis
في ظننا إنّ دراسة أيّ خطاب غير ممكنة دون إدراك مبدئي لرهاناته الخاصة وأهدافه، فهذه الرهانات هي التي تُحدِّدُ أفق الخطاب، ولها الأثر الأكبر على تشكيل تقنياته المنهجية،
Menurut kami, kajian terhadap suatu wacana tidak mungkin dilakukan tanpa terlebih dahulu memahami berbagai pertaruhan khusus dan tujuan-tujuannya. Sebab, pertaruhan-pertaruhan inilah yang menentukan cakrawala wacana dan memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk teknik-teknik metodologisnya.
إننا نستطيع القول أنَّ رهانات الخطاب هي النافذة التي نتمكن من خلالها من فهم الوظائف التي يمنحها هذا الخطاب لدراساته واستشكالاته وأجوبته، ومن فهم أثر هذا على نمط اشتغاله واختياراته حتى لأدق تقنياته المنهجية.
Kita dapat mengatakan bahwa pertaruhan suatu wacana merupakan jendela yang memungkinkan kita memahami fungsi-fungsi yang diberikan wacana tersebut kepada kajian-kajiannya, problem-problem yang diajukannya, dan jawaban-jawabannya; sekaligus memahami pengaruh semua itu terhadap pola kerjanya dan berbagai pilihannya, bahkan hingga teknik-teknik metodologisnya yang paling rinci.
ونظنُّ أن حديثنا عن السياق المعرفي للقراءات الحداثية للقرآن، يضعُنا في أول الطريق لتحديد هذه الرهانات،
Kami memandang bahwa pembahasan mengenai konteks epistemologis pembacaan-pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an telah menempatkan kita pada langkah awal untuk menentukan berbagai pertaruhan tersebut.
فوفقًا لما ذكرنا بالأعلى يتبين كون «القراءات الحداثية للقرآن»، هي في أحد أوجهها محاولة لتجاوز أزمة خطاب النهضة المُتبدِّيَة بالأساس في نمط التعاطي مع الحداثة كـ«نتاجات فكرية»، ومع التراث كـ«منطقة محظورة مُبعدَة عن الدرس العلمي الحديث» وكلّ ما ينتج عن هذا النمط من سمات «التلفيق»، «التجاور»، «الانتقائية»،
Berdasarkan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya, tampak bahwa “pembacaan-pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an”, dari salah satu sisinya, merupakan upaya untuk melampaui krisis wacana kebangkitan yang terutama tampak dalam pola berinteraksi dengan modernitas sebagai “produk-produk pemikiran”, dan dengan turats sebagai “wilayah terlarang yang dijauhkan dari kajian ilmiah modern”, beserta segala ciri yang lahir dari pola ini berupa “eklektisisme”, “penjajaran”, dan “selektivitas”.
حيث تقوم القراءة الحداثية وعبر نقل ثقل المقاربة من البراني للجواني، بالتعامل مع الغرب لا كنتاجات فكرية بل كأداة منهجية، يتمُّ تشغليها لإنتاج وعي علمي بالتراث وبالدين،
Pembacaan modernis, melalui pemindahan titik berat pendekatan dari sisi eksternal menuju sisi internal, berinteraksi dengan Barat bukan sebagai kumpulan produk pemikiran, tetapi sebagai perangkat metodologis yang digunakan untuk menghasilkan kesadaran ilmiah terhadap turats dan agama.
فهذا الخطاب النهضوي الجديد يريد تحقيق النهوض كما حاول سلفه، لكنّ رهانه الأساس -بنقل مركز المقاربة- هو تقديم صياغة جديدة لأطراف معادلة النهوض، تبتعد عن كلّ سمات الخطاب المأزوم وتُسرِع بالعرب نحو الدخول في الأزمنة الحديثة في محاولة لتجاوز «الحصاد الفقير للتنوير».
Wacana kebangkitan yang baru ini ingin mewujudkan kebangkitan sebagaimana telah diupayakan oleh pendahulunya. Namun, pertaruhan utamanya — dengan memindahkan pusat pendekatan — adalah menawarkan rumusan baru bagi unsur-unsur persamaan kebangkitan, yang menjauh dari seluruh karakteristik wacana yang mengalami krisis dan mempercepat bangsa Arab untuk memasuki zaman modern, dalam upaya melampaui “hasil panen pencerahan yang miskin”.
ونحن نجدُ تأكيدًا دائمًا ومُستمِرًّا على هذه السمات كسمات محايثة لخطاب النهضة ومحورًا لأزمته وسببًا لفشله عند عدد كبير من مفكري القراءة الحداثية،
Kita menemukan penegasan yang terus-menerus terhadap karakteristik-karakteristik ini sebagai ciri yang melekat pada wacana kebangkitan, sebagai poros krisisnya, dan sebagai sebab kegagalannya, dalam pemikiran sejumlah besar tokoh pembacaan modernis.
والأهم نجد هذا التأكيد على كون «القراءة الحداثية» هي الطريق المـَلَكي لتجاوز هذه السمات،
Lebih penting lagi, kita menemukan penegasan bahwa “pembacaan modernis” dipandang sebagai jalan utama untuk melampaui karakteristik-karakteristik tersebut.
فنصر أبو زيد يُفرِد مقدمة طويلة في كتابه «النص، السلطة، الحقيقة» ليُقدِّم قراءة لرواد خطاب النهضة من الطهطاوي لعبده، ولمسيرة التنوير العربي من طه حسين إلى زكي نجيب محمود، تقوم على أساس تشخيص أزمة الخطاب بالتلفيق وشيوع التجاور بين الأفكار والمناهج،
Nashr Abu Zayd, misalnya, menyediakan pendahuluan yang panjang dalam bukunya an-Nashsh, as-Sulthah, al-Haqiqah untuk menyajikan pembacaan terhadap para perintis wacana kebangkitan dari ath-Thahthawi hingga ‘Abduh, serta perjalanan pencerahan Arab dari Thaha Husain hingga Zaki Najib Mahmud. Pembacaannya tersebut dibangun di atas diagnosis bahwa krisis wacana terletak pada eklektisisme dan meluasnya penjajaran antara gagasan-gagasan dan metodologi-metodologi.
ويعتبر أن التاريخية كمركز لمشروع القراءة الحداثية للقرآن هي الطريق لتجاوز هذا التلفيق، الذي لم يستمر في خطاب النهضة وما تناسل عنه من خطابات، إلا بسبب تفويت فرصة الحسم بالقول بتاريخية القرآن1.
Ia memandang bahwa historisitas, sebagai pusat proyek pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an, merupakan jalan untuk melampaui eklektisisme tersebut. Menurutnya, eklektisisme itu terus bertahan dalam wacana kebangkitan dan berbagai wacana yang lahir darinya karena kesempatan untuk menyelesaikan persoalan dengan menyatakan historisitas Al-Qur’an telah terlewatkan.
كذلك فالشرفي في كتابه «الإسلام بين التاريخ والرسالة»، يتناول هو الآخر بعض المحاولات الإصلاحية، ويعتبر أن عيبها الرئيس هو كون أفكارها خالية من أداة تُؤسِّسها معرفيًّا،
Demikian pula, asy-Syarafi dalam bukunya al-Islam baina at-Tarikh wa ar-Risalah membahas beberapa upaya reformasi dan memandang bahwa kelemahan utamanya adalah bahwa gagasan-gagasannya tidak memiliki perangkat yang dapat memberikan landasan epistemologis kepadanya.
ويعتبر أن المناهج التي يتوسَّل بها قراءة القرآن والإسلام هي الطريق لتثبيت علمي لهذه الأفكار2 يعطيها النجاعة المطلوبة والجذرية اللازمة.
Ia memandang bahwa metodologi-metodologi yang digunakannya dalam membaca Al-Qur’an dan Islam merupakan jalan untuk memberikan landasan ilmiah bagi gagasan-gagasan tersebut, sehingga memberinya efektivitas yang dibutuhkan dan sifat radikal yang diperlukan.
كذلك يُميِّز محمد أركون مقارباته عن إصلاحات عبده «الاجتهادية» انطلاقًا من كون هذه الأخيرة انتقائية ونفعية وذرائعية، تتوقف عن أن تثير الإشكالات الأساسية،
Muhammad Arkoun juga membedakan pendekatan-pendekatannya dari reformasi “ijtihadi” ‘Abduh dengan bertolak dari anggapan bahwa reformasi yang terakhir bersifat selektif, utilitarian, dan pragmatis, serta berhenti sebelum mengajukan persoalan-persoalan mendasar.
على عكس المطلوب من المجتهد بـ«زحزحة» شروط الاجتهاد النظرية وحدوده من المجال اللاهوتي – القانوني الذي حُصِر فيه، إلى مجال التساؤلات الجذرية غير المعروفة حتى الآن من قبل التراث الإسلامي، أي إلى مجال نقد العقل الإسلامي3،
Padahal yang dituntut dari seorang mujtahid adalah melakukan “pergeseran” terhadap syarat-syarat teoritis dan batas-batas ijtihad, dari wilayah teologis-hukum yang selama ini membatasinya menuju wilayah pertanyaan-pertanyaan radikal yang sampai sekarang belum dikenal dalam turats Islam, yaitu menuju wilayah kritik terhadap nalar Islam.
كما يصرُّ فضل الرحمن مالك في «الإسلام وضرورة التحديث» على إرجاع فشل التحديث في الهند إلى أنماط التعامل البراني مع الحداثة، وما نتج عنها من تجاورات بين التقليد والحداثة (والتي لا تختلف كثيرًا عن الحال في العالم العربي)،
Fazlur Rahman Malik juga menegaskan dalam al-Islam wa Dharurat at-Tahdits bahwa kegagalan modernisasi di India kembali kepada pola-pola interaksi yang bersifat eksternal terhadap modernitas dan berbagai bentuk penjajaran antara tradisi dan modernitas yang dihasilkannya — yang tidak jauh berbeda dari keadaan di dunia Arab.
ويعتبر أنَّ الحلّ هو تحديث مُؤسَّس من داخل الإسلام4، هذا الذي يُشكِّل الواقع -لا الواقعة- المحتاج تهيئة بتعبيرات علي مبروك لتنبت منه الحداثة.
Ia memandang bahwa solusinya adalah modernisasi yang dibangun dari dalam Islam itu sendiri. Inilah yang membentuk realitas — bukan sekadar peristiwa — yang, dalam ungkapan ‘Ali Mabruk, perlu dipersiapkan agar modernitas dapat tumbuh darinya.
لذا فإنّنا نظنُّ أن الحديث عن تحريك المعنى القرآني وإنقاذه من الجمود وفتح الباب لتعددية المعنى وإدخال القرآن في الحياة المعاصرة للمسلمين، ليست هي الرهانات الأكثر دلالة على القراءات الحداثية للقرآن،
Karena itu, kami memandang bahwa pembicaraan mengenai menggerakkan makna Al-Qur’an, menyelamatkannya dari kebekuan, membuka pintu bagi pluralitas makna, dan memasukkan Al-Qur’an ke dalam kehidupan kontemporer kaum muslimin bukanlah pertaruhan yang paling khas dalam menunjukkan karakter pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an.
هذا على الرغم من كثرة تكرارها سواء من رواد هذه القراءة أو ممن يروجون لكتاباتهم بصورة أيدولوجية تبسيطية واختزالية بالأساس،
Hal itu meskipun ungkapan-ungkapan tersebut sangat sering diulang, baik oleh para perintis pembacaan ini maupun oleh pihak-pihak yang mempromosikan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk ideologis yang pada dasarnya bersifat menyederhanakan dan mereduksi.
فهذه الرهانات يشاركه فيها كلّ القراءات المعاصرة تقريبًا (وفيها ما يوافقه على مضمون القيم التي يدعوا لها كقيم جديدة كذلك)،
Sebab, berbagai pertaruhan tersebut hampir dimiliki bersama oleh seluruh pembacaan kontemporer — bahkan di antara pembacaan-pembacaan tersebut ada yang juga menyetujui kandungan nilai-nilai yang diserukan sebagai nilai-nilai baru.
أمّا الرهانات الخاصة لهذه القراءات والدالَّة فعلًا عليها كأحد مُحدِّداتها الرئيسة -وبالتالي التي تعنينا في إيجاد تعريف دقيق لها- فهي البحث عن طريق «علمي»؛ لتحقيق هذه الرهانات يكون قادرًا على تكريسها وتجذيرها في الفكر والواقع الإسلامي،
Adapun pertaruhan-pertaruhan khusus dari pembacaan-pembacaan ini yang benar-benar menunjukkan karakter mereka sebagai salah satu faktor penentu utamanya — dan karena itu menjadi perhatian kita dalam mencari definisi yang tepat — adalah pencarian suatu jalan “ilmiah” untuk mewujudkan berbagai pertaruhan tersebut, yang mampu meneguhkan dan mengakarkannya dalam pemikiran serta realitas Islam.
فهذا الرهان أساسي في بناء وتشكيل برامج هذه القراءات5.
Pertaruhan inilah yang bersifat fundamental dalam pembangunan dan pembentukan program-program pembacaan tersebut.
وبالطبع فحديثنا هنا هو عن الرهانات الأوسع للقراءات الحداثية، أي تلك التي تصلح في ظننا كمُحدِّد من مُحدِّدات هذه القراءات، غير أنّ هذا لا يمنع بالطبع من وجود رهانات خاصّة عند كلّ قراءة حداثية خاصة.
Tentu saja, pembicaraan kita di sini adalah mengenai pertaruhan-pertaruhan yang lebih luas dari pembacaan-pembacaan modernis, yaitu yang menurut kami dapat berfungsi sebagai salah satu faktor penentu pembacaan-pembacaan tersebut. Namun, hal ini tentu tidak meniadakan adanya pertaruhan-pertaruhan khusus pada setiap pembacaan modernis tertentu.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- «النص، السلطة، الحقيقة»، ص34.
- الإسلام بين الرسالة والتاريخ، عبد المجيد الشرفي، دار الطليعة، بيروت، لبنان، ط2، 2008، ص57.
‘Abdul Majid asy-Syarafi, al-Islam baina ar-Risalah wa at-Tarikh, Dar ath-Thali‘ah, Beirut, Lebanon, cet. 2, 2008, hlm. 57.
- من الاجتهاد إلى نقد العقل الإسلامي، محمد أركون، دار الساقي، بيروت، لبنان، ط1، 1991، ص12، وص17.
Muhammad Arkoun, Min al-Ijtihad ila Naqd al-‘Aql al-Islami, Dar as-Saqi, Beirut, Lebanon, cet. 1, 1991, hlm. 12 dan 17.
- الإسلام وضرورة التحديث، فضل الرحمن مالك، ترجمة: إبراهيم العريس، دار الساقي، بيروت، لبنان، ط1، 1993، ص162.
Fazlur Rahman Malik, al-Islam wa Dharurat at-Tahdits, terj. Ibrahim al-‘Aris, Dar as-Saqi, Beirut, Lebanon, cet. 1, 1993, hlm. 162.
- وربما من هنا نفهم مركزية «التاريخية» في برامج القراءة الحداثية، فالتاريخية وكما سنوضح في المقالات اللاحقة تفصيلًا تمثل رفضًا للتفكير بالأصل وتمثل الطريق للتخلص من حمولة التقليد تخلصًا مؤسسًا على اختلاف السياقات المعرفية والسياسية والثقافية، والأهم والأسبق، أنها تمثل الأساس المنهجي لـ«لقراءة الحداثية للقرآن» من حيث كونها تغييرًا في «طبيعة النص»، كما استقرت في المدونة التقليدية و«زحزحة» له من مجمل المفاهيم المُؤطِّرة لطبيعته ووظائفه وعلاقته بالمؤوِّل وبالمعنى.
Barangkali dari sini kita dapat memahami sentralitas “historisitas” dalam program-program pembacaan modernis. Historisitas, sebagaimana akan kami jelaskan secara terperinci dalam artikel-artikel berikutnya, merepresentasikan penolakan terhadap “berpikir dengan asal” dan menjadi jalan untuk melepaskan diri dari muatan tradisi dengan cara yang dibangun di atas perbedaan konteks epistemologis, politik, dan budaya.
Yang lebih penting dan lebih mendasar, historisitas merepresentasikan landasan metodologis bagi “pembacaan modernis terhadap Al-Qur’an”, karena ia merupakan perubahan terhadap “hakikat teks” sebagaimana yang telah mapan dalam korpus tradisional, sekaligus “menggesernya” dari keseluruhan konsep yang membingkai hakikatnya, fungsi-fungsinya, hubungannya dengan penafsir, dan hubungannya dengan makna.
Leave a Reply