تدريبات عملية للمفسر من خلال ألفية الحماسة “1” مدخل عام
Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum [Seri 2]
Penulis : Abu Malik al-‘Awadhi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran
* (البيت الأول):
* (Bait Pertama):
لو كنتُ مِن مازنٍ لم تَسْتبِحْ إبِلِي
Seandainya aku berasal dari Mazin, niscaya unta-untaku tidak akan dirampas,
بَنُو اللَّقِيطةِ مِن ذُهْلِ بنِ شَيْبانَا
oleh Banu al-Laqithah dari Dzuhl bin Syaiban.
استشهد ابن عاشور بهذا البيت على اتقاء بطش مولى العدو؛ وذكره عند تفسير قوله تعالى: {لا تجزي نفسٌ عن نفسٍ}، فقال1: «وتنكير النفس في الموضعين وهو في حيز النفي يفيد عموم النفوس؛ أي لا يغني أحدٌ كائنًا من كان فلا تغني عن الكفار آلهتهم ولا صلحاؤهم على اختلاف عقائدهم في غناء أولئك عنهم،
Ibnu ‘Asyur menjadikan bait ini sebagai syahid tentang sikap menghindari kekerasan pelindung pihak musuh. Ia menyebutkannya ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Tidaklah satu jiwa dapat menggantikan jiwa yang lain.” Ia berkata: “Penggunaan kata nafs dalam bentuk nakirah pada kedua tempat, sementara keduanya berada dalam konteks penafian, menunjukkan keumuman seluruh jiwa. Artinya, tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang dapat memberi manfaat. Maka tuhan-tuhan kaum kafir maupun orang-orang saleh mereka tidak dapat memberi manfaat kepada mereka, meskipun keyakinan mereka mengenai kemampuan tokoh-tokoh tersebut untuk memberi manfaat kepada mereka berbeda-beda.
فالمقصود نفي غنائهم عنهم بأن يحولوا بينهم وبين عقاب الله تعالى، أي نفي أن يجزوا عنهم جزاء يمنع الله عن نوالهم بسوء رعيًا لأوليائهم، فالمراد هُنا الغناء بحرمة الشخص وتوقع غضبه، وهو غناء كفء العدو الذي يخافه العدو على ما هو معروف عند الأمم يومئذ من اتقائهم بطش مولى أعدائهم وإحجامهم عمَّا يوجب غضبه تقية من مكره أو ضرّه أو حرمان نفعه».
Yang dimaksud adalah menafikan kemampuan mereka untuk memberi manfaat dengan cara menghalangi antara kaum kafir dan azab Allah Ta‘ala; yakni menafikan bahwa mereka dapat menggantikan kaum kafir dengan suatu penggantian yang membuat Allah menahan keburukan dari mereka karena menjaga kehormatan para pelindung mereka. Maka yang dimaksud di sini adalah manfaat yang muncul karena kehormatan seseorang dan karena dikhawatirkannya kemarahannya. Inilah manfaat dari pihak yang seimbang dengan musuh, yang ditakuti oleh musuh, sebagaimana dikenal di kalangan umat-umat pada masa itu: mereka menghindari kekerasan pelindung musuh mereka dan menahan diri dari sesuatu yang dapat menimbulkan kemarahannya, karena takut terhadap tipu dayanya, bahayanya, atau hilangnya manfaat darinya.”
وذكر البيت وبيتًا آخر قبله، ثم قال: «وبهذا يتبيّن أن مفاد قوله: {لا تجزي نفس عن نفس شيئًا} مغاير لمفاد ما ذكر بعده بقوله: {ولا يقبل منها شفاعة} إلخ، فقوله: {لا تجزي نفس عن نفس شيئًا}، هو بمعنى قوله تعالى: {يوم لا تملك نفس لنفس شيئًا والأمر يومئذ لله} [الانفطار:19]».
Ia menyebut bait ini dan satu bait lain sebelumnya, kemudian berkata: “Dengan demikian menjadi jelas bahwa kandungan firman-Nya: ‘Tidaklah satu jiwa dapat menggantikan jiwa yang lain sedikit pun’ berbeda dengan kandungan yang disebutkan sesudahnya dalam firman-Nya: ‘Dan tidak diterima darinya syafaat,’ dan seterusnya. Maka firman-Nya: ‘Tidaklah satu jiwa dapat menggantikan jiwa yang lain sedikit pun’ semakna dengan firman Allah Ta‘ala: ‘Pada hari ketika satu jiwa tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk jiwa yang lain, dan segala urusan pada hari itu milik Allah.’ [Al-Infithar: 19].”
وفي البيت شواهد صريحة أخرى؛ منها:
Dalam bait ini juga terdapat syahid–syahid lain yang jelas, di antaranya:
قوله: (من) معناها الانتساب إلى القبيلة أو نحوها؛ يقال: (فلان من قريش) أو (من تميم)؛ أي هو منسوب إلى هذه القبيلة، وكذلك قوله: (من ذهل بن شيبانا).
Kata min dalam bait tersebut bermakna penisbatan kepada suatu kabilah atau yang semisal dengannya. Dikatakan: “Fulan dari Quraisy” atau “dari Tamim”, artinya ia dinisbatkan kepada kabilah tersebut. Demikian pula pada ungkapan: “dari Dzuhl bin Syaiban”.
وفي البيت أيضًا إشارة إلى ما كانوا عليه من الاهتمام بالأنساب وحفظها.
Dalam bait tersebut juga terdapat isyarat mengenai perhatian mereka terhadap nasab serta penjagaannya.
* (البيت الثاني):
* (Bait Kedua):
إذَنْ لَقامَ بنَـصْري مَعْشَـرٌ خُشُنٌ
Niscaya akan bangkit membelaku suatu kaum yang keras,
عندَ الـحَفِيـظةِ إنْ ذو لُوثةٍ لَانَا
ketika kehormatan dibela, saat orang yang kuat pun menjadi lemah.
استشهد به بعضُهم2 على مجيء (إذن) بدلًا من جواب الشرط؛ كأنَّه أجيب بجوابين. التحرير والتنوير (5/ 115)، وذلك في عدد من الآيات، كقوله تعالى {وإذًا لآتيناهم من لدنا أجرًا عظيمًا}،
Sebagian ulama menjadikan bait ini sebagai syahid bahwa kata idzan dapat datang menggantikan jawaban syarat, seakan-akan suatu kalimat syarat dijawab dengan dua jawaban. Hal ini disebutkan dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (5/115), dan terdapat pada sejumlah ayat, seperti firman Allah Ta‘ala: “Dan jika demikian, sungguh Kami akan memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami.”
وقوله: {وما كنت تتلو من قبله من…} وقوله: {ولو أنّا كتبنا عليهم أن اقتلوا أنفسكم أو اخرجوا من دياركم ما فعلوه إلا قليل منهم ولو أنهم فعلوا ما يوعظون به لكان خيرا لهم وأشد تثبيتًا (66) وإذا لآتيناهم من لدنا أجرًا عظيمًا (67)} التحرير والتنوير (5/ 236).
Demikian pula firman-Nya: “Dan engkau tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab…”, dan firman-Nya: “Seandainya Kami mewajibkan kepada mereka: ‘Bunuhlah diri kalian atau keluarlah dari kampung halaman kalian,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sedikit dari mereka. Dan sekiranya mereka melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan. Dan jika demikian, sungguh Kami akan memberikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami.” [An-Nisa: 66–67]. Disebutkan dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (5/236).
{وقد نزل عليكم في الكتاب أن إذا سمعتم آيات الله يكفر بها ويستهزأ بها فلا تقعدوا معهم حتى يخوضوا في حديث غيره إنكم إذًا مثلهم إن الله جامع المنافقين والكافرين في جهنم جميعًا} التحرير والتنوير (5/ 236).
“Dan sungguh Dia telah menurunkan kepada kalian di dalam Kitab bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sesungguhnya jika demikian, kalian menjadi seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir semuanya di dalam Jahannam.” Disebutkan dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (5/236).
وجعل جواب القعود معهم المنهي عنه أنَّهم إذا لم ينتهوا عن القعود معهم يكونون مثلهم في الاستخفاف بآيات الله؛ إذ قال: {إنكم إذًا مثلهم}، فإن (إذن) حرف جواب وجزاء لكلام ملفوظ به أو مقدر.
Jawaban dari tindakan duduk bersama mereka yang dilarang itu dijadikan berupa keadaan bahwa apabila mereka tidak berhenti duduk bersama mereka, maka mereka menjadi seperti mereka dalam meremehkan ayat-ayat Allah; sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jika demikian, kalian menjadi seperti mereka.” Sebab, idzan merupakan huruf jawaban dan balasan bagi suatu ucapan yang disebutkan secara eksplisit ataupun yang diperkirakan.
والمجازاة هنا لكلام مقدر دلَّ عليه النهي عن القعود معهم، فإنَّ التقدير: إن قعدتم معهم إذن إنكم مثلهم. ووقوع إذن جزاء لكلام مقدر شائع في كلام العرب، كقول العنبري:
Balasan di sini berkaitan dengan suatu ucapan yang diperkirakan, yang ditunjukkan oleh larangan duduk bersama mereka. Perkiraannya adalah: “Jika kalian duduk bersama mereka, maka jika demikian kalian menjadi seperti mereka.” Penggunaan idzan sebagai balasan bagi ucapan yang diperkirakan merupakan sesuatu yang umum dalam bahasa Arab, sebagaimana perkataan al-‘Anbari:
لو كنت من مازن لم تستبح إبلي
Seandainya aku berasal dari Mazin, niscaya unta-untaku tidak akan dirampas,
بنو اللقيطة من ذهل بن شيبانا
oleh Banu al-Laqithah dari Dzuhl bin Syaiban.
إذن لقام بنصري معشر خشن
Niscaya akan bangkit membelaku suatu kaum yang keras,
عند الحفيظة إن ذو لوثة لانا
ketika kehormatan dibela, saat orang yang kuat pun menjadi lemah.
التحرير والتنوير (5/ 236).
At-Tahrir wa at-Tanwir (5/236).
قال المرزوقي في «شرح الحماسة»: «وفائدة (إذن) هو أنه أخرج البيت الثاني مخرج جواب قائل له: ولو استباحوا ماذا كان يفعل بنو مازن؟ فقال: إذن لقام بنصري معشر خشن».
Al-Marzuki berkata dalam Syarh al-Hamasah: “Faedah kata idzan adalah bahwa bait kedua dibuat seolah-olah sebagai jawaban terhadap seseorang yang bertanya kepadanya: ‘Jika mereka benar-benar merampasnya, apa yang akan dilakukan Banu Mazin?’ Maka ia menjawab: ‘Jika demikian, niscaya akan bangkit membelaku suatu kaum yang keras.’”
قلت: ومنه قوله تعالى: {وما كنت تتلوا من قبله من كتاب ولا تخطه بيمينك إذا لارتاب المبطلون} [العنكبوت: 48]. التقدير: فلو كنت تتلو وتخط إذن لارتاب المبطلون.
Saya katakan: Termasuk dalam hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan engkau tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab dan tidak pula menulisnya dengan tangan kananmu; jika demikian, niscaya orang-orang yang mengingkari akan ragu.” [Al-‘Ankabut: 48]. Perkiraannya adalah: “Seandainya engkau membaca dan menulis, maka jika demikian orang-orang yang mengingkari akan ragu.”
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- في: التحرير والتنوير (1/ 485) بتصرف يسير.
Dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (1/485), dengan sedikit penyesuaian.
- ينظر: حاشية السيوطي على البيضاوي (3/ 171)، وحاشية الشهاب على البيضاوي (3/ 151)، والتحرير والتنوير (5/ 115)، وأيضًا (5/ 236).
Lihat: Hasyiyah as-Suyuthi ‘ala al-Baidhawi (3/171), Hasyiyah asy-Syihab ‘ala al-Baidhawi (3/151), dan at-Tahrir wa at-Tanwir (5/115), juga (5/236).
Leave a Reply