تدريبات عملية للمفسر من خلال ألفية الحماسة “1” مدخل عام
Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum [Seri 3]
Penulis : Abu Malik al-‘Awadhi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran
فقد علم أنَّ الجزاء في قوله: {إنكم إذًا مثلهم} عن المنهي عنه لا عن النهي، كقول الراجز، وهو من شواهد اللغة والنحو:
Dengan demikian, diketahui bahwa balasan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya jika demikian, kalian menjadi seperti mereka” berkaitan dengan perbuatan yang dilarang, bukan dengan larangan itu sendiri, sebagaimana perkataan seorang penyair rajaz berikut, yang termasuk di antara syahid dalam bahasa dan nahwu:
لا تتركني فيهم شطيرا
Janganlah engkau tinggalkan aku di tengah mereka seorang diri,
إني إذن أهلك أو أطيرا
karena jika demikian, niscaya aku binasa atau terbang pergi.
وفي البيت شواهد صريحة أخرى؛ منها:
Dalam bait tersebut juga terdapat syahid–syahid lain yang jelas, di antaranya:
كلمة (نصر) في مثل قوله تعالى: {متى نصر الله}، {وما النصر إلا من عند الله}.
Kata nashr, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Kapankah datang pertolongan Allah?” dan “Tidaklah pertolongan itu kecuali dari sisi Allah.”
كلمة (معشر) في مثل قوله تعالى: {يا معشر الجن والإنس}.
Kata ma‘syar, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Wahai golongan jin dan manusia.”
* (البيت الثالث):
* (Bait Ketiga):
قَوْمٌ إذا الشَّـرُّ أبْدَى ناجِذَيْه لهم
Mereka adalah kaum yang apabila keburukan memperlihatkan taringnya kepada mereka,
طارُوا إليه زَرَافاتٍ ووُحْدانَا
mereka segera melesat mendatanginya, berkelompok-kelompok maupun seorang demi seorang.
استشهد الواحدي بهذا البيت على أنَّ (الطيران) قد يستعمل في السرعة، وذكره عند قوله تعالى: {ولا طائر يطير بجناحيه}، ونقل عن الزجاج أن ذكر الجناح تأكيد؛ ثم قال1: «وأراد بهذا أن الطيران قد يستعمل لا بالجناح كقول العنبري» ثم ذكره.
Al-Wahidi menjadikan bait ini sebagai syahid bahwa kata “terbang” dapat digunakan dengan makna kecepatan. Ia menyebutkannya ketika membahas firman Allah Ta‘ala: “Dan tidak ada seekor burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya.” Ia menukil dari az-Zajjaj bahwa penyebutan sayap merupakan bentuk penegasan, kemudian berkata: “Yang dimaksud adalah bahwa kata ‘terbang’ dapat digunakan tanpa makna terbang dengan sayap, sebagaimana perkataan al-‘Anbari,” lalu ia menyebut bait tersebut.
وقال السمين الحلبي2: «لأن الطيران يستعار في السرعة».
As-Samin al-Halabi berkata: “Karena kata ‘terbang’ dipinjam sebagai ungkapan untuk menunjukkan kecepatan.”
وقال ابن عاشور3: «والخفاف والثقال هنا مستعاران لما يشابههما من أحوال الجيش وعلائقهم».
Ibnu ‘Asyur berkata: “Kata ‘ringan’ dan ‘berat’ di sini digunakan secara majazi untuk keadaan pasukan dan berbagai hal yang menyertai mereka yang memiliki kemiripan dengan makna ringan dan berat.”
واستشهد به الواحدي أيضًا على أن قوله (زرافات ووحدانا) معناه: (علي أي حالوا كانوا)؛ وجعله نظير قوله تعالى: {فانفروا ثبات أو انفروا جميعًا}،
Al-Wahidi juga menjadikan bait tersebut sebagai syahid bahwa ungkapan zurafat wa wuhdana bermakna: “dalam keadaan apa pun mereka berada”. Ia menjadikannya sebanding dengan firman Allah Ta‘ala: “Maka berangkatlah kalian dalam kelompok-kelompok, atau berangkatlah kalian semuanya bersama-sama.”
وقال4: «يقول: انفروا جماعات متفرقة، أو انفروا جميعًا بعضكم إلى بعض، أي على أي صفة كانت من الاجتماع في النفر والوقوف ليتلاحق الآخر والأول، والمبادرة وترك التفريج للتلاحق. ولهذا المعنى أراد الشاعر لما قاله» ثم ذكره.
Ia berkata: “Maksudnya: berangkatlah dalam kelompok-kelompok yang terpisah, atau berangkatlah semuanya bersama-sama, satu sama lain. Artinya, dalam keadaan apa pun, baik berkumpul ketika berangkat, berhenti agar yang di belakang dapat menyusul yang di depan, maupun segera berangkat tanpa memberi jeda untuk saling menyusul. Makna inilah yang dimaksud penyair ketika mengucapkan bait tersebut,” lalu ia menyebutkannya.
وقال: «ومثله قوله: {فإن خفتم فرجالًا أو ركبانًا}».
Ia juga berkata: “Yang semisal dengannya adalah firman Allah Ta‘ala: ‘Jika kalian takut, maka shalatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan.’”
واستشهد ابن عاشور بكلمة (قوم) على أن المراد (قوم هذه سجيتهم)؛ وذكره عند قوله تعالى: {وما تغني الآيات والنذر عن قوم لا يؤمنون}،
Ibnu ‘Asyur menjadikan kata qaum sebagai syahid bahwa yang dimaksud adalah “kaum yang sifatnya memang demikian”. Ia menyebutkannya ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Tidaklah ayat-ayat dan peringatan-peringatan itu bermanfaat bagi kaum yang tidak beriman.”
وقال5: «لأن اجتلاب لفظ قوم هنا مع صحة حلول غيره محله يشير إلى أن الوصف المذكور بعده من مقومات قوميتهم؛ لأنه صار من خصائصهم».
Ia berkata: “Penggunaan lafaz qaum di sini, padahal lafaz lain dapat menempati posisinya, menunjukkan bahwa sifat yang disebutkan setelahnya termasuk unsur yang membentuk karakter kaum tersebut, karena sifat itu telah menjadi salah satu kekhususan mereka.”
وفي البيت شواهد صريحة أخرى؛ منها:
Dalam bait tersebut juga terdapat syahid–syahid lain yang jelas, di antaranya:
مجيء الفاعل بعد (إذا) وتقدير الفعل قبله؛ في مثل قوله تعالى: {إذا السماء انشقت}.
Datangnya fa‘il setelah idza, sementara fi‘il diperkirakan berada sebelumnya, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Apabila langit terbelah.”
قلب الواو المضمومة همزة في قوله (وحدانا)؛ لأن البيت يروى (أحدانا)، وذلك نظير قوله تعالى: {وإذا الرسل أقتت} إذ قرئ (وُقتت) بالواو.
Perubahan huruf wawu yang berharakat dhammah menjadi hamzah pada kata wuhdana, karena bait tersebut juga diriwayatkan dengan bacaan uhdana. Hal ini serupa dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila para rasul telah ditentukan waktunya,” yang juga dibaca wuqqitat dengan huruf wawu.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Catatan Kaki
- في: التفسير البسيط (8/ 111)، وعنه: الرازي في تفسيره (12/ 524).
Dalam at-Tafsir al-Basith (8/111), dan dinukil darinya oleh ar-Razi dalam tafsirnya (12/524).
- في: الدر المصون (4/ 611).
- في: التحرير والتنوير (10/ 206)، وينظر: المفردات في غريب القرآن (ص: 529)، والبرهان في علوم القرآن (2/ 426)، والعذب النمير من مجالس الشنقيطي في التفسير (1/ 209).
Dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (10/206). Lihat pula: al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, hlm. 529; al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/426); dan al-‘Adzb an-Namir min Majalis asy-Syinqithi fi at-Tafsir (1/209).
- في: التفسير البسيط (6/ 584)، وعنه الرازي في تفسيره (10/ 138).
Dalam at-Tafsir al-Basith (6/584), dan dinukil darinya oleh ar-Razi dalam tafsirnya (10/138).
- في: التحرير والتنوير (11/ 297).
Leave a Reply