Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum [Seri 4]



تدريبات عملية للمفسر من خلال ألفية الحماسة “1” مدخل عام

Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum [Seri 4]

Penulis : Abu Malik al-‘Awadhi

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Latihan Praktis bagi Mufassir melalui Alfiyyat al-Hamasah (1): Pengantar Umum ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran

* (البيت الرابع):

* (Bait Keempat):

لا يَسْألونَ أخاهم حِينَ يَنْدُبُهُمْ

Mereka tidak bertanya kepada saudara mereka ketika ia memanggil mereka,

في النائباتِ على ما قال بُرْهانَا

dalam berbagai musibah, tentang bukti atas apa yang ia katakan.

استشهد به الزمخشري على استعمال (الأخ) في أخوة القبيلة؛ وذكره عند قوله تعالى: {إذ قال لهم أخوهم نوح}، فقال1: «قيل: أخوهم؛ لأنه كان منهم، من قول العرب: يا أخا بني تميم، يريدون: يا واحدًا منهم. ومنه بيت الحماسة»، فذكره.

Az-Zamakhsyari menjadikan bait ini sebagai syahid bagi penggunaan kata “saudara” dalam makna persaudaraan kabilah. Ia menyebutkannya ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Ketika saudara mereka, Nuh, berkata kepada mereka.” Ia berkata: “Disebut ‘saudara mereka’ karena ia berasal dari kalangan mereka. Ini sebagaimana ungkapan orang Arab: ‘Wahai saudara Bani Tamim,’ yang mereka maksudkan adalah: ‘Wahai salah seorang dari mereka.’ Di antaranya adalah bait dalam al-Hamasah,” lalu ia menyebutkannya.

واستشهد به أبو حيان على معنى العشيرة؛ عند قوله تعالى: {ولو كانوا آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم}، فقال2: «لأن بها التناصر، وبهم المقاتلة والتغلب والتسرع إلى ما دعوا إليه، كما قال»، ثم ذكره.

Abu Hayyan menjadikannya sebagai syahid bagi makna ‘asyirah ketika membahas firman Allah Ta‘ala: “Walaupun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau keluarga besar mereka.” Ia berkata: “Karena dengan merekalah terjadi saling menolong, dan bersama mereka berlangsung peperangan, usaha mengalahkan lawan, serta bersegera memenuhi seruan yang diarahkan kepada mereka, sebagaimana dikatakan oleh penyair,” lalu ia menyebut bait tersebut.

واستشهد به الآلوسي على أن نفي المضارع يفيد نفي العادة؛ وذكره عند قوله تعالى: {لا يستأذنك الذين يؤمنون بالله واليوم الآخر}، قال3: «ونفي العادة مستفاد من نفي الفعل المستقبل الدالّ على الاستمرار، نحو فلان يقري الضيف ويحمي الحريم، فالكلام محمول على الاستمرار…».

Al-Alusi menjadikan bait ini sebagai syahid bahwa penafian fi‘il mudhari‘ dapat menunjukkan penafian kebiasaan. Ia menyebutkannya ketika membahas firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan meminta izin kepadamu.” Ia berkata: “Penafian kebiasaan dipahami dari penafian perbuatan masa mendatang yang menunjukkan kesinambungan, seperti ungkapan: ‘Fulan memuliakan tamu dan melindungi kehormatan.’ Maka ungkapan tersebut dipahami sebagai menunjukkan kesinambungan…”

وفي البيت شواهد صريحة أخرى؛ منها:

Dalam bait tersebut juga terdapat syahid–syahid lain yang jelas, di antaranya:

كلمة (يسأل) في مثل قوله تعالى: {يسألونك عن الأهلة}، {لا يسألون الناس إلحافًا}.

Kata yas’alu, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit,” dan “Mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak.”

كلمة (برهان) في مثل قوله تعالى: {قل هاتوا برهانكم}، {قد جاءكم برهان من ربكم}.

Kata burhan, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Katakanlah: Datangkanlah bukti kalian,” dan “Sungguh telah datang kepada kalian suatu bukti dari Tuhan kalian.”

* (البيت الخامس):

* (Bait Kelima):

لكنَّ قَوْمي وإنْ كانوا ذَوِي عَدَدٍ

Akan tetapi kaumku, meskipun mereka berjumlah banyak,

لَيْسُوا مِنَ الشـرِّ في شـيءٍ وإنْ هانَا

tidak memiliki bagian sedikit pun dari keburukan, meskipun keburukan itu ringan.

قوله: (ليسوا من الشر) أي ليسوا من أهله؛ فهم بريئون منه؛ ونظير ذلك قوله تعالى: {ومن يفعل ذلك فليس من الله في شيء}؛ أي فقد برئ من الله وبرئ الله منه، ويقرب منه قوله: {فمن شرب منه فليس مني}.

Ungkapan penyair: “Mereka bukan dari keburukan” bermakna: mereka bukan termasuk golongan pelakunya, sehingga mereka terbebas darinya. Yang serupa dengan itu adalah firman Allah Ta‘ala: “Barangsiapa melakukan hal itu, maka ia tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan Allah,” yakni ia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya. Yang mendekati makna ini adalah firman-Nya: “Barangsiapa meminum darinya, maka ia bukan termasuk golonganku.”

وقد استشهد ابن عاشور بهذا البيت على أن كثرة العدد ممدوحة عند العرب؛ في مثل قول الشاعر: (وإن كانوا ذوي عدد).

Ibnu ‘Asyur menjadikan bait ini sebagai syahid bahwa banyaknya jumlah merupakan sesuatu yang dipuji di kalangan bangsa Arab, sebagaimana perkataan penyair: “Meskipun mereka berjumlah banyak.”

وذكر على ذلك شواهد أخرى من كلام العرب4.

Ia juga menyebutkan syahid–syahid lain dari perkataan bangsa Arab mengenai hal tersebut.

* (البيت السادس):

* (Bait Keenam):

يَجْزُون مِن ظُلمِ أهلِ الظلمِ مَغفِرةً

Mereka membalas kezhaliman orang-orang zhalim dengan ampunan,

ومِنْ إساءةِ أهلِ السُّوءِ إحسانَا

dan membalas keburukan orang-orang jahat dengan kebaikan.

استعمال (من) في هذا البيت معناه البدل والعوض؛ فهو نظير قوله تعالى: {أرضيتم بالحياة الدنيا من الآخرة}؛ أي بدلًا من الآخرة5.

Penggunaan kata min dalam bait ini bermakna pengganti dan imbalan. Hal itu serupa dengan firman Allah Ta‘ala: “Apakah kalian merasa puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti akhirat?” Artinya: sebagai pengganti akhirat.

ومن المعلوم أن الشاعر ساق هذا البيت على سبيل الذم؛ لأنَّ المقصود العجز6.

Telah diketahui bahwa penyair mengemukakan bait ini dalam konteks celaan, karena yang dimaksud adalah kelemahan dan ketidakmampuan.

لكن أبا حيان استشهد به على سبيل المدح؛ وذكره عند قوله تعالى: {وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلامًا}، فقال7: «وبالجملة لا يكافئون الشر بالشر كما قال الشاعر» ثم ذكره.

Namun, Abu Hayyan menjadikannya sebagai syahid dalam konteks pujian. Ia menyebutkannya ketika menafsirkan firman Allah Ta‘ala: “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” Ia berkata: “Secara keseluruhan, mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, sebagaimana dikatakan oleh penyair,” kemudian ia menyebutkan bait tersebut.

وفي البيت شواهد أخرى صريحة؛ منها:

Dalam bait tersebut terdapat pula syahid–syahid lain yang jelas, di antaranya:

كلمة (ظلم) في مثل قوله تعالى: {لا ظلم اليوم}، {ولم يلبسوا إيمانهم بظلم}.

Kata zhulm, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Tidak ada kezhaliman pada hari ini,” dan “Mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman.”

كلمة (مغفرة) في مثل قوله تعالى: {قول معروف ومغفرة}، {وسارعوا إلى مغفرة}.

Kata maghfirah, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Perkataan yang baik dan ampunan,” dan “Bersegeralah kalian menuju ampunan.”

كلمة (سوء) في مثل قوله تعالى: {يسومونكم سوء العذاب}، {لا يحب الله الجهر بالسوء}.

Kata su’, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Mereka menimpakan kepada kalian siksaan yang buruk,” dan “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan secara terang-terangan.”

كلمة (إحسان) في مثل قوله تعالى: {إن الله يأمر بالعدل والإحسان}، {وبالوالدين إحسانا}.

Kata ihsan, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan ihsan,” dan “Dan berbuat ihsan kepada kedua orang tua.”

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. في: الكشاف (3/ 323)، وعنه: القرطبي (13/ 119)، والبحر المحيط (8/ 175).

    Dalam al-Kasysyaf (3/323), dan dinukil darinya oleh al-Qurthubi (13/119) serta al-Bahr al-Muhith (8/175).

  2. في: البحر المحيط (10/ 131)، وينظر: الدر المصون (10/ 275).

    Dalam al-Bahr al-Muhith (10/131). Lihat pula: ad-Durr al-Mashun (10/275).

  3. في: روح المعاني (5/ 301).

    Dalam Ruh al-Ma‘ani (5/301).

  4. في: التحرير والتنوير (7/ 62).

    Dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (7/62).

  5. ينظر: اللباب للعكبري (1/ 354)، وشرح التسهيل لابن مالك (3/ 134)، والجنى الداني (ص: 310)، وأوضح المسالك (3/ 23)، ومغني اللبيب (4/ 146).

    Lihat: al-Lubab karya al-‘Ukbari (1/354), Syarh at-Tashil karya Ibnu Malik (3/134), al-Jana ad-Dani, hlm. 310, Audhah al-Masalik (3/23), dan Mughni al-Labib (4/146).

  6. ينظر: حاشية الشهاب علي البيضاوي (3/ 305)، وأيضًا (7/ 373).

    Lihat: Hasyiyah asy-Syihab ‘ala al-Baidhawi (3/305), juga (7/373).

  7. في: البحر المحيط (6/ 381)، وينظر: روح المعاني (7/ 135).

    Dalam al-Bahr al-Muhith (6/381). Lihat pula: Ruh al-Ma‘ani (7/135).



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.