التدبُّر، والتحرُّر من أَسْر اللطائف القرآنية!
Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi [Seri 1]
Penulis : Muhammad Mushthafa ‘Abdul Majid
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran
استنباط لطائف القرآن وفوائده داخلٌ إجمالًا في التدبُّر، وإنما الإشكال في حصر التصوُّر عن التدبُّر في هذا الأمر، فما هو تدبُّر القرآن الكريم المأمورُ به، واللازمُ لكلِّ أحد؟ وهل لا يُعَدُّ المرء متدبرًا إلا إذا تمكَّن من الوقوف على اللطائف والمعاني الدقيقة للآيات؟.. أسئلة تُعنى بمناقشتها هذه المقالة.
Menggali makna-makna halus dan berbagai faedah Al-Qur’an secara umum termasuk bagian dari tadabbur. Namun, persoalannya terletak pada pembatasan pemahaman tentang tadabbur hanya pada hal tersebut. Lalu, apakah sebenarnya tadabbur Al-Qur’an yang diperintahkan dan menjadi tuntutan bagi setiap orang? Apakah seseorang tidak dianggap melakukan tadabbur kecuali jika ia mampu menemukan makna-makna halus dan makna-makna mendalam dari ayat-ayat Al-Qur’an? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dibahas dalam artikel ini.
لقد أنعم اللهُ -عز وجلَّ- علينا في هذا الزمان بهذه الصحوة المباركة في تدبُّر القرآن الكريم، وهذه النهضة في ميادينه على مستوى التأليف والتدريس والتطبيق، بل قد نشأت بعض المؤسسات العلمية والتربوية أصالةً للعناية بهذا الغرض الشريف، وصار موضوع تدبُّر القرآن حاضرًا في الحلقات القرآنية بعد أن غاب عنها طويلًا.
Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla telah menganugerahkan kepada kita pada masa ini sebuah kebangkitan yang penuh berkah dalam hal tadabbur Al-Qur’an, serta perkembangan dalam berbagai bidangnya, baik dalam penulisan, pengajaran, maupun penerapan. Bahkan, telah berdiri sejumlah lembaga ilmiah dan pendidikan yang sejak awal memang dibentuk untuk memberikan perhatian kepada tujuan mulia ini. Tema tadabbur Al-Qur’an pun kembali hadir dalam halaqah-halaqah Al-Qur’an setelah sekian lama menghilang darinya.
تدبُّر القرآن.. تلك الكلمة الجميلة التي حجبتها سُحُب الغفلة، وانصرف الناسُ عنها حتى كادت آثارُها تنمحي في نفوسهم، بينما كانت علاقةُ بعضهم بالقرآن مقتصرةً على حفظ ألفاظه، وإتقان أحكام تجويده، وعلاقة آخرين مقتصرةً على قراءة حروفه هذًّا كهذِّ الشعر، لا يَتجاوزُ الحروفَ إلى ما وراءها من الهُدى والنور الذي وصف اللهُ -عز وجلَّ- به كتابَه الكريم.
Tadabbur Al-Qur’an… sebuah ungkapan indah yang pernah tertutup oleh awan kelalaian. Manusia berpaling darinya hingga jejak-jejaknya hampir terhapus dari jiwa mereka. Sementara itu, hubungan sebagian orang dengan Al-Qur’an hanya terbatas pada menghafalkan lafaz-lafaznya dan menyempurnakan hukum-hukum tajwidnya. Adapun sebagian yang lain, hubungannya hanya terbatas pada membaca huruf-hurufnya dengan cepat seperti membaca syair, tanpa melampaui huruf-huruf tersebut menuju petunjuk dan cahaya yang dengannya Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan Kitab-Nya yang mulia.
ثم كانت هذه العودة لتنفضَ الترابَ عن هذا الكنز المغفول عنه، ولتنقشعَ تلك السحب، ولتَرفعَ الغشاوةَ عن أعينٍ طالما حُرمتْ مِن الاهتداء بآيات القرآن والانفعال والتأثّر بها،
Kemudian datanglah kebangkitan kembali ini untuk menyingkirkan debu dari harta karun yang selama ini terabaikan, agar awan-awan itu tersingkap dan penutup yang selama ini menghalangi mata dari memperoleh petunjuk melalui ayat-ayat Al-Qur’an, serta dari tersentuh dan terpengaruh olehnya, dapat terangkat.
وكثُرت المحاضرات والدورات والمؤلفات في مجال تدبُّر القرآن، ثمَّ خرجت مِن ضيق صالات الدرس ومدرجات الجامعات إلى رحابة الأمة الواسعة؛ متخصِّصيها وغير متخصِّصيها، كبيرها وصغيرها، عالمها وجاهلها.
Ceramah, pelatihan, dan karya tulis dalam bidang tadabbur Al-Qur’an pun semakin banyak. Selanjutnya, pembahasan ini keluar dari sempitnya ruang-ruang kelas dan aula-aula universitas menuju keluasan umat: baik kalangan spesialis maupun nonspesialis, orang tua maupun muda, orang berilmu maupun yang belum berilmu.
وإنَّ عودة الأمة وانبعاثها إلى مجدها من جديد لن يكون إلا من خلال ذلك الحَبْل الذي جعل اللهُ -عز وجلَّ- طرفَه بيده وطرفَه بأيدينا، وهو هذا القرآن العظيم؛
Sesungguhnya kembalinya umat dan kebangkitannya menuju kemuliaannya sekali lagi tidak akan terwujud kecuali melalui tali yang Allah ‘Azza wa Jalla jadikan satu ujungnya berada dalam kekuasaan-Nya dan ujung lainnya berada di tangan kita, yaitu Al-Qur’an yang agung ini.
لذا فما زلنا في حاجة إلى مزيدِ توعيةٍ ونشرٍ لثقافة تدبُّر القرآن؛ فإن الصحوة وإن كانت ملحوظةً للمتابع بصورة واضحة، إلا أنها ما زالت في أولى خطواتها، وإنما أينعت ثمارُ خطواتِها الأولى ببركة هذا الكتاب المجيد الذي جعله الله ُمباركًا، ولعلَّ في هذه الثمار العاجلة مزيدَ ترغيبٍ وحثٍّ للانطلاق إلى مزيدٍ مِن بثِّ الوعي بشأن تدبر القرآن الكريم.
Karena itu, kita masih membutuhkan lebih banyak upaya penyadaran dan penyebaran budaya tadabbur Al-Qur’an. Meskipun kebangkitan ini telah tampak dengan jelas bagi siapa pun yang mengamatinya, ia masih berada pada langkah-langkah awal. Buah dari langkah-langkah awal itu telah mulai matang berkat keberkahan Kitab yang mulia ini, yang Allah jadikan penuh berkah. Mudah-mudahan buah-buah yang cepat tampak tersebut semakin mendorong dan memotivasi kita untuk lebih luas lagi menyebarkan kesadaran tentang tadabbur Al-Qur’an.
إشكالية الانحصار في اللطائف القرآنية:
Problematika Pembatasan Tadabbur pada Makna-Makna Halus Al-Qur’an
والانبعاثُ مِن تحت الركام قد يعتريه بعضُ الزلل، ويعتَوِرُه بعضُ النقص، وقد تَعرِض له أعراضٌ تحتاج إلى تقويمٍ وتوجيهٍ وتصحيحٍ، فينبغي إعادةُ النظر والتقويم لما يُطرَح في هذا الباب دوريًّا لتصحيح مسارِه، وتوجيهه التوجيه الأمثل.
Kebangkitan dari bawah tumpukan reruntuhan terkadang dapat disertai sejumlah kekeliruan dan kekurangan. Bisa pula muncul berbagai gejala yang membutuhkan evaluasi, pengarahan, dan perbaikan. Karena itu, apa yang disampaikan dalam bidang ini perlu ditinjau dan dievaluasi secara berkala untuk meluruskan jalannya serta mengarahkannya secara optimal.
وإن مما عَرَض لمسيرة التدبُّر: الانحصار في اللطائف القرآنية كثمرة من ثمرات التدبر، ولا يلزم أن يكون ذلك تصريحًا؛ بل إنّ الممارسات التنفيذية والأمثلة المضروبة والتطبيقات العلمية تكشف وجهَ هذا الانحصار، والذي تتجلَّى مظاهرُه في عدة أمور، منها:
Di antara persoalan yang muncul dalam perjalanan tadabbur adalah kecenderungan membatasinya pada penemuan makna-makna halus Al-Qur’an sebagai salah satu buah tadabbur. Pembatasan ini tidak harus dinyatakan secara eksplisit. Justru praktik-praktik pelaksanaan, contoh-contoh yang diberikan, dan berbagai penerapan ilmiah memperlihatkan adanya kecenderungan tersebut. Gejalanya tampak dalam beberapa hal berikut:
– أن إطلاق كلمة التدبُّر صارت تنصرف عند كثيرٍ من الناس إلى ذكر هذه اللطائف القرآنية دون غيرها.
– Ketika kata tadabbur disebutkan, banyak orang langsung memahaminya sebagai kegiatan menyebutkan makna-makna halus Al-Qur’an tersebut, dan bukan yang lainnya.
– وكذلك فإنَّ كثيرًا من الكتب المؤلفة في تدبُّر القرآن ركَّزت على أن يكون ناتجها لدى القارئ استنباطَ المعاني الخفية، واستخراجَ اللطائف الدقيقة.
– Demikian pula, banyak buku yang ditulis tentang tadabbur Al-Qur’an berfokus agar hasil yang diperoleh pembacanya adalah kemampuan menggali makna-makna tersembunyi dan menemukan makna-makna halus yang rinci.
– ثم إنّ كثيرًا مِن الدورات التدريبية التي تُعقد في المؤسسات العلمية والتربوية في العالم الإسلامي تكاد تنحصر مجالات تطبيقها في الورش العملية على هذا الأمر.
– Selain itu, banyak pelatihan yang diselenggarakan di lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan di dunia Islam hampir membatasi bentuk penerapannya dalam lokakarya praktis hanya pada persoalan ini.
– وصار المريدُ لتدبُّر القرآن لا يَعُدُّ نفسَه متدبرًا إلا إذا أخرج مثل هذه اللطائف والفوائد، فإذا عجز عن ذلك ولم يُحسِنه -ولا يُحْسِنُ هذا كلُّ أحد- عدَّ نفسه غيرَ متدبِّرٍ، واتَّهم نفسه بكلِّ ما يُذكر من آفاتٍ في عوائق التدبُّر.
– Orang yang ingin melakukan tadabbur Al-Qur’an akhirnya tidak menganggap dirinya sebagai orang yang bertadabbur kecuali jika ia mampu menghasilkan makna-makna halus dan berbagai faedah seperti itu. Jika ia tidak mampu melakukannya atau tidak menguasainya — dan memang tidak semua orang mampu melakukannya — ia pun menganggap dirinya tidak bertadabbur, lalu menuduh dirinya memiliki berbagai penyakit yang biasa disebut sebagai penghalang tadabbur.
ولا شكَّ أنّ استنباط اللطائف والفوائد داخلٌ إجمالًا في التدبُّر، وإنما الإشكال في حصر التصوُّر عن التدبُّر في هذا الأمر؛ لذلك نريد أن نقف وقفةً مع هذه القضية لنُجيب عن هذه الأسئلة: هل هذا هو تدبُّر القرآن الكريم؟ وهل هذا هو المأمورُ به، اللازمُ لكلِّ أحد؟ وهل لا يُعَدُّ المرء متدبرًا إلا إذا تمكَّن من الوقوف على هذه المعاني الدقيقة؟
Tidak diragukan bahwa menggali makna-makna halus dan berbagai faedah secara umum termasuk dalam tadabbur. Namun, persoalannya adalah ketika pemahaman tentang tadabbur dibatasi hanya pada perkara ini. Karena itu, kita perlu berhenti sejenak pada persoalan ini untuk menjawab beberapa pertanyaan: Apakah inilah yang dimaksud dengan tadabbur Al-Qur’an? Apakah inilah yang diperintahkan dan menjadi tuntutan bagi setiap orang? Apakah seseorang tidak dianggap melakukan tadabbur kecuali jika ia mampu menemukan makna-makna yang mendalam tersebut?
ولكن قبل أن نُدْلف إلى الإجابة عن هذه الأسئلة، فإننا في حاجة إلى وقفة مع توصيفٍ لهذه اللطائف القرآنية، وإنزالٍ لها في منزلِها العلميِّ من علوم القرآن الكريم.
Namun, sebelum masuk kepada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu terlebih dahulu berhenti untuk memberikan deskripsi yang tepat terhadap makna-makna halus Al-Qur’an ini dan menempatkannya pada kedudukan ilmiahnya dalam kajian Ulumul Quran.
Leave a Reply