Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi [Seri 2]



التدبُّر، والتحرُّر من أَسْر اللطائف القرآنية!

Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi [Seri 2]

Penulis : Muhammad Mushthafa ‘Abdul Majid

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran

توصيف اللطائف القرآنية الشائعة في ممارسات التدبر:

Memahami Hakikat Makna-Makna Halus Al-Qur’an yang Umum dalam Praktik Tadabbur

الناظرُ في نماذج اللطائف القرآنية التي تُنشر في الكتب تحت هذا العنوان، وفي تطبيقات دورات تدبُّر القرآن، وكذلك على مواقع التواصل الاجتماعي= يجد أن الغالبَ عليها ذكرُ المعاني الخفية في الآيات، وتتنوَّع هذه المعاني في علاقاتها بمعنى الآية، إلا أنّ الجامعَ لها هو الخفاء، لا المعنى الظاهر للآية، ولنضرب مثالًا لذلك:

Orang yang memperhatikan contoh-contoh makna halus Al-Qur’an yang diterbitkan dalam buku-buku dengan judul semacam ini, dalam praktik berbagai pelatihan tadabbur Al-Qur’an, serta di media sosial, akan mendapati bahwa sebagian besarnya berupa penyebutan makna-makna tersembunyi dalam ayat. Hubungan makna-makna tersebut dengan makna ayat memang beragam, namun titik temu semuanya adalah bahwa makna tersebut bersifat tersembunyi, bukan makna zahir ayat. Mari kita ambil sebuah contoh:

في قوله تعالى: {وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ} [يوسف: 54].

Dalam firman Allah Ta‘ala: “Dan raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku, agar aku memilihnya sebagai orang yang khusus untuk diriku.’ Maka ketika raja telah berbicara dengannya, ia berkata, ‘Sesungguhnya pada hari ini engkau mempunyai kedudukan yang tinggi dan dipercaya di sisi kami.’” [Yusuf: 54].

– إن قال قائل: (يقول تعالى إخبارًا عن الملك حين تحقَّق براءةَ يوسف -عليه السلام- ونزاهةَ عِرضه مما نُسب إليه، قال: {ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي} أي: أجعله من أخصَّائي وأهل مشورتي، {فَلَمَّا كَلَّمَهُ} أي: خاطبه الملكُ وعرفه، ورأى فضله وبراعته، وعلم ما هو عليه من خُلُق وخَلْق وكمال= قال له الملك: {إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ}، أي: إنك عندنا قد بَقِيتَ ذا مكانة وأمانة)1.

– Jika seseorang mengatakan: “Allah Ta‘ala mengabarkan tentang sang raja ketika ia telah memastikan terbebasnya Yusuf ‘alaihissalam dari tuduhan dan sucinya kehormatannya dari apa yang dinisbatkan kepadanya. Raja berkata: ‘Bawalah dia kepadaku, agar aku memilihnya sebagai orang yang khusus untuk diriku,’ yakni aku akan menjadikannya termasuk orang-orang dekatku dan orang-orang yang menjadi tempat musyawarahku. ‘Maka ketika raja telah berbicara dengannya,’ yakni raja berbicara kepadanya, mengenalnya, melihat keutamaan dan kecakapannya, serta mengetahui akhlak, rupa, dan kesempurnaannya, raja pun berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya pada hari ini engkau mempunyai kedudukan yang tinggi dan dipercaya di sisi kami,’ yakni engkau telah memiliki kedudukan dan kepercayaan di sisi kami.”

فهذا لا يُعدُّ تدبُّرًا على المعنى الشائع للتدبر؛ بل هو بيانٌ للمعنى الظاهر للآيات، فهو خارج عن المراد من ممارسات تدبُّر القرآن الكريم، وإن كان هو الأساس الذي يُبنى عليه.

Penjelasan seperti ini, menurut pengertian tadabbur yang umum dipakai, tidak dianggap sebagai tadabbur. Ia hanyalah penjelasan terhadap makna zahir ayat, sehingga berada di luar apa yang dimaksud dalam praktik-praktik tadabbur Al-Qur’an, meskipun justru makna zahir inilah dasar yang menjadi pijakan untuk langkah selanjutnya.

– أما إن قال قائل: (لما أراد اللهُ -عز وجلَّ- إظهارَ فضل يوسف -عليه السلام- وشرفه على أهل زمانه كلِّهم؛ أظهر للمَلِك وأهلِ مصر مِن علمِه بتأويل رؤياه ما عجز عنه علماءُ التعبير، فحينئذٍ قدَّمه ومكَّنه وَسلَّم إليه خزائنَ الأرض، وكان قبل ذلك قد حبسه على ما رآه من حُسن وجهه وجمال صورته،

– Namun, jika seseorang mengatakan: “Ketika Allah ‘Azza wa Jalla hendak menampakkan keutamaan Yusuf ‘alaihissalam dan kemuliaannya atas seluruh orang pada zamannya, Allah menampakkan kepada raja dan penduduk Mesir keluasan ilmunya dalam menakwilkan mimpi raja, sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh para ahli takwil mimpi. Ketika itu, raja pun mengedepankannya, memberinya kedudukan, dan menyerahkan kepadanya perbendaharaan negeri. Padahal sebelumnya ia telah memenjarakannya karena apa yang dilihat dari ketampanan wajah dan keindahan rupanya.

ولمَّا ظهر لَهُ حُسنُ صورة علمه وجمالُ معرفته أطلقه من الحبس ومكَّنه فِي الأرض؛ فَدلَّ على أن صورةَ العلمِ عند بني آدم أبهى وأحسن مِن الصورة الحسيّة، ولو كانت أجملَ صورة)2.

Ketika tampak kepadanya keindahan rupa ilmunya dan keelokan pengetahuannya, ia pun membebaskannya dari penjara dan memberinya kedudukan di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa keindahan ilmu dalam pandangan manusia lebih cemerlang dan lebih indah daripada keindahan rupa inderawi, sekalipun rupa tersebut merupakan rupa yang paling indah.”

فمعنى تفضيل صورة العلم عند بني آدم على الصورة الحسيَّة= داخلٌ في التدبُّر على المعنى الشائع، حيث أنّ فيه تجاوزًا للمعنى الظاهر للآية إلى معنى خفيٍّ مِن ورائه.

Makna tentang keutamaan “rupa ilmu” dalam pandangan manusia dibandingkan rupa fisik termasuk dalam tadabbur menurut pengertian yang lazim digunakan, sebab di dalamnya terdapat upaya melampaui makna zahir ayat menuju suatu makna tersembunyi di baliknya.

ثمَّ إنَّ كثيرًا ممَّن كتب في تدبر القرآن يجعله قسيمًا للتفسير، وربما صَنَّف في ضوء ذلك ما يُذكر من الفوائد القرآنية إلى تفسير وتدبُّر، وهذا أبين في التوضيح عن المراد، وإن اختلفت بعض التطبيقات العملية عن ذلك، وأدرجت ما هو بيان لمعنى الآية تحت عنوان التدبر.

Selain itu, banyak orang yang menulis tentang tadabbur Al-Qur’an menjadikannya sebagai sesuatu yang berdampingan dengan tafsir. Bahkan, berdasarkan pembagian tersebut, berbagai faedah Al-Qur’an terkadang diklasifikasikan menjadi “tafsir” dan “tadabbur”. Pembagian ini semakin memperjelas maksud yang sedang dibicarakan, walaupun dalam beberapa praktik terdapat perbedaan, sehingga penjelasan terhadap makna ayat pun terkadang dimasukkan ke dalam kategori tadabbur.

وهذا المعنى الخفيُّ ينزل عليه اصطلاحُ (الاستنباط) عند جملةٍ من أهل العلم، كما نسبه النووي -رحمه الله- (ت 676هـ) إلى العلماء في قوله: «قال العلماء: الاستنباط استخراج ما خَفِي المراد به من اللفظ»3، وبقريب مِن هذا عرَّفه الجرجاني (ت 816هـ) في التعريفات بقوله: «استخراج المعاني من النصوص، بفَرْطِ الذِّهن وقُوَّة القريحة»4.

Makna tersembunyi semacam ini termasuk dalam istilah istinbath menurut sejumlah ulama. An-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menisbatkan pengertian ini kepada para ulama ketika berkata: “Para ulama mengatakan: istinbath adalah mengeluarkan makna yang maksudnya tersembunyi di dalam suatu lafaz.” Dengan pengertian yang hampir sama, al-Jurjani (w. 816 H) mendefinisikannya dalam at-Ta‘rifat: “Mengeluarkan berbagai makna dari teks melalui ketajaman pikiran dan kuatnya kemampuan memahami.”

وكان معنَيَا الخفاء وإعمال الذهن حاضرَينِ في كثيرٍ من تعريفات أهل العلم ممَّن قصد إلى تعريف الاستنباط مِن المفسرين وغيرهم، ويُمكن مراجعة مبحث: تعريف الاستنباط من القرآن وعلاقته بالتفسير، من كتاب: (منهج الاستنباط من القرآن الكريم)؛ فقد استعرض عددًا من التعريفات للاستنباط، وقام بتحليلها وذِكر الملاحظات عليها5.

Dua unsur, yaitu ketersembunyian makna dan pengerahan pikiran, juga hadir dalam banyak definisi istinbath yang dikemukakan para ulama, baik dari kalangan mufassir maupun selain mereka. Untuk pembahasan lebih lanjut dapat dirujuk bagian “Definisi Istinbath dari Al-Qur’an dan Hubungannya dengan Tafsir” dalam buku Manhaj al-Istinbath min al-Qur’an al-Karim. Di sana dipaparkan sejumlah definisi istinbath, kemudian dianalisis dan diberikan berbagai catatan terhadapnya.

إذن؛ فالتوصيف الأقرب لأكثر هذه اللطائف القرآنية التي تتوجَّه إليها أنظار المعتنين بالتدبر هو الاستنباط، ويُمكن القول من خلال ذلك أن طريق الوصول إلى المعنى المستنبط هو التدبُّر، أي أن المعاني المستنبطة هي ثمرة من ثمراته.

Dengan demikian, deskripsi yang paling dekat bagi sebagian besar makna halus Al-Qur’an yang menjadi perhatian orang-orang yang menekuni tadabbur adalah istinbath. Dari sini dapat dikatakan bahwa jalan untuk sampai kepada makna yang diistinbath adalah tadabbur; dengan kata lain, makna-makna hasil istinbath merupakan salah satu buah dari tadabbur.

ولا شكَّ أنّ هذا العمل من أشرف الأعمال وأجلِّ القربات، وقد قال ابن القيم -رحمه الله- (ت 751هـ): «قد مدح اللهُ تعالى أهلَ الاستنباط في كتابه، وأخبر أنهم أهل العلم»6،

Tidak diragukan bahwa pekerjaan ini termasuk amal yang paling mulia dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling agung. Ibnu al-Qayyim rahimahullah (w. 751 H) berkata: “Allah Ta‘ala telah memuji orang-orang yang melakukan istinbath dalam Kitab-Nya dan mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu.”

إلا أنَّ له ضوابطَ وشروطًا ينبغي التنبُّه لها، وإلا فقد كان الاستنباط الخاطئ بذرةَ ضلال كثير من أهل البدع والأهواء؛ إما جهلًا بتفسير الآية ابتداءً، أو قلّة العلم بلغة العرب وأساليبها في الخطاب، أو غفلة عن طرق الاستنباط الصحيح، أو غير ذلك من الأسباب، فلا بدَّ من التنبُّه للضوابط العاصمة من الزلل في الاستنباط، والتأكيد عليها عند تناول هذا الباب.

Namun, istinbath memiliki kaidah dan syarat yang harus diperhatikan. Jika tidak, istinbath yang keliru justru dapat menjadi benih kesesatan banyak pengikut bid‘ah dan hawa nafsu; baik karena sejak awal tidak mengetahui tafsir ayat, kurang memahami bahasa Arab dan gaya-gaya tuturannya, lalai terhadap cara-cara istinbath yang benar, maupun karena sebab-sebab lainnya. Karena itu, kaidah-kaidah yang menjaga seseorang dari kekeliruan dalam istinbath harus benar-benar diperhatikan dan ditekankan ketika membahas persoalan ini.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. من كلام ابن كثير في تفسيره (8 /51) ط. عالم الكتب.

    Diambil dari perkataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya (8/51), cet. ‘Alam al-Kutub.

  2. بتصرُّف، من كلام ابن القيم في مفتاح دار السعادة (1 /229-230)، ط. دار ابن عفَّان.

    Dengan penyesuaian, dari perkataan Ibnu al-Qayyim dalam Miftah Dar as-Sa‘adah (1/229-230), cet. Dar Ibnu ‘Affan.

  3. تهذيب الأسماء واللغات (4 /158)، ط. دار الكتب العلمية.

    Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat (4/158), cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

  4. التعريفات (ص: 22)، ط. دار الكتب العلمية.

    At-Ta‘rifat, hlm. 22, cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

  5. يُنظر: منهج الاستنباط من القرآن الكريم، د. فهد بن مبارك الوهبي (ص: 29-60)، ط. مركز الدراسات والمعلومات القرآنية بمعهد الإمام الشاطبي.

    Lihat: Fahd bin Mubarak al-Wahbi, Manhaj al-Istinbath min al-Qur’an al-Karim, hlm. 29-60, cet. Markaz ad-Dirasat wa al-Ma‘lumat al-Qur’aniyyah, Ma‘had al-Imam asy-Syathibi.

  6. إعلام الموقعين (2 /397)، ط. دار ابن الجوزي، ت. مشهور آل سلمان.

    I‘lam al-Muwaqqi‘in (2/397), cet. Dar Ibnu al-Jauzi, tahqiq Masyhur Al Salman.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.