Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi [Seri 3]



التدبُّر، والتحرُّر من أَسْر اللطائف القرآنية!

Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi [Seri 3]

Penulis : Muhammad Mushthafa ‘Abdul Majid

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tadabbur al-Quran: Tidak Terbelenggu pada Pencarian Makna-makna Tersembunyi ini masuk dalam Kategori Ulumul Quran

التدبُّر في القرآن الكريم:

Tadabbur dalam Al-Qur’an

ونعود على بدءٍ، فنسأل: هل تقتصر ثمرات التدبر على استنباط المعاني الخفية واللطائف القرآنية؟!

Kita kembali kepada pertanyaan awal: Apakah buah tadabbur hanya terbatas pada istinbath makna-makna tersembunyi dan makna-makna halus Al-Qur’an?

سنحتاجُ هنا إلى أن نرجع إلى التوجيه الإلهي إلى التدبُّر، والنظر في سياقاته التي ورد فيها في القرآن الكريم، والتي ينبغي أن تُمثِّل المنطلقَ الأولَ في فهم مراد الله تعالى من ذلك، ومن خلالها تُدرَك الثمرات المرجوَّة مِن المتدبِّر الممتثِل لهذا التوجيه الإلهي.

Di sini kita perlu kembali kepada arahan Allah tentang tadabbur dan memperhatikan konteks-konteks kemunculannya dalam Al-Qur’an. Konteks-konteks itulah yang semestinya menjadi titik tolak pertama dalam memahami apa yang Allah Ta‘ala kehendaki dari tadabbur. Melaluinya pula dapat diketahui buah-buah yang diharapkan dari orang yang bertadabbur dan menaati arahan ilahi tersebut.

ورد التدبُّر في القرآن الكريم بصيغتي: (يتدبرون) و(يَدَّبَرُوا)، وكلاهما ورد في موضعين1، وقُرئت الثانية في أحد موضعيها: (تَدَبَّروا)، فلنقف مع سياق المواضع الأربعة، مع تسليط الضوء على بعض المراد منها مما له تعلُّق بموضوعنا:

Kata tadabbur dalam Al-Qur’an datang dalam dua bentuk: yatadabbarun dan yaddabbaru, dan masing-masing muncul pada dua tempat. Bentuk kedua pada salah satu tempat juga dibaca tadabbaru. Mari kita perhatikan konteks empat tempat tersebut, dengan menyoroti sebagian maksudnya yang berkaitan dengan pembahasan kita.

1. الموضع الأول: قوله تعالى: {أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} [النساء: 82].

1. Tempat pertama adalah firman Allah Ta‘ala: “Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” [An-Nisa: 82].

الناظرُ في سياق الآيات قبلها يجد أنه في المنافقين، والآية قبلها: {وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا} [النساء :81]، وهي في المنافقين باتفاق المفسرين، كما ذكر ذلك ابن عطية -رحمه الله- (ت 542هـ)2.

Orang yang memperhatikan konteks ayat-ayat sebelumnya akan mendapati bahwa pembahasannya mengenai orang-orang munafik. Ayat sebelumnya berbunyi: “Dan mereka berkata, ‘Taat.’ Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebagian dari mereka mengatur pada malam hari sesuatu yang berbeda dari apa yang engkau katakan. Allah mencatat apa yang mereka rencanakan pada malam hari. Maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung.” [An-Nisa: 81]. Ayat tersebut berkaitan dengan orang-orang munafik berdasarkan kesepakatan para mufassir, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah (w. 542 H).

وفي هذه الآية الكريمة توقيفٌ وتوبيخٌ للمنافقين على عدم تدبر القرآن، وأنهم لو تدبروه لتبيَّن لهم أنه من عند الله -عزَّ وجل-.

Dalam ayat yang mulia ini terdapat teguran dan celaan terhadap orang-orang munafik karena tidak mentadabburi Al-Qur’an. Seandainya mereka mentadabburinya, niscaya akan menjadi jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla.

2. الموضع الثاني: {أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا} [محمد: 24].

2. Tempat kedua adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” [Muhammad: 24].

والناظر في سياق الآيات قبلها يجد أنها في المنافقين أيضًا؛ قوله تعالى: {وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ (20) طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (21) فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (22) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ} [محمد: 20-23].

Orang yang memperhatikan konteks ayat-ayat sebelumnya akan mendapati bahwa pembahasannya juga mengenai orang-orang munafik. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan suatu surah?’ Maka apabila diturunkan suatu surah yang tegas dan di dalamnya disebutkan peperangan, engkau melihat orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Maka yang lebih utama bagi mereka adalah ketaatan dan perkataan yang baik. Apabila perkara itu telah ditetapkan, sekiranya mereka benar kepada Allah, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah sekiranya kalian berkuasa, kalian akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, lalu Dia menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka.” [Muhammad: 20-23].

قال ابن عطية -رحمه الله- (ت 542هـ) في أول تفسير هذه الآيات: «هذا ابتداءُ وصفِ حالِ المؤمنين في جِدّهم في دين الله وحرصهم على ظهوره، وحالِ المنافقين من الكسل والفشل والحرص على فساد دين الله وأهله»3.

Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah (w. 542 H) berkata pada awal penafsiran ayat-ayat ini: “Ini merupakan awal penjelasan tentang keadaan orang-orang beriman dalam kesungguhan mereka terhadap agama Allah dan semangat mereka agar agama itu tampak, serta keadaan orang-orang munafik berupa kemalasan, kelemahan, dan keinginan mereka untuk merusak agama Allah dan para pemeluknya.”

وفي هذه الآية الكريمة توقيفٌ وتوبيخٌ للمنافقين على عدم تدبرهم القرآن كسابقتها، وبيانُ أنَّ الحالَ المقابلة لحال مَن تدبَّر القرآن حالُ مَن أُوصد قلبُه بالأقفال.

Dalam ayat yang mulia ini juga terdapat teguran dan celaan terhadap orang-orang munafik karena tidak mentadabburi Al-Qur’an, sebagaimana pada ayat sebelumnya. Ayat ini juga menjelaskan bahwa keadaan yang berlawanan dengan orang yang mentadabburi Al-Qur’an adalah keadaan orang yang hatinya tertutup oleh berbagai kunci.

3. الموضع الثالث: {أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ} [المؤمنون: 68].

3. Tempat ketiga adalah firman Allah Ta‘ala: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi perkataan itu, ataukah telah datang kepada mereka sesuatu yang belum pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” [Al-Mu’minun: 68].

وسياق الآيات قبلها وبعدها في ذكر الكفار، فقبلها: {قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ تَنْكِصُونَ (66) مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ} [المؤمنون: 66-67]،

Konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya berbicara tentang orang-orang kafir. Sebelumnya Allah berfirman: “Sungguh ayat-ayat-Ku dahulu dibacakan kepada kalian, tetapi kalian berbalik ke belakang, dengan menyombongkan diri terhadapnya dan bercakap-cakap pada malam hari dengan perkataan-perkataan keji.” [Al-Mu’minun: 66-67].

وبعدها: {أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (69) أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ} [المؤمنون: 69-70].

Dan setelahnya: “Ataukah mereka tidak mengenal Rasul mereka sehingga mereka mengingkarinya? Ataukah mereka mengatakan bahwa padanya terdapat kegilaan? Bahkan, ia datang kepada mereka membawa kebenaran, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran.” [Al-Mu’minun: 69-70].

ففي هذه الآية توقيف وتوبيخ للكفار على عدم تدبرهم القول الذي هو القرآن الكريم الذي يتلوه عليهم رسول الله -صلى الله عليه وسـلم-.

Dalam ayat ini terdapat teguran dan celaan kepada orang-orang kafir karena tidak mentadabburi “perkataan” tersebut, yaitu Al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. الموضع الرابع: {كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ} [ص: 29]، هكذا قرأ الجمهور، وقرأ أبو جعفر (ت 130هـ): (لِتَدَبَّرُوا) بالخطاب مع تخفيف الدال4.

4. Tempat keempat adalah firman Allah Ta‘ala: “Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” [Shad: 29]. Demikianlah bacaan mayoritas qurra’. Adapun Abu Ja‘far (w. 130 H) membacanya: litadabbaru, dengan bentuk khithab dan huruf dal yang diringankan.

وهذه الآية عامة لجميع الخلق، والآية قبلها: {أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ} [ص: 28].

Ayat ini bersifat umum bagi seluruh manusia. Ayat sebelumnya adalah firman Allah Ta‘ala: “Apakah Kami akan menjadikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh sama seperti orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Ataukah Kami akan menjadikan orang-orang bertakwa sama seperti orang-orang durhaka?” [Shad: 28].

قال ابن عطية (ت 542هـ): «وظاهرُ هذه الآية يُعطي أنّ التدبّر من أسباب إنزال القرآن، فالترتيل إذن أفضل من الهذِّ؛ إذ التدبّر لا يكون إلا مع الترتيل»5، وفي الآية أيضًا بيانُ مَن ينتفع ويتذكَّر بالقرآن، وهم أولو الألباب.

Ibnu ‘Athiyyah (w. 542 H) berkata: “Makna zahir ayat ini menunjukkan bahwa tadabbur termasuk salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, membaca secara tartil lebih utama daripada membacanya dengan sangat cepat, sebab tadabbur tidak dapat terjadi kecuali bersama tartil.” Dalam ayat ini juga terdapat penjelasan mengenai siapa yang mengambil manfaat dan pelajaran dari Al-Qur’an, yaitu orang-orang yang berakal.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. يُنظر: معجم ألفاظ القرآن الكريم، الصادر عن مجمع اللغة العربية بمصر (1 /392) مادة (دبر).

    Lihat: Mu‘jam Alfazh al-Qur’an al-Karim, terbitan Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah di Mesir (1/392), entri (دبر).

  2. يُنظر: المحرر الوجيز، ابن عطية (2 /610)، ط. وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية – قطر.

    Lihat: Ibnu ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz (2/610), cet. Wizarat al-Awqaf wa asy-Syu’un al-Islamiyyah, Qatar.

  3. المحرر الوجيز، ابن عطية (7 /650).

    Ibnu ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz (7/650).

  4. يُنظر: النشر في القراءات العشر، ابن الجزري (2 /361) ط. المطبعة التجارية الكبرى.

    Lihat: Ibnu al-Jazari, an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr (2/361), cet. al-Mathba‘ah at-Tijariyyah al-Kubra.

  5. المحرر الوجيز، ابن عطية (7 /343).

    Ibnu ‘Athiyyah, al-Muharrar al-Wajiz (7/343).



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.