Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah [33] : Lafaz Kalimah Thayyibah dan Hukum Menambahkan Sesuatu pada Al-Qur’an atau Sunnah



فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٣٣)

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (33)

شهادة أن لا إله إلا الله

Tauhid Uluhiyyah : Lafaz Kalimah Thayyibah dan Hukum Menambahkan Sesuatu pada Al-Qur’an atau Sunnah

الفتوى رقم ١١١١٠

Fatwa Nomor 11110

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tauhid Uluhiyyah : Lafaz Kalimah Thayyibah dan Hukum Menambahkan Sesuatu pada Al-Qur’an atau Sunnah ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia

السؤال:

Pertanyaan:

إن الكلمة الطيبة إحدى الأسس الخمسة التي عليها الإسلام، علمنا الرسول صلى الله عليه وسلم الكلمة المذكورة كما تقولها: (لا إله إلا الله محمد رسول الله) كما علمنا هكذا: (لا إله إلا الله)، وماذا ورد في ذلك في القرآن الكريم وكتب الأحاديث الصحيحة، وإذا كان في كتاب الله فهي أي سورة وما رقم الآية الواردة في ذلك؟ وإذا كان في كتب الحديث المعتمدة فهي أي صفحة وهو أي قسم من أقسام الحديث؟ وهل منحت اللائحة الإسلامية حقوق إضافة أي لفظ أو جملة إلى آية قرآنية أو حديث صحيح ولو كان ذلك حسناً وطيباً؟ وما حكم الشرع في ذلك؟

Sesungguhnya kalimah thayyibah merupakan salah satu dari lima dasar yang di atasnya Islam dibangun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita kalimat tersebut sebagaimana diucapkan: La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, dan juga mengajarkan kepada kita: La ilaha illallah.

Apa yang terdapat mengenai hal tersebut dalam Al-Qur’an Al-Karim dan kitab-kitab hadits shahih? Jika terdapat dalam Kitab Allah, pada surah apa dan berapa nomor ayatnya? Jika terdapat dalam kitab-kitab hadits yang mu‘tabar, di manakah letaknya dan termasuk bagian apa dari hadits?

Apakah syariat Islam memberikan hak untuk menambahkan lafaz atau kalimat apa pun kepada ayat Al-Qur’an atau hadits shahih, sekalipun tambahan tersebut dianggap baik dan bagus? Bagaimana hukum syariat mengenai hal itu?

الإجابــة:

Jawaban :

الكلمة الطيبة (لا إله إلا الله) هي كما ذكرت في السؤال إحدى الأسس الخمسة التي بني عليها الإسلام، بل هي الركن الأول من أركانه، وقد علمنا النبي صلى الله عليه وسلم تلك الكلمة الطيبة.

Kalimah thayyibah, yaitu La ilaha illallah, sebagaimana Anda sebutkan dalam pertanyaan, merupakan salah satu dari lima dasar yang di atasnya Islam dibangun. Bahkan, ia merupakan rukun pertama dari rukun-rukun Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita kalimat yang baik tersebut.

وساق حديث المتفق عليه:

Di antaranya adalah hadits muttafaq ‘alaih:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.”

ومما رواه ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذاً إلى اليمن قال له:

Di antara yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma adalah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu‘adz ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَأَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka perkara pertama yang engkau serukan kepada mereka adalah bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah.”

وفي رواية:

Dalam riwayat lain:

إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Hingga mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka lima sholat dalam setiap sehari semalam. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaatimu dalam hal itu, janganlah engkau mengambil harta mereka yang paling berharga. Takutlah terhadap doa orang yang dizhalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”

متفق عليه.

Hadits ini muttafaq ‘alaih.

وقد أمرنا الله تعالى بطاعته وطاعة رسوله محمد صلى الله عليه وسلم في كل ما جاء به من التشريع كتاباً وسنة.

Allah Ta‘ala telah memerintahkan kita untuk menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh syariat yang beliau bawa, baik berupa Kitab maupun Sunnah.

قال تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul. Jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir.”

وقال:

Dan Allah berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”

وقال:

Dan Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah.”

وليس لأحد أن يضيف حكماً أو لفظاً أو جملة أو يزيد شيئاً في كتاب الله أو سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، بل ذلك بدعة.

Tidak seorang pun berhak menambahkan suatu hukum, lafaz, kalimat, atau sesuatu apa pun ke dalam Kitab Allah ataupun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, perbuatan tersebut merupakan bid‘ah.

وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:

Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak.”

وفي رواية:

Dalam riwayat lain:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan urusan kami, maka amalan tersebut tertolak.”

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’


عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.