Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah [34] : Apakah Pelaku Pelanggaran Syariat Tetap Muslim dan Apa Saja yang Membatalkan Islam?



فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٣٤)

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (34)

شهادة أن لا إله إلا الله

Tauhid Uluhiyyah : Apakah Pelaku Pelanggaran Syariat Tetap Muslim dan Apa Saja yang Membatalkan Islam?

السؤال السادس من الفتوى رقم ٥٣١٨

Pertanyaan Keenam dari Fatwa Nomor 5318

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tauhid Uluhiyyah : Apakah Pelaku Pelanggaran Syariat Tetap Muslim dan Apa Saja yang Membatalkan Islam? ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia

السؤال:

Pertanyaan:

من مات وله خمس نسوة أو زائد أهم مسلم لنصلي عليه بعد موته وقد علمنا قول الله جل شأنه:

Seseorang meninggal dunia dalam keadaan memiliki lima orang istri atau lebih. Apakah ia masih seorang Muslim sehingga kita boleh menshalatinya setelah meninggal dunia? Padahal kita telah mengetahui firman Allah Jalla Sya’nuhu:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Apakah kalian beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang di antara kalian yang melakukan demikian selain kehinaan dalam kehidupan dunia.”

الإجابــة:

Jawaban :

لا يثبت الإيمان لمن قال لا إله إلا الله إلا إذا قالها خالصاً من قلبه، ولا تعتبر عند الله إلا إذا كانت كذلك، أما في الدنيا فيعامل من قالها معاملة المسلمين مطلقاً ولو كان غير مخلص فيها، ولأننا إنما نأخذ بالظاهر والله هو الذي يتولى السرائر.

Keimanan tidaklah menjadi benar bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah kecuali apabila ia mengucapkannya dengan ikhlas dari hatinya. Kalimat tersebut tidak bernilai di sisi Allah kecuali apabila demikian keadaannya.

Adapun dalam hukum dunia, orang yang mengucapkannya diperlakukan sebagai seorang Muslim secara lahiriah, sekalipun ia sebenarnya tidak ikhlas di dalamnya. Sebab, kita hanya menghukumi berdasarkan apa yang tampak, sedangkan Allah-lah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di dalam hati.

ومن قالها وأتى بما ينقضها كفر كمن يستحل ما علم من الدين بالضرورة بعد البلاغ مثل مستحل الزنى ونكاح المحارم ومن نواقضها ترك الصلاة عمداً مع إبلاغه وأمره والنصح له، على الصحيح من أقوال العلماء.

Barangsiapa mengucapkannya, kemudian melakukan sesuatu yang membatalkannya, maka ia menjadi kafir. Contohnya adalah orang yang menghalalkan sesuatu yang telah diketahui secara pasti dalam agama sebagai perkara haram setelah hujjah sampai kepadanya, seperti orang yang menghalalkan zina atau menikahi perempuan-perempuan yang haram dinikahi.

Di antara perkara yang membatalkan kalimat tersebut adalah meninggalkan sholat dengan sengaja setelah disampaikan kepadanya kewajiban itu, diperintahkan untuk melaksanakannya, dan diberikan nasihat. Inilah pendapat yang benar dari pendapat para ulama.

ومنها تعليق الحجب والتمائم من غير القرآن مع اعتقاد تأثيرها أما إذا اعتقد أنها سبب للشفاء أو حفظه من الجن والعين فهي محرمة ولا تنقض الإسلام ولكنها من أنواع الشرك الأصغر لقوله صلى الله عليه وسلم:

Termasuk pula di antaranya menggantungkan jimat dan tamimah yang bukan berasal dari Al-Qur’an disertai keyakinan bahwa benda tersebut memiliki pengaruh dengan sendirinya.

Adapun apabila seseorang meyakininya hanya sebagai sebab untuk memperoleh kesembuhan atau perlindungan dari jin dan ‘ain, maka hal itu haram dan tidak membatalkan Islam, tetapi termasuk salah satu bentuk syirik kecil, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

“Barangsiapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak menyempurnakan urusannya; dan barangsiapa menggantungkan wada‘ah, semoga Allah tidak memberikan ketenteraman kepadanya.”

وأما تعليق التمائم من القرآن ففي جوازه خلاف بين العلماء، والأرجح تحريم ذلك لعموم الأدلة ولسد الذريعة المفضية إلى تعليق غيره.

Adapun menggantungkan tamimah yang berasal dari Al-Qur’an, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai kebolehannya. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hal tersebut dilarang karena keumuman dalil-dalil yang ada dan untuk menutup jalan yang dapat mengantarkan kepada penggantungan jimat selain Al-Qur’an.

ومن نواقض الإسلام الاستعانة بالأموات والأصنام ونحوها من الجمادات أو بالغائبين من الجن والإنس أو بالأحياء الحاضرين فيما لا يقدر عليه إلا الله ونحو ذلك.

Termasuk perkara yang membatalkan Islam adalah meminta pertolongan kepada orang-orang yang telah meninggal, berhala, dan benda-benda mati yang semisalnya; atau kepada makhluk yang tidak hadir dari kalangan jin maupun manusia; atau kepada orang hidup yang hadir dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, dan perkara-perkara semisalnya.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’


عضو: عبد الله بن قعود
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.