Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah [40] : Apakah Orang Mati Dapat Memberi Manfaat dan Apakah Pemberian Titik dan Harakat pada Al-Qur’an Termasuk Bid‘ah?



فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٤٠)

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (40)

الاستغاثة بغير الله

Tauhid Uluhiyyah : Apakah Orang Mati Dapat Memberi Manfaat dan Apakah Pemberian Titik dan Harakat pada Al-Qur’an Termasuk Bid‘ah?

السؤال الثالث من الفتوى رقم ٢٢٦٢

Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 2262

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tauhid Uluhiyyah : Apakah Orang Mati Dapat Memberi Manfaat dan Apakah Pemberian Titik dan Harakat pada Al-Qur’an Termasuk Bid‘ah? ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia

السؤال:

Pertanyaan:

قال بعض أهل البدع الذين يدعون أهل القبور قال كيف تقولون الميت لا ينفع وقد نفعنا موسى عليه السلام حيث كان السبب في تخفيف الصلاة من خمسين إلى خمس.

Sebagian ahli bid‘ah yang berdoa kepada penghuni kubur berkata: Bagaimana kalian mengatakan bahwa orang mati tidak dapat memberikan manfaat, padahal Musa ‘alaihis salam telah memberikan manfaat kepada kita, karena beliau menjadi sebab diringankannya sholat dari lima puluh menjadi lima?

وقال بعضهم كيف تقولون كل بدعة ضلالة فماذا تقولون في شكل القرآن ونقطه كل ذلك حدث بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فبماذا نجيبهم؟

Sebagian mereka juga berkata: Bagaimana kalian mengatakan bahwa setiap bid‘ah adalah kesesatan? Lalu bagaimana pendapat kalian tentang pemberian harakat dan titik pada Al-Qur’an? Semua itu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bagaimana kami menjawab mereka?

الإجابــة:

Jawaban :

أولاً: الأصل في الأموات أنهم لا يسمعون نداء من ناداهم من الناس ولا يستجيبون دعاء من دعاهم ولا يتكلمون مع الأحياء من البشر ولو كانوا أنبياء، بل انقطع عملهم بموتهم لقوله تعالى:

Pertama: Hukum asal mengenai orang-orang yang telah meninggal adalah bahwa mereka tidak mendengar panggilan manusia yang memanggil mereka, tidak mengabulkan doa orang yang berdoa kepada mereka, dan tidak berbicara dengan manusia yang masih hidup, sekalipun mereka adalah para nabi. Bahkan, amal mereka telah terputus dengan kematian mereka, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ۝ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ1

“Dan orang-orang yang kalian seru selain Dia tidak memiliki sesuatu pun walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Seandainya mereka mendengar, mereka tidak akan dapat memenuhi permintaan kalian. Dan pada Hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana Dzat Yang Maha Mengetahui.” [Fathir: 13–14]

وقوله:

Dan firman-Nya:

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ2

“Dan engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang berada di dalam kubur dapat mendengar.” [Fathir: 22]

وقوله:

Dan firman-Nya:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ۝ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ3

“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, kepada sesuatu yang tidak dapat mengabulkan doanya sampai Hari Kiamat, sedangkan mereka lalai dari doa orang-orang tersebut? Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka menjadi musuh bagi orang-orang yang menyembah mereka dan mengingkari peribadahan mereka.” [Al-Ahqaf: 5–6]

وقول رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ4

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, anak shalih yang mendoakannya, dan ilmu yang dimanfaatkan.”

رواه مسلم في صحيحه.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.

ويستثنى من هذا الأصل ما ثبت بدليل صحيح كسماع أهل القليب من الكفار كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم عقب غزوة بدر، وكصلاته بالأنبياء ليلة الإسراء، وحديثه مع الأنبياء عليهم الصلاة والسلام في السماوات حينما عرج به إليها.

Dikecualikan dari hukum asal tersebut perkara-perkara yang ditetapkan dengan dalil yang shahih, seperti orang-orang kafir yang berada di dalam sumur mendengar perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Perang Badar, beliau mengimami para nabi dalam sholat pada malam Isra’, serta pembicaraan beliau dengan para nabi ‘alaihimush shalatu was salam di langit ketika beliau dinaikkan ke sana.

ومن ذلك نصح موسى لنبينا عليهما الصلاة والسلام أن يسأل الله التخفيف مما افترضه عليه وعلى أمته من الصلوات فراجع نبينا صلى الله عليه وسلم ربه في ذلك حتى صارت خمس صلوات في كل يوم وليلة.

Termasuk di dalamnya adalah nasihat Musa kepada Nabi kita —semoga shalawat dan salam tercurah kepada keduanya— agar beliau memohon kepada Allah keringanan terhadap jumlah sholat yang diwajibkan kepada beliau dan umatnya. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berulang kali kembali kepada Rabb-nya mengenai hal itu hingga menjadi lima sholat dalam setiap sehari semalam.

وهذا من المعجزات وخوارق العادات فيقتصر فيه على ما ورد ولا يقاس عليه غيره مما هو داخل في عموم الأصل لأن بقاءه في الأصل أقوى من خروجه عنه بالقياس على خوارق العادات.

Hal ini termasuk mukjizat dan perkara luar biasa yang menyelisihi kebiasaan. Karena itu, perkara tersebut dibatasi pada apa yang memang telah disebutkan dalam dalil dan tidak boleh dianalogikan dengannya perkara-perkara lain yang termasuk ke dalam hukum asal. Sebab, mempertahankan perkara tersebut pada hukum asal lebih kuat daripada mengeluarkannya dari hukum asal dengan menganalogikannya kepada kejadian-kejadian luar biasa.

علماً بأن القياس على المستثنيات من الأصول ممنوع خاصة إذا لم تعلم العلة والعلة في هذه المسألة غير معروفة لأنها من الأمور الغيبية التي لا تعلم إلا بالتوقيف من الشرع ولم يثبت فيها توقيف فيما نعلم فوجب الوقوف بها مع الأصل.

Perlu diketahui bahwa melakukan qiyas terhadap perkara-perkara yang dikecualikan dari suatu hukum asal adalah terlarang, terlebih apabila ‘illat-nya tidak diketahui. ‘Illat dalam persoalan ini tidak diketahui karena termasuk perkara-perkara ghaib yang tidak dapat diketahui kecuali melalui keterangan syariat. Sepengetahuan kami, tidak ada keterangan syariat yang menetapkan hal semacam itu, sehingga wajib tetap berpegang kepada hukum asal.

ثانياً: الأمة مأمورة بحفظ القرآن كتابة وتلاوة وبقراءته على الكيفية التي علمهم إياها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقد كانت لغة الصحابة رضي الله عنهم عربية سليمة، لقلة الأعاجم بينهم، وعنايتهم بتلاوته كما أنزل عظيمة.

Kedua: Umat diperintahkan untuk menjaga Al-Qur’an melalui tulisan dan bacaan, serta membacanya dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahasa para shahabat radhiyallahu ‘anhum ketika itu adalah bahasa Arab yang masih baik dan murni karena sedikitnya orang non-Arab di tengah mereka, dan perhatian mereka untuk membacanya sebagaimana diturunkan sangatlah besar.

واستمر ذلك في عهد الخلفاء الراشدين فلم يخش عليهم اللحن في قراءة القرآن ولم يشق عليهم قراءته من المصحف بلا نقط ولا شكل.

Keadaan demikian terus berlangsung pada masa para Khulafa’ ar-Rasyidin. Tidak dikhawatirkan mereka melakukan kesalahan dalam membaca Al-Qur’an dan mereka pun tidak mengalami kesulitan membacanya dari mushaf yang belum diberi titik dan harakat.

فلما كانت خلافة عبد الملك بن مروان وكثر المسلمون من الأعاجم واختلطوا بالمسلمين من العرب خشي عليهم اللحن في التلاوة وشق عليهم القراءة من المصحف بلا نقط ولا شكل.

Ketika masa kekhalifahan ‘Abdul Malik bin Marwan tiba, jumlah kaum Muslimin dari kalangan non-Arab semakin banyak dan mereka bercampur dengan kaum Muslimin Arab. Karena itu, dikhawatirkan mereka melakukan kesalahan dalam bacaan dan mereka mengalami kesulitan membaca mushaf tanpa titik dan harakat.

فأمر عبد الملك بن مروان بنقط المصحف وشكله وقام بذلك الحسن البصري ويحيى بن يعمر رحمهما الله وهما من أتقى التابعين وأعلمهم وأوثقهم محافظة على القرآن وصيانة له من أن يناله تحريف، وتسهيلاً لتلاوته وتعليمه وتعلمه كما ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Maka ‘Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pemberian titik dan harakat pada mushaf. Tugas tersebut dilakukan oleh Al-Hasan Al-Bashri dan Yahya bin Ya‘mar rahimahumallah. Keduanya termasuk tabi‘in yang paling bertakwa, berilmu, dan terpercaya. Hal itu dilakukan untuk menjaga Al-Qur’an, melindunginya agar tidak mengalami perubahan, serta memudahkan pembacaan, pengajaran, dan pembelajarannya sebagaimana yang telah ditetapkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وبهذا يتبين أن كلاً من نقط القرآن وشكله – وإن لم يكن موجوداً في عهد النبي صلى الله عليه وسلم – فهو داخل في عموم الأمر بحفظه وتعليمه وتعلمه على النحو الذي علمه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ليتم البلاغ ويعم التشريع ويستمر حتى يرث الله الأرض ومن عليها.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa pemberian titik dan harakat pada Al-Qur’an —meskipun belum ada pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam— termasuk dalam keumuman perintah untuk menjaga, mengajarkan, dan mempelajarinya sesuai cara yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat beliau, agar penyampaian risalah menjadi sempurna, syariat tersebar luas, dan terus berlangsung hingga Allah mewarisi bumi beserta seluruh yang berada di atasnya.

وعلى هذا لا يكون من البدع لأن البدعة ما أحدث ولم يدل عليه دليل خاص به أو عام له ولغيره.

Atas dasar itu, pemberian titik dan harakat tersebut tidak termasuk bid‘ah, karena bid‘ah adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa adanya dalil khusus yang menunjukkannya maupun dalil umum yang mencakupnya bersama perkara-perkara lainnya.

وقد يسمى مثل هذا بعض من تكلم في السنن والبدع مصلحة مرسلة لا بدعة، وقد يسمى هذا بدعة من جهة اللغة لكنه ليس على مثال سابق لا من جهة الشرع لدخوله تحت عموم الأدلة الدالة على وجوب حفظ القرآن وإتقان تلاوته وتعلمها وتعليمها.

Sebagian ulama yang membahas tentang Sunnah dan bid‘ah menyebut perkara semacam ini sebagai mashlahah mursalah, bukan bid‘ah. Ia juga dapat disebut bid‘ah dari sisi bahasa karena tidak memiliki contoh sebelumnya, tetapi bukan bid‘ah dari sisi syariat, sebab ia termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban menjaga Al-Qur’an, menyempurnakan bacaannya, mempelajari, dan mengajarkannya.

ومن هذا قول عمر رضي الله عنه لما جمع الناس على إمام واحد في التراويح:

Termasuk dalam pengertian ini adalah perkataan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengumpulkan manusia untuk sholat Tarawih di belakang satu imam:

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid‘ah adalah ini.”

والظاهر دخول النقط والشكل في عموم النصوص الدالة على وجوب حفظ القرآن كما أنزل.

Dan yang tampak, pemberian titik dan harakat termasuk dalam keumuman nash-nash yang menunjukkan kewajiban menjaga Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’


عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah

Catatan Kaki

  1. Surah Fathir, ayat 13–14.
  2. Surah Fathir, ayat 22.
  3. Surah Al-Ahqaf, ayat 5–6.
  4. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad, jilid 5, hlm. 261 dan 269, serta Muslim dalam Shahih-nya, jilid 11, hlm. 85. Lafaz ini milik Muslim.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.