Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah [41] : Taubat dari Syirik, Bid‘ah, dan Zina serta Status Pernikahan Setelah Bertaubat



فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٤١)

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (41)

الاستغاثة بغير الله

Tauhid Uluhiyyah : Taubat dari Syirik, Bid‘ah, dan Zina serta Status Pernikahan Setelah Bertaubat

السؤال الأول من الفتوى رقم ٢٠١٧

Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 2017

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tauhid Uluhiyyah : Taubat dari Syirik, Bid‘ah, dan Zina serta Status Pernikahan Setelah Bertaubat ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia

السؤال:

Pertanyaan:

ما قولكم في مبتدع بدعاً شركية يستغيث بالأولياء، ويصلي في أضرحتهم راجياً أن يمدوه ببركتهم،

Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang melakukan bid‘ah-bid‘ah syirik, beristighatsah kepada para wali, dan melakukan sholat di makam-makam mereka dengan berharap memperoleh keberkahan dari mereka?

وتزوج بامرأة ثيب بعد أن طلقها زوجها الآخر وكان يجامعها مرة بعد أخرى خفية حتى حملت منه فبادر بكتابة العقد عليها بعد ما ظهر حملها وتم هذا الزواج على غير هدى من الله،

Ia juga menikahi seorang wanita janda setelah diceraikan oleh suaminya yang lain. Sebelumnya ia telah berulang kali menggaulinya secara sembunyi-sembunyi hingga wanita itu hamil darinya. Setelah kehamilannya tampak, ia segera membuat akad nikah dengannya. Pernikahan tersebut dilakukan tanpa petunjuk dari Allah.

ووضعت طفلة عمرها سنتان الآن ثم تاب إلى الله من البدع والتزم سنة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وقرأ كتاب (فتح المجيد شرح كتاب التوحيد) وغيره من كتب أهل السنة،

Wanita tersebut kemudian melahirkan seorang anak perempuan yang sekarang berusia dua tahun. Setelah itu laki-laki tersebut bertaubat kepada Allah dari berbagai bid‘ah, berpegang teguh kepada Sunnah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta membaca kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid dan kitab-kitab Ahlus Sunnah lainnya.

وتاب من الزنى وفعل المنكرات وزوجته حامل الآن ويسأل ماذا يفعل هل عليه كفارة من أجل الزنا وماذا يفعل مع أقاربه الذين لا يزالون على بدعهم الشركية أفتوني؟

Ia juga telah bertaubat dari zina dan berbagai kemungkaran. Istrinya sekarang sedang hamil. Ia bertanya: Apa yang harus ia lakukan? Apakah ada kafarat yang harus ia tunaikan karena zina tersebut? Dan apa yang harus ia lakukan terhadap kerabatnya yang masih tetap berada di atas bid‘ah-bid‘ah syirik? Mohon fatwanya.

الإجابــة:

Jawaban :

أولاً: لاشك أن الشرك أكبر الكبائر، وأن البدع المحدثة في الدين من أقبح الجرائم وأن الزنى من الفواحش وكبائر الذنوب،

Pertama: Tidak diragukan bahwa syirik merupakan dosa besar yang paling besar, berbagai bid‘ah yang diada-adakan dalam agama termasuk kejahatan yang paling buruk, dan zina termasuk perbuatan keji serta dosa-dosa besar.

وأنه يجب على من ابتلي بشيء من ذلك أن يتخلص منه ويجتنبه وأن يستغفره فرجو الله أن يقبل توبته ويغفر ذنبه وأن يحفظه في مستقبل أمره وأن يبدل سيئاته حسنات،

Orang yang diuji dengan salah satu dari perkara tersebut wajib melepaskan diri darinya, menjauhinya, dan memohon ampun kepada Allah. Kami berharap Allah menerima taubatnya, mengampuni dosanya, menjaganya pada masa yang akan datang, dan mengganti keburukan-keburukannya dengan kebaikan.

وعليه أن يكثر الندم والتوبة والاستغفار والأعمال الصالحات فإن الحسنات يذهبن السيئات وألا يتبع خطوات الشيطان فإنه يأمر بالفحشاء والمنكر.

Ia harus memperbanyak penyesalan, taubat, istighfar, dan amal-amal shalih, karena kebaikan-kebaikan menghapus keburukan. Ia juga tidak boleh mengikuti langkah-langkah setan, karena setan memerintahkan perbuatan keji dan mungkar.

قال الله تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ۝ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ۝ إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ۝ وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا1

“Dan orang-orang yang tidak menyeru sesembahan lain bersama Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan demikian, niscaya ia mendapat hukuman dosa. Azab akan dilipatgandakan baginya pada Hari Kiamat dan ia kekal di dalamnya dalam keadaan terhina, kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih. Maka mereka itulah yang keburukan-keburukannya diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Barangsiapa bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya ia benar-benar bertaubat kepada Allah.” [Al-Furqan: 68–71]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ2

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya ia menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.” [An-Nur: 21]

وعليه أن يحمد الله ويشكره على التوفيق إلى الرشد بعد الغي والهدى بعد الضلال.

Ia juga harus memuji dan bersyukur kepada Allah atas taufik menuju jalan yang benar setelah kesesatan, dan atas petunjuk setelah penyimpangan.

ثانياً: عليه أن يجتهد مع عشيرته وسائر قومه بدعوتهم إلى التوحيد الخالص ونبذ البدع والخرافات وترغيبهم في التمسك بالكتاب والسنة والعمل بهما عسى أن تجدي فيهم الدعوة فيستجيبوا لها ويتوبوا إلى الله من شركهم وسائر بدعهم ويكونوا قوة معه في نصر الدعوة إلى الحق والله المستعان.

Kedua: Ia harus bersungguh-sungguh berdakwah kepada keluarga besarnya dan seluruh kaumnya menuju tauhid yang murni, meninggalkan berbagai bid‘ah dan khurafat, serta mendorong mereka agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah dan mengamalkan keduanya. Mudah-mudahan dakwah tersebut bermanfaat bagi mereka sehingga mereka menerimanya, bertaubat kepada Allah dari kesyirikan dan seluruh bid‘ah mereka, serta menjadi kekuatan bersamanya dalam membela dakwah kepada kebenaran. Allah-lah tempat memohon pertolongan.

ثالثاً: إذا كان الواقع من حاله الأولى ما ذكر من سلوكه طريق الجاهلية الأولى قبل بعثة النبي صلى الله عليه وسلم وارتكابه مثل ما ارتكبوا من الشرك الأكبر وأنه عقد الزواج على المرأة المذكورة أيام جاهليته اعتبرت توبته من ذلك رجوعاً من الشرك والفجور وبدء حياة إسلامية جديدة،

Ketiga: Jika keadaan dirinya dahulu memang sebagaimana yang disebutkan, yaitu menempuh jalan jahiliyyah terdahulu sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan syirik akbar sebagaimana yang mereka lakukan, dan akad nikah dengan wanita tersebut dilakukan pada masa jahiliyyah-nya, maka taubatnya dari semua itu dianggap sebagai kembalinya ia dari kesyirikan dan kefajiran serta sebagai permulaan kehidupan Islam yang baru.

فيقر على عقد النكاح الذي جرى منه على هذه المرأة أيام جاهليتها إن كانت مثله حين عقد عليها ثم تابت مما كان منها من الشرك والفاحشة،

Akad nikah yang dahulu dilakukan antara dirinya dan wanita tersebut pada masa jahiliyyah mereka tetap diakui apabila wanita itu ketika akad berlangsung berada dalam keadaan yang sama dengannya, kemudian ia juga bertaubat dari kesyirikan dan perbuatan keji yang dahulu dilakukannya.

فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقر من أسلم من الكافرين على ما مضى من عقود زواجهم في الجاهلية ولا يسألهم عن تفاصيل ما جرى عليه العقد ولا يجدد لهم عقد زواج ويعتبر ما كان بينهم من النسل سابقاً أولاداً لهم،

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan orang-orang kafir yang masuk Islam tetap berada pada akad-akad pernikahan mereka yang telah berlangsung pada masa jahiliyyah. Beliau tidak menanyakan kepada mereka rincian akad tersebut dan tidak pula memperbarui akad nikah mereka. Anak-anak yang telah lahir sebelumnya juga tetap dianggap sebagai anak-anak mereka.

فليس عليهما أكثر من أن يتبعا السيرة الحسنة ويكثرا من فعل الخيرات وتجنب ما حرم الله من المنكرات.

Karena itu, tidak ada kewajiban atas keduanya selain menempuh kehidupan yang baik, memperbanyak amal kebajikan, dan menjauhi segala kemungkaran yang diharamkan Allah.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’


عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz

Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah

Catatan Kaki

  1. Surah Al-Furqan, ayat 68–71.
  2. Surah An-Nur, ayat 21.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.