فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء (٤٢)
Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (42)
الاستغاثة بغير الله
Tauhid Uluhiyyah : Berdoa kepada Rasul dan Para Wali, Keyakinan Ruh Mereka Hadir, serta Anggapan Nabi Adalah Cahaya Bukan Manusia
الفتوى رقم ٣٨٧١
Fatwa Nomor 3871
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tauhid Uluhiyyah : Berdoa kepada Rasul dan Para Wali, Keyakinan Ruh Mereka Hadir, serta Anggapan Nabi Adalah Cahaya Bukan Manusia ini masuk dalam Kategori Fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia
السؤال:
Pertanyaan:
١ – ما حكم الصلاة خلف من يعتقد أن دعاء الرسول أو الأولياء أو علي بن أبي طالب رضي الله عنه مشروع مستجاب بحيث إن غالب الناس في باكستان يدعون الرسول أو علياً أو عبد القادر الجيلاني لجلب النفع ودفع الضرر؟
1. Bagaimana hukum sholat di belakang orang yang meyakini bahwa berdoa kepada Rasul, para wali, atau ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah sesuatu yang disyariatkan dan dikabulkan, sedangkan kebanyakan orang di Pakistan berdoa kepada Rasul, ‘Ali, atau ‘Abdul Qadir Al-Jailani untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya?
٢ – ما حكم من يعتقد حياة الرسول والأولياء والمشايخ أو يعتقد أن أرواح المشايخ حاضرة تعلم وكذلك ما حكم من يعتقد أن الرسول نور وينفي عنه البشرية؟
2. Bagaimana hukum orang yang meyakini bahwa Rasul, para wali, dan para syaikh masih hidup, atau meyakini bahwa ruh para syaikh hadir dan mengetahui keadaan manusia? Demikian pula bagaimana hukum orang yang meyakini bahwa Rasul adalah cahaya dan menafikan sifat kemanusiaan beliau?
الإجابــة:
Jawaban :
أولاً: دعاء غير الله من الأموات والغائبين عنه شرك أكبر مخالف للكتاب والسنة والإجماع على تحريمه سواء كان المدعو نبياً أم ولياً أم غيرهما،
Pertama: Berdoa kepada selain Allah dari kalangan orang-orang yang telah meninggal atau orang yang tidak hadir merupakan syirik akbar yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ tentang keharamannya, baik yang diseru itu seorang nabi, wali, maupun selain keduanya.
لقول الله سبحانه:
Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa berdoa kepada sesembahan lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” [Al-Mu’minun: 117]
وقال تعالى:
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dan orang-orang yang kalian seru selain Dia tidak memiliki sesuatu pun walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Seandainya mereka mendengar, mereka tidak akan dapat memenuhi permintaan kalian. Dan pada Hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana Dzat Yang Maha Mengetahui.” [Fathir: 13–14]
وأما الأدلة من السنة فمنها ما ثبت في السنن عن النعمان ابن بشير أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Adapun dalil dari Sunnah, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunan dari An-Nu‘man bin Basyir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.”
وقرأ قوله سبحانه:
Kemudian beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Rabb kalian berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian.” [Ghafir: 60]
وما رواه الطبراني بإسناده أنه كان في زمن النبي صلى الله عليه وسلم منافق يؤذي المؤمنين فقال بعضهم قوموا بنا نستغيث برسول الله صلى الله عليه وسلم من هذا المنافق فقال النبي صلى الله عليه وسلم:
Demikian pula riwayat Ath-Thabrani dengan sanadnya bahwa pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat seorang munafik yang mengganggu kaum Mukminin. Sebagian mereka berkata: “Mari kita pergi meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan orang munafik ini.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَا يُسْتَغَاثُ بِي وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Sesungguhnya tidaklah dimintai pertolongan kepadaku. Sesungguhnya pertolongan itu diminta kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
هذا مع كونه صلى الله عليه وسلم حياً قادراً على أن يستغاث به فيما يقدر عليه، كدفع أذى المنافق، لكنه أراد أن يسد طريق الشرك ويحمي جناب التوحيد ويستأصل مادة الشرك من جذورها،
Hal itu beliau sampaikan padahal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu masih hidup dan mampu dimintai bantuan dalam perkara yang berada dalam kemampuannya, seperti menolak gangguan orang munafik tersebut. Akan tetapi, beliau ingin menutup jalan menuju syirik, menjaga kemurnian tauhid, dan mencabut sebab-sebab kesyirikan dari akarnya.
ولأنه صلى الله عليه وسلم خشي أن يفتتن به الناس بعد موته كما افتتن قوم نوح بالصالحين من قبلهم،
Selain itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir manusia akan terfitnah terhadap dirinya setelah beliau meninggal sebagaimana kaum Nuh dahulu terfitnah oleh orang-orang shalih di antara mereka.
فإن الشرك وقع في قوم نوح بسبب الغلو في الصالحين وتصوير صورهم ثم عبادتهم من دون الله،
Sesungguhnya syirik terjadi pada kaum Nuh disebabkan sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih, membuat gambar mereka, kemudian menyembah mereka selain Allah.
وقد ثبت في صحيح البخاري عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله تعالى:
Telah shahih dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah Ta‘ala:
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan jangan pula meninggalkan Wadd, Suwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.” [Nuh: 23]
قال: أسماء رجال صالحين من قوم نوح، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون أنصاباً وسموها بأسمائهم ففعلوا ولم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتنسخ العلم عبدت.
Ibnu ‘Abbas berkata: “Itu adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nuh. Setelah mereka meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar mendirikan patung-patung di tempat-tempat mereka dahulu biasa duduk dan menamainya dengan nama-nama mereka. Mereka pun melakukannya. Pada awalnya patung-patung itu belum disembah. Setelah generasi tersebut meninggal dan ilmu terlupakan, patung-patung itu pun disembah.”
ثانياً: اعتقاد حياة الرسول صلى الله عليه وسلم بعد موته كحياته في الدنيا أو أن أرواح الأولياء والمشايخ حاضرة تعلم ما يجري للناس اعتقاد باطل لا دليل عليه من كتاب الله ولا من سنة رسوله صلى الله عليه وسلم،
Kedua: Keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafat masih hidup seperti kehidupan beliau di dunia, atau bahwa ruh para wali dan para syaikh hadir serta mengetahui apa yang terjadi pada manusia, merupakan keyakinan yang batil. Tidak ada dalil atas hal itu dari Kitab Allah maupun Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
بل قال الله تعالى لنبيه صلى الله عليه وسلم:
Bahkan Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ
“Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.” [Az-Zumar: 30]
وقال سبحانه:
Dan Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
“Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang?” [Ali ‘Imran: 144]
وقد مات النبي صلى الله عليه وسلم ودفن كما مات من قبله من الرسل والأنبياء،
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan dimakamkan sebagaimana para rasul dan nabi sebelum beliau juga telah wafat.
لكن الأنبياء أحياء في قبورهم حياة برزخية لا يعلم كيفيتها إلا الله وليست كحياتهم في الدنيا،
Namun para nabi hidup di dalam kubur mereka dengan kehidupan barzakhiyyah yang hakikat dan caranya tidak diketahui kecuali oleh Allah. Kehidupan tersebut bukan seperti kehidupan mereka di dunia.
وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Telah shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ
“Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya.”
فهذا يدل على أن روحه صلى الله عليه وسلم ليست حاضرة في كل مكان ولا تعلم أحوال الناس من ذاتها، وإنما يبلغه ما شاء الله أن يبلغه.
Hal ini menunjukkan bahwa ruh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hadir di setiap tempat dan tidak mengetahui keadaan manusia dengan sendirinya. Yang sampai kepada beliau hanyalah apa yang Allah kehendaki untuk disampaikan kepada beliau.
ثالثاً: اعتقاد أن الرسول صلى الله عليه وسلم نور ونفي البشرية عنه اعتقاد باطل مخالف للقرآن الكريم،
Ketiga: Keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cahaya dengan menafikan sifat kemanusiaan beliau merupakan keyakinan yang batil dan bertentangan dengan Al-Qur’an Al-Karim.
فقد أمره الله أن يقول:
Allah memerintahkan beliau untuk mengatakan:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya sesembahan kalian adalah sesembahan Yang Maha Esa.” [Al-Kahfi: 110]
وقال تعالى:
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا
“Katakanlah: Mahasuci Rabb-ku. Bukankah aku ini hanyalah seorang manusia yang menjadi rasul?” [Al-Isra’: 93]
فهو بشر من بني آدم خلق من أب وأم كما خلق سائر البشر، لكنه خصه الله بالرسالة والوحي وفضله على سائر الخلق.
Beliau adalah manusia dari keturunan Adam, dilahirkan dari seorang ayah dan ibu sebagaimana manusia lainnya. Akan tetapi, Allah mengkhususkan beliau dengan risalah dan wahyu serta memberikan keutamaan kepada beliau atas makhluk lainnya.
وليس معنى وصفه بالنور في بعض النصوص أنه خرج عن البشرية، وإنما المراد ما جاء به من الهدى والنور الذي أخرج الله به الناس من الظلمات إلى النور.
Adapun penyebutan beliau sebagai cahaya dalam sebagian nash tidak berarti bahwa beliau keluar dari sifat kemanusiaan. Yang dimaksud adalah petunjuk dan cahaya yang beliau bawa, yang dengannya Allah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.
رابعاً: وصف الرسول صلى الله عليه وسلم بأنه نور من نور الله إن أريد به أنه نور ذاتي من ذات الله فهو قول باطل وكفر؛ لأن الله سبحانه ليس كمثله شيء ولا يحل في أحد من خلقه،
Keempat: Menyifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “cahaya dari cahaya Allah”, apabila yang dimaksud adalah bahwa beliau merupakan cahaya dzati yang berasal dari dzat Allah, maka itu adalah perkataan batil dan kufur. Sebab Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia tidak menyatu pada salah satu makhluk-Nya.
وإن أريد أنه نور بمعنى أنه جاء بالوحي والهدى من الله فهذا معنى صحيح إذا عبر عنه بالعبارة الشرعية الصحيحة.
Namun apabila yang dimaksud bahwa beliau adalah cahaya dalam arti beliau membawa wahyu dan petunjuk dari Allah, maka makna tersebut benar apabila diungkapkan dengan redaksi syar‘i yang benar.
خامساً: القول بأن الرسول صلى الله عليه وسلم ليس بشراً مثلنا يحتمل حقاً وباطلاً؛
Kelima: Pernyataan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “bukan manusia seperti kita” dapat mengandung makna yang benar maupun makna yang batil.
فقد يكون مراد القائل أنه ليس مثلنا فيما اختصه الله به من الرسالة والوحي والعصمة في التبليغ وما خصه الله به من الفضائل والمعجزات، فهذا صحيح،
Boleh jadi yang dimaksud oleh orang yang mengucapkannya adalah bahwa beliau tidak seperti kita dalam perkara-perkara yang Allah khususkan bagi beliau, seperti risalah, wahyu, keterjagaan dalam menyampaikan risalah, serta berbagai keutamaan dan mukjizat yang Allah khususkan kepada beliau. Makna ini benar.
وقد يكون مراده أنه ليس من جنس البشر أو أنه يعلم الغيب أو يتصرف في الكون بنفسه أو يستغاث به بعد موته فيما لا يقدر عليه إلا الله، فهذا باطل وشرك.
Namun bisa jadi yang dimaksud adalah bahwa beliau bukan dari jenis manusia, mengetahui perkara ghaib, mengatur alam semesta dengan kekuasaan beliau sendiri, atau dapat dimintai pertolongan setelah wafat dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah. Makna seperti ini adalah batil dan merupakan syirik.
وقد بين الله سبحانه أن الغيب لا يعلمه إلا هو وأن الرسل لا يعلمون منه إلا ما أطلعهم الله عليه، فقال تعالى:
Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah menjelaskan bahwa perkara ghaib tidak diketahui kecuali oleh-Nya, dan para rasul tidak mengetahui darinya kecuali apa yang Allah tampakkan kepada mereka. Allah Ta‘ala berfirman:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ
“Dia mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya.” [Al-Jinn: 26–27]
وقال تعالى آمراً نبيه صلى الله عليه وسلم:
Allah Ta‘ala juga berfirman dengan memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, aku tidak mengetahui yang ghaib, dan aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa aku adalah malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.” [Al-An‘am: 50]
وقال النبي صلى الله عليه وسلم في حديث طويل في قصة أم العلاء لما قالت في عثمان بن مظعون: رحمة الله عليك أبا السائب شهادتي عليك لقد أكرمك الله عز وجل، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits panjang mengenai kisah Ummul ‘Ala’. Ketika ia berkata tentang ‘Utsman bin Mazh‘un, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu As-Sa’ib. Kesaksianku atasmu adalah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah memuliakanmu,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ أَكْرَمَهُ؟
“Dari mana engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya?”
فقلت: بأبي أنت وأمي يا رسول الله فمن يكرمه الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Ia berkata: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Lalu siapakah yang Allah muliakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ، وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي
“Adapun dia, sungguh telah datang kepadanya kematian. Demi Allah, aku berharap kebaikan baginya. Demi Allah, aku tidak mengetahui —padahal aku adalah Rasul Allah— apa yang akan diperbuat terhadap diriku.”
قالت: فوالله لا أزكي بعده أحداً أبداً.
Ummul ‘Ala’ berkata: “Demi Allah, setelah itu aku tidak akan memastikan kesucian seseorang untuk selama-lamanya.”
رواه أحمد والبخاري.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bukhari.
وإذا ثبت أن الرسول صلى الله عليه وسلم بشر وأنه لا يعلم الغيب إلا ما أطلعه الله عليه ولا يملك النفع والضر لنفسه استقلالاً، فمن باب أولى غيره من الأولياء والمشايخ.
Apabila telah jelas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia, tidak mengetahui perkara ghaib kecuali apa yang Allah tampakkan kepada beliau, dan tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat atau menolak bahaya bagi dirinya sendiri secara mandiri, maka selain beliau dari kalangan para wali dan para syaikh tentu lebih utama lagi untuk tidak memiliki kemampuan tersebut.
وعلى كل حال لا يصح إطلاق هذه الكلمة نفياً ولا إثباتاً إلا مع التفصيل والبيان لما فيها من اللبس والإجمال، فإذا لم يطلقها القائلان ابتداءً وبيّنا الحق بما بينته الأدلة الشرعية كان ذلك أسلم وأبعد عن مواطن الشبهة.
Dalam keadaan apa pun, ungkapan semacam ini tidak semestinya digunakan secara mutlak, baik dalam bentuk penafian maupun penetapan, kecuali dengan perincian dan penjelasan, karena di dalamnya terdapat kesamaran dan makna yang masih global. Apabila seseorang tidak menggunakan ungkapan tersebut sejak awal dan langsung menjelaskan kebenaran sebagaimana diterangkan oleh dalil-dalil syar‘i, maka hal itu lebih selamat dan lebih jauh dari perkara yang menimbulkan syubhat.
وعلى المسلم أن يلتزم بما جاء في الكتاب والسنة من وصف الرسول صلى الله عليه وسلم بأنه عبد الله ورسوله ونبيه، وأنه بشر اصطفاه الله بالرسالة والوحي، وأن يبتعد عن الألفاظ المحدثة المجملة التي قد تجر إلى الغلو فيه.
Seorang Muslim hendaknya berpegang kepada apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah dalam menyifati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba Allah, Rasul-Nya, dan Nabi-Nya; bahwa beliau adalah manusia yang Allah pilih untuk membawa risalah dan wahyu. Ia hendaknya menjauhi ungkapan-ungkapan baru yang bersifat global dan samar yang dapat menyeret kepada sikap ghuluw terhadap beliau.
وتجاوز الحد بهم إلى ما ليس من شأنهم بل من حقوق الله سبحانه، فالذي ينبغي للمسلم التمسك بالسنة وتجنب البدع والباطل والشرك من الفعل.
Demikian pula tidak boleh melampaui batas terhadap mereka dengan memberikan sesuatu yang bukan menjadi hak mereka, tetapi merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Karena itu, seorang Muslim semestinya berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid‘ah, kebatilan, serta perbuatan syirik.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Hanya kepada Allah memohon taufik. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para shahabat beliau.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’
عضو: عبد الله بن قعود
عضو: عبد الله بن غديان
نائب رئيس اللجنة: عبد الرزاق عفيفي
الرئيس: عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Qu‘ud
Anggota: Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan
Wakil Ketua Al-Lajnah: Syaikh ‘Abdur Razzaq ‘Afifi
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz
Sumber : Kitab Kompilasi Fatwa Lajnah Daaimah
Leave a Reply