Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
selama tahun-tahun terakhir ini. Sebelumnya, ia adalah seorang petani penggarap dengan dua ekor sapi yang dimilikinya sendiri. Seekor telah dijualnya untuk mengawinkan anak perempuannya yang tertu Yang seekor lagi dijualnya waktu ia mengkhitankan anak laki-lakinya yang tertua. Mbok Mun tampaknya menganggap penyelenggaraan duwe-gawe yang besar ini begitu mutlak perlunya. Ia menganggap akibat-akibatnya sebagai penderitaan yang wajar. a mengatakan bahwa suaminya mungkin harus pergi entah ke mana untuk mencari pekerjaan dan meninggalkan dia sendirian di rumah, tetapi ia sudah terlampau tua untuk merasa khawatir terhadap hal itu. Katanya, segalanya memang demikian keras dan sepanjang pengetahuannya memang di dunia ini ketidakbahagiaan lebih sering dijumpai daripada kebahagiaan. Setelah memperlihatkan beberapa variasi yang tercakup dalam pola pembelanjaan kekayaan pada kejadian duwe-gawe, sekarang tinggal menggambarkan dari mana kekayaan itu berasal dan bagaimana memobilisasikannya. Seseorang yang menyelenggarakan pesta semacam itu memiliki beberapa sumber bantuan. Ia bisa menggunakan tenaga sanak-keluarganya dan bila ia kaya dan mempunyai kedudukan tinggi, tenaga teman-temannya. la bisa membelanjakan tabungannya sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Mbok Mun ketika menjual sapinya atau bisa juga meminjam dari teman-teman atau pemberi kredit dengan bunga yang sangat mencekik. Dan yang terakhir, ia menerima sedikit pembayaran kontan dari semua yang hadir di pesta itu, yang disebut buwuh. Orang hampir selalu menggunakan semua sumber-sumber ini, meskipun ia akan menghindari berutang kalau hal itu mungkin—suatu hal yang jarang terjadi. Kemampuan untuk menarik sumbangan tenaga dari orang lain mungkin merupakan modal yang paling besar bagi seorang penyelenggara pesta. Untuk slametan, hal ini secara tradisional ditetapkan di antara saudara saja, karena pola yang ideal dalam hal ini adalah bahwa ada kelompok keluarga yang menyiapkan slametannya dan ada kelompok tetangga yang menghabiskannya. Pada sebuah slametan di Mojokuto, orang-orang berikut bekerja selama dua hari untuk menyiapkan slametan dan berbagai hidangan yang diperlukan: isteri adik laki-laki perempuan yang hamil (ini terjadi dalam tingkeban), bibinya, ipar perempuan: kakak perempuannya (ia datang dari desa lain, tak jauh dari situ), dua keponakan perempuan, isteri adik laki-lakinya, mertua perempuan dari kakak perempuannya dan dua orang tetangga yang telah dikenalnya sejak kecil. Pekerjaan para pria adalah memotong kambing