Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
tahu bahwa pertanyaan para malaikat pada kenyataannya memang ada, bahwa hidup di alam kubur memang benar-benar nyata, bahwa surga serta neraka memang ada dan bahwa Allah akan membangkitkan setiap ahli kubur di Hari Kiamat memang suatu hal yang nyata juga. Sesudah ini para pelawat akan kembali ke rumah atau pekerjaan me- teka, tetapi sekelompok kecil tetangga dekat, teman-teman dan sanak- keluarga kembali ke rumah untuk melaksanakan slametan. (Kelompok ini harus mencakup mereka yang bekerja pada waktu pemakaman—yang menggali kubur, membuat nisan dan sebagainya). Semua slametan kematian ditandai oleh dua hidangan simbolik: kue bundar kecil dari beras yang disebut apem, yang merupakan makanan khusus untuk orang yang sudah meninggal dan para nenekmoyang:? serta sebuah makanan dari beras yang diratakan dan bulat, dengan dua tumpeng nasi setinggi tujuh atau delapan inci. Penganan dari beras yang diratakan dan bulat itu sekali lagi melambangkan ikhlas: tetapi sebagai tambahan, kontras antara penganan dari beras yang diratakan dan bulat dengan kerucut nasi itu dianggap melambangkan perbedaan antara hidup dan mati— keadaan mati yang datar tanpa roman serta kehidupan yang mengarah ke atas seperti tegaknya lingga. Sekalipun begitu, beberapa orang lain beranggapan bahwa satu tumpeng itu melambangkan yang hidup, satu tumpeng lainnya melambangkan yang mati. Slametan yang bentuknya persis sama, tetapi dengan ukuran lebih besar dalam arti jumlah tamu dan panjangnya pembacaan do'a, diselenggarakan pada hari ketiga, ketujuh, ke-40 serta ke-100 sejak almarhum meninggal, pada peringatan tahun pertama, tahun kedua dan hari ke-1.000 sejak almarhum meninggal. Setiap anak yang sudah mempunyai rumahtangga sendiri harus menyelenggarakan seluruh rangkaian slametan itu. Slametan terakhir yang menandai saat jasad almarhum sudah menjadi debu sepenuhnya adalah yang paling meriah. Orang diharuskan menyembelih merpati, angsa atau unggas lainnya, kemudian dimandikan dalam air bunga, diberi pencuci rambut dan dibungkus dalam kain putih persis sebagaimana jasad yang meninggal sebelumnya. (Upacara ini disebut kekah dan kadang dilakukan pada beberapa slametan yang lebih awal, tetapi dalam kasus manapun, selalu dilakukan sekali saja. Sekarang ini malah sering ditiadakan samasekali). Apem dan cakram beras yang melambangkan kematian sudah ditiadakan: ayam utuh untuk Nabi serta berbagai penganan