Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
lain yang dihidangkan dalam slametan untuk berbagai peristiwa yang menggembirakan, diperkenalkan kembali di sini: sekali lagi, orang memberi uang logam recehan kepada para tamu sebagai lambang dari berpalingnya seseorang untuk terakhir kalinya dari yang mati kepada yang hidup. Setelah slametan ini, jurang pemisah antara yang mati dan yang hidup menjadi mutlak. Akan tetapi, untuk orangtuanya, seseorang harus berziarah ke makamnya untuk menabur bunga pada setiap ulang tahun kematiannya, satu hari sebelum bulan puasa dimulai, bila ia atau anak-anaknya jatuh sakit dan setiap kali ia bermimpi bertemu dengan mereka, karena ini berarti mereka sedang dalam keadaan lapar serta perlu diberi makan. (Kalau mimpi itu cukup jelas, orang boleh mengadakan slametan dan membawa sebagian hidangan ke langgar serta meminta para santri berdo'a sejenak untuk arwah almarhum: atau bisa juga sekadar meletakkan beberapa makanan, teh dan bunga- bungaan di persimpangan jalan). Setelah kematian, orang juga menghidangkan makanan untuk yang sudah mati—jenis makanan yang terutama disukai almarhum —di dekat sentong tengah di rumah atau di samping tempat tidur dimana ia meninggal, selama 40 hari setelah almarhum meninggal dan biasanya sebuah sajen juga ditambahkan dalam salahsatu upacara seperti itu yang saya saksikan, terdapat pula foto lama almarhum. Kalau seseorang menginginkan, dengan uang kurang lebih Rp 35, ia bisa merekrut beberapa santri untuk membaca do'a di langgar mereka selama satu atau dua jam setiap malam sampai tujuh hari sesudah kematian. Bahkan beberapa orang yang sangat anti-Islam melakukan hal ini juga. Sebagaimana dikatakan oleh seorang perempuan santri yang sudah tua mengenai induk semang saya yang tergolong ke dalam aliran abangan yang keras, “Orang seperti Bu Arjo membenci santri seperti saya, tetapi mereka memerlukan kami untuk membacakan do'a buat mereka". Kepercayaan dan Sikap Terhadap Kematian Cara pemakaman orang Jawa, sebagaimana dapat diketahui dari uraian terdahulu, bukanlah berupa dukacita histeris, ratap tangis yang tak terkendali atau bahkan lolongan kedukaan yang diresmikan untuk mengantar kepergian almarhum. Sebaliknya, ia merupakan sebuah upaya merelakan yang tenang, tak demonstratif dan lesu, suatu pelepasan yang sedikit diupacarakan untuk sebuah perhubungan yang