Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 7 Siklus Slametan: Slametan Menurut Penanggalan, Desa dan Selingan Slametan Menurut Penanggalan Sebagai tambahan dari siklus slametan yang berhubungan dengan tahap-tahap kehidupan seorang individu, ada siklus lain yang kurang ditekankan dan tak begitu meriah, yang berhubungan dengan kalender tahunan umat Islam.' Setelah mengadopsi pola waktu Islam dalam menghitung bulan menurut rembulan dan hari-hari suci yang berkaitan dengan itu (yang makna ortodoksnya menjadi perhatian kaum santri saja), orang Jawa merasa berkewajiban merayakan periode-periode waktu suci menurut satu-satunya cara yang mereka ketahui: yakni dengan mengadakan slametan. Sekalipun demikian, kecuali untuk perayaan Maulud Nabi serta rangkaian slametan yang berpusat di sekitar puasa,? upacara-upacara ini hanya sederhana saja, tidak begitu penting dan hanya diadakan secara sporadis. Berikut adalah slametan menurut penanggalan yang diakui orang Jawa: Satu Sura: Ini lebih merupakan hari raya Buddha daripada hari raya Islam. Karenanya, ia hanya dirayakan oleh mereka yang secara sadar anti-Islam. Dengan tumbuhnya beberapa sekte anti-Islam yang bersemangat sejak masa perang serta munculnya guru-guru keagamaan yang mengkhotbahkan perlunya kembali kepada adat Jawa yang “asli", frekuensi slametan satu Sura mungkin telah sedikit meningkat. Beberapa individu tertentu yang anti-Islam bahkan berpuasa pada bulan Sura dan tidak dalam bulan Pasa, tetapi ini agak jarang terjadi. 10 Sura: Untuk menghormati Hasan dan Husein, keduanya cucu Nabi, yang menurut cerita, ingin mengadakan slametan untuk Nabi Muhammad ketika beliau sedang berperang melawan kaum kafir. Mereka membawa beras (di mana mereka memperoleh beras di negeri Arab tidak dibahas)