Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 126
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 126 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

kesungai untuk dicuci, tetapi kuda musuh menghampiri dan menendang beras itu ke sungai. Kedua anak itu menangis dan kemudian memungut beras yang telah bercampur dengan pasir serta kerikil. Namun, mereka memasaknya juga menjadi bubur. Dengan demikian, slametan ditandai oleh dua mangkuk bubur—yang satu dengan kerikil serta pasir di dalamnya untuk dimakan para cucu dan satunya lagi dengan kacang dan potongan ubi goreng untuk melambangkan ketidakmurnian, yang akan dimakan olehorang dewasa. Walaupun beberapa orang mengatakan bahwa upacara keagamaan ini—pada dasarnya upacara ini berasal dari kaum Syi'ah, tetapi sudah berubah menurut dacrah—kadang-kadang masih diadakan, tetapi saya tidak pernah melihat ada yang melakukannya di Mojokuto dan pada umumnya memang jarang. 12 Mulud: Hari dimana, menurut konvensi, Nabi dilahirkan dan meninggal dunia. Slametan ini disebut Muludan (ini dan nama bulan itu sendiri, Mulud, diambil dari istilah Arab maulud, “kelahiran”). Slametan ini ditandai dengan ayam utuh yang diisi (bagian dalamnya dikeluarkan, dicuci dan diisi, lalu ayam itu dikaitkan kembali), bentuk sajian yang utama untuk Nabi pada semua slametan. Slametan ini mungkin adalah yang paling teratur diadakan di antara slametan menurut penanggalan lainnya. 27 Rejeb: Slametan ini (disebut Rejeban) merayakan Mi'raj, perjalanan Nabi menghadap Tuhan dalam satu malam. Penganannya sama dengan 'Muludan dan walaupun slametan ini cukup sering diadakan (selalu dalam ukuran sangat sederhana) banyak kalangan bukan santri tidak mengerti apa maksud slametan ini. 29 Ruwah: Permulaan puasa, yang disebut Megengan (dari pegeng, “menyapih”). Slametan ini tanpa kecuali diadakan oleh mereka yang setidaknya salahsatu dari orangtuanya sudah meninggal. (Ruwah, nama bulan itu berasal dari kata Arab arwah, “jiwa orang yang sudah meninggal”). Sebagaimana layaknya slametan kematian, ia ditandai oleh adanya penganan dari tepung beras, apem, yang merupakan lambang orang Jawa untuk kematian. Sejenak sebelum slametan, orang pergi ke makam untuk menyebarkan bunga di kuburan orangtuanya dan roh orangtua ini dianggap hadir dalam slametan untuk makan bau penganan. Orang juga mandi keramas untuk menyucikan diri menghadapi puasa. Berbeda dengan kebanyakan slametan lainnya, megengan diadakan sebelum matahari terbenam (tidak sesudahnya) dan dengan begitu, menandai siang hari terakhir orang diperbolehkan makan, sebelum puasa tiba. 21, 23, 25, 27, atau 29 Pasa: Slametan yang diadakan pada salahsatu dari hari-hari ini disebut Maleman (dari “malam”), karena diadakan pada


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 126 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi