Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 128
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 128 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Muludan, slametan untuk hari lahir Nabi dan Maleman, slametan malam hari menjelang akhir bulan puasa, adalah yang paling penting dari semua upacara menurut penanggalan. Kalangan abangan mempunyai ungkapan berikut: “Kalau Anda mau mengadakan Maleman dan mau pula mengadakan Muludan, maka Anda sudah termasuk seorang muslim. Kalau Anda tidak mengadakan Maleman dan tidak pula mengadakan Muludan, maka Anda tidak termasuk umat Muhammad”— sebuah pandangan tentang Islamisasi yang tak ayal lagi sangat ditolak oleh kalangan ortodoks. Mengatakan bahwa seseorang itu tidak tahu Muludan (atau Maleman) adalah sama dengan mengatakan, dia tidak punya agama dan karena itu sama dengan binatang, sebuah hal yang agak serius bagi orang Jawa yang menganggap kebinatangan sebagai inti dari kejahatan (satu-satunya informasi tentang hukuman incest yang saya dapatkan adalah bahwa “mereka akan disuruh makan rumput seperti binatang”). Makna Maleman yang tepat sulit untuk ditemukan, setiap orang yang Anda temui sepertinya memiliki pengertian yang berlainan— atau tidak punya pengertian samasekali—tentang itu. Saya pernah diberitahu bahwa pada hari-hari inilah, Nabi menyingsingkan lengan serta menyiapkan tentaranya untuk maju perang melawan orang-orang kafir, beristirahat pada hari-hari genap di antara tanggal-tanggal itu (yang disebut trowongan) dan akhirnya kembali dengan kemenangan dari medan perang pada hari besar yang mengakhiri bulan puasa, Riyaya. Orang lain yang agak cerdas, seorang dalang, menceritakan kepada saya bahwa Nabi terkurung di neraka sepanjang bulan puasa dan menjelang berakhirnya bulan itu orang berharap ia akan kembali serta karenanya, menyiapkan pesta untuknya. Namun, pada tanggal 21 dia tidak datang, demikian pula pada tanggal 23 dan seterusnya sampai akhirnya, ia datang pada hari Riyaya. Beberapa orang mengatakan bahwa pada salahsatu tanggal ganjil itulah—tak seorang pun tahu hari yang mana—para malaikat di surga menetapkan nasib manusia untuk tahun mendatang dan karenanya, orang mengadakan slametan dengan harapan agar para malaikat itu akan memudahkan peruntungannya.: Yang lain mengatakan bahwa Al Gur'an mulai diturunkan pada hari ke-21, lalu turun lagi pada tanggal 23, demikian seterusnya hingga lengkap di tangan Muhammad pada hari Riyaya. (Sebenarnya tanggal mulai turunnya Al Gur'an adalah tanggal 17 Pasa, tetapi hanya kaum santri yang merayakan hari itu dan mereka melakukannya dengan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 128 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi