Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
berdo'a di masjid serta ceramah-ceramah). Pak Parto, informan saya yang paling dapat diandalkan dalam soal seperti ini, mengatakan bahwa bagi kalangan abangan, Maleman melambangkan bulan pertama, ketiga, kelima, ketujuh dan kesembilan dari kandungan: Riyaya adalah hari lahir sang bayi: dan Kupatan melambangkan penguburan ari-ari bayi—semuanya penjelasan yang cerdik, kalau tidak ada penjelasan lain. Penafsiran Maleman yang lain adalah bahwa orang hanya sekadar mengundang arwah dari yang sudah meninggal untuk kembali pada hari Riyaya: ia mencerminkan cara abangan untuk zakat-fitrah, kewajiban memberikan derma pada hari Riyaya, atau ia tidak memiliki makna apa-apa dan mencerminkan kesenangan para pemuja berhala Jawa akan upacara-upacara, terutama mereka yang tidak mampu atau tidak mau menjalankan kesederhanaan yang ketat dari Islam murni. Dilepaskan dari unsur-unsur evaluatifnya, pernyataan terakhir ini barangkali dekat kepada kebenaran dibandingkan dengan yang lain. Tidak seperti slametan pergantian tahap, Muludan, Megengan, Maleman dan Bruwah yang diselenggarakan oleh setiap orang pada waktu yang bersamaan, mengakibatkan bukan saja harga-harga di pasar mengalami sedikit kenaikan, tetapi juga pada hari-hari itu, orang harus berkeliling dari satu slametan ke slametan lain dalam semacam pola tukar- menukar antartetangga. Prinsip ketetanggaan tampak paling kuat dalam slametan ini dan orang jarang mengundang, kecuali kurang lebih delapan orang tetangga terdekat. Karena itu, orang akan melihat kelompok-kelom- pok kecil berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengikuti slametan lima menit (yang, bagaimanapun juga, memerlukan kerja kaum perempuan selama satu hari penuh untuk mempersiapkannya), langsung dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam kasus saya, selama periode Maleman, saya mengunjungi enam slametan dan mengadakan slametan sendiri pada tanggal 27 dengan komposisi tamu yang hampir persis sama dengan tiap-tiap slametan itu. Seseorang bisa sedikit menghindari hal ini dengan mengirimkan tonjokan (atau berkat)—hidangan slametan yang dibungkus dalam keranjang daun pisang—kepada beberapa orang yang rumahnya agak jauh atau kepada sanak-keluarga yang tinggal di tempat lain, yang hendak dihormati." Bila kita tidak mengundang seseorang yang pernah mengundang atau sudah mengirim berkat kepada kita, atau mengabaikan seorang tetangga dekat, akan berarti penghinaan berat. Hal demikian tampaknya tak pernah terjadi (kecuali ketika dua orang