Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
jatuh dari pohon atau sebuah jamur payung yang luarbiasa besar tiba- tiba tumbuh di halaman belakang—adalah begitu umum dan mungkin terlihat dengan baik sekali pada reaksi terhadap mimpi-mimpi yang mencemaskan. Iaberkata bahwa orang Jawa mempercayai mimpi untuk meramalkan hari depan. “Kalau Anda memimpikan sesuatu, itu pasti terjadi: tentang kapan waktunya—di satu tahun, satu bulan, satu minggu—Anda tak bisa mengatakannya, tetapi itu pasti terjadi. Kalau Anda bermimpi tentang suatu kejadian yang menakutkan, tetapi Anda tidak tahu pasti apa, Anda harus mengadakan sebuah slametan untuk mencegahnya. Kalau Anda menjumpai orang yang mengadakan slametan sepanjang waktu, ini mungkin yang jadi sebabnya, karena dia begitu sering bermimpi buruk." Namun, stimulus lain untuk mengadakan slametan selingan bisa disebabkan oleh karena mengikuti ajaran-ajaran “bid'ah" dari seorang yang mengangkat dirinya sebagai guru. Salah seorang informan saya, misalnya, mengikuti ajaran seseorang yang mengatakan bahwa cara asli Jawa dalam melakukan sesuatu adalah dengan mengadakan slametan pada hari lahir Anda, yakni setiap 35 hari, tetapi tidak pada hari-hari lainnya. Walaupun ia tidak bisa meninggalkan slametan reguler sebagaimana dinasihatkan, ia menambahnya dengan slametan baru untuk perlindungan tambahan. Pengaruh kebiasaan Belanda— kebanyakan di kalangan priyayi—kadang-kadang mengarah pada slametan yang tidak biasa: beberapa orang, misalnya, mengadakan slametan kawin perak atau pesta pertunangan. Ada peristiwa-peristiwa tradisional tertentu yang mewajibkan slametan yang tak tentu waktunya, seperti slametan yang harus diadakan untuk anak tunggal agar ia tidak jadi mangsa Batara Kala, dewa Hindu yang jahat. Orang harus mengadakan pertunjukan wayang untuk ini dan biayanya menyebabkan slametan ini jarang diadakan orang sekarang ini, sekalipun kadang-kadang orang mengadakannya dalam kombinasi dengan hajatan lainnya, seperti misalnya khitanan. Akhirnya, ada juga slametan yang bisa dianggap merupakan efek dari “zaman baru” Indonesia, misalnya, seorang pengusaha peti bir mengadakan slametan untuk merayakan mesin gergaji kayu bertenaga diesel yang baru diimpornya dari Jerman Barat.