Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
santri menganggap bahwa apa pun pengobatan yang dilakukan seorang “muslim sejati” didasarkan atas pengetahuan medis ilmiah yang terdapat didalam Al Gur'an beratus-ratus tahun sebelum ia “ditemukan” di Barat. Akhirnya, dukun abangan cenderung lebih menekankan pada teknik yang spesifik, jimat, mantra, tumbuh-tumbuhan, ramuan obat dan sebangsanya. Namun, harus diakui bahwa batas-batas ini sebenarnya kabur, kebanyakan dukun menggunakan beberapa dari semua teknik ini dan beberapa jenis persiapan spiritual memang diperlukan dalam kasus apa pun. Ia bercerita bahwa ketika mulai menjadi dukun, ia berpuasa selama 100 hari, tidak makan nasi, hanya daun-daun pepohonan dan barang- barang seperti itu. Pada saat lain, dia melakukan ini selama setahun, karena ini adalah cara dia mendapatkan kekuatannya. Dia mengatakan bahwa sekarang dia hanya berpuasa pada hari Senin dan Kamis setiap minggu. Waktu selebihnya dia bisa makan sekehendaknya. Pada hari Senin dan Kamis, dia tidak makan serta minum dari fajar sampai matahari terbenam seperti pada bulan puasa. Saya bertanya kepadanya, kenapa berpuasa bisa memberinya kekuatan. Jawabannya, "Kalau Anda berpuasa, maka jiwa Anda (dia tidak menggunakan kata, hanya menunjuk pada kepalanya) berhubungan langsung dengan Tuhan. Kalau Anda tidak berpuasa, jiwa Anda lebih mudah belok ke suatu tempat”. Apa pun yang dipelajari oleh dukun praktik selalu berasal dari dukun lain, yang dengan demikian, menjadi gurunya. Apa pun yang ia pelajari, ia serta orang-orang lain menyebutnya sebagai ilmu-nya. Ilmu biasanya dianggap sebagai sejenis pengetahuan abstrak atau keahlian supranormal, tetapi oleh mereka yang berpikir lebih konkret dan “ku- no", ilmu kadang-kadang dianggap sebagai semacam kekuatan magis pengganti, yang transmisinya bisa lebih langsung daripada melalui pengajaran. Pada hari Minggu pagi, kami mampir di rumah saudara perempuan Abdul, yang sehari sebelumnya mampir ke rumah kami dalam perjalanannya ke sebuah desa jaraknya dekat, tempat ayah mereka sedang menghadapi sakaratul maut selama 10 hari terakhir ini. la mengatakan bahwa apa yang membuatnya bertahan hidup adalah karena nafasnya (yang oleh orang Jawa dianggap sebagai tempat kedudukan kehidupan) masih berada dalam dirinya dan belum keluar. Menurut dia, mungkin nafas itu mencoba keluar, mencoba lagi, mencoba lagi, tetapi belum berhasil. Menurut dia, barangkali nafasnya sudah