Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 143
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 143 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Sekarang ini, semua dukun terkemuka di Mojokuto setidaknya sudah berusia setengah baya, tetapi tak seorang pun yang benar-benar tua. Dari dukun-dukun yang benar-benar dikenal luas, tiga orang adaiah abangan, seorang santri, Seorang lagi camat dari kalangan priyayi. Semuanya, kecuali camat, adalah keturunan dukun: dan semuanya, kecuali camat, adalah juga tuantanah kecil (memiliki tanah antara 6069 sampai 8092 meter persegi) yang menyewakan tanahnya kepada para penggarap agar ia bisa bebas mengobati orang atau (dalam satu kasus) menggarapnya sendiri. Jadi, tidak seorang pun di Mojokuto yang penghasilan seluruhnya berasal dari mata pencarian sebagai dukun. Paling banter dukun itu hanya spesialisasi sambilan. Tak seorang pun dari dukun terkemuka yang sangat miskin dan tak seorang pun, kecuali lagi-lagi camat,? yang benar-benar kaya. Semuanya adalah anggota dari kategori ekonomi yang unik, yang oleh orang Jawa disebut “cukupan". Mengenai kepribadian, agaknya tidak ada yang membedakan dukun-dukun terkemuka itu dari para tetangga mereka. Mereka tidak menunjukkan ciri watak yang tak lumrah dan tidak menunjukkan tingkahlaku neurotik. Mereka pun tidak dianggap sebagai lain dari yang lain. Dengan satu pengecualian, hanya sedikit tanda bahwa para dukun ini memilih kejuruan mereka, karena mengalami kegagalan dalam mencapai keinginan berkuasa atau memperoleh prestise. Pasalnya, mereka bukanlah jenis orang yang tidak bisa mencapai kekuasaan serta prestasi melalui saluran-saluran normal dan, dalam kenyataannya, peranan dukun, sekalipun ada prestisenya, tetapi juga cenderung menimbulkan kecurigaan, karena beberapa orang selalu mencurigai dukun seolah-olah melakukan penipuan maupun sihir. Setelah dipertimbangkan semuanya, sulitlah menghindari kesan bahwa dalam konteks abangan, peranan dukun adalah peranan yang cukup langsung diadopsi orang karena alasan-alasan yang cukup bisa dimengerti: perdukunan menghasilkan pendapatan uang, sekalipun tampaknya tak begitu banyak. Ia juga membawa sedikit prestise, walaupun hal ini paling banter bersifat ambivalen. Mereka percaya kepada keahliannya sendiri dan senang mempraktikkannya dengan sukses. Kesan tentang “kenormalan” peranan dukun diperkuat oleh per- timbangan bahwa sebagai tambahan dari lima dukun yang cukup terkenal, benar-benar ada berlusin-lusin dukun yang kurang begitu terkenal—kebanyakan abangan—yang keampuhannya dianggap


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 143 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi