Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kurang, tetapi sebagian penghasilannya diperoleh dari mengobati orang, mencari barang yang hilang, mengerjakan sihir dan sebagainya. Dalam tiap lingkungan, tampaknya selalu saja ada orang, biasanya sedikit lebih tua serta sedikit lebih “cerdas” dari penduduk lainnya, yang menjadi tumpuan untuk diminta pertolongan di kala sakit, kecurian dan sebagainya. Jarang sekali orang pergi ke dukun-dukun yang lebih baik, kalau bukan dalam kasus-kasus yang lebih serius. Dalam kenyataannya, karena hampir semua laki-laki dewasa setidaknya mengetahui be- berapa kata mantra dan bisa dipanggil untuk memberi pertolongan dalam mengobati seorang tetangga, mencari cincin yang hilang, atau menarik hati seorang gadis, maka peranan dukun, walaupun merupakan spesialisasi profesional, berubah sedikit demi sedikit menjadi sebuah praktik amatir yang tidak teratur. Kalau orang cukup lama tinggal di Mojokuto, ia akan mendengar bahwa hampir semua orang di kota pernah dianggap sebagai dukun pada suatu saat. Walaupun akan jelas bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang sebenarnya dianggap sangat baik sebagai dukun dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk praktik ini. Keanehan lainnya yang terdapat dalam peranan dukun adalah bahwa teputasi seorang dukun kelas satu selalu lebih besar di luar daerah tempat tinggalnya daripada di daerahnya sendiri. Dukun yang benar-benar baik didatangi banyak klien dari jauh. Kata orang, mereka lebih efektif mengobati orang-orang yang tidak mereka kenal sebelumnya walaupun kenapa persisnya hal ini terjadi, tak seorang pun yang tahu. Banyak orang Mojokuto yang pergi ke dukun di tempat-tempat lain di Jawa Timur. Induk semang saya pergi ke seorang yang tinggal dekat Malang, sekitar 96 kilometer ke timur, untuk memperoleh sedikit sihir guna melawan seorang pencuri. Dan seorang tua yang telah beberapa lama sakit, pergi 161 kilometer dengan sebuah truk untuk menjumpai seorang dukun yang hanya samar-samar didengarnya. Perjalanan itu sendiri hampir-hampir menyebabkan kematiannya. Begitu pula, dukun-dukun terkemuka di Mojokuto umumnya memperoleh pasien-pasien mereka dari tempat- tempat lain sejauh Surabaya, 161 kilometer ke utara, walaupun mereka sering dianggap menipu oleh tetangga-tetangga mereka yang paling dekat. Bagaimana caranya mereka yang dari jauh itu bisa tahu tentang dukun- dukun di Mojokuto, saya tidak bisa menemukan sebabnya. Bila saya tanyakan hal ini kepada seorang dukun, ia menegaskan bahwa Tuhanlah yang membawa para pasien ini kepadanya.