Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
keteraturan prosedur-prosedur tradisional yang digunakannya, oleh kokohnya disiplin si dukun dan luasnya ia belajar, oleh penegasannya bahwa ia hanya dapat menyembuhkan dengan pertolongan Tuhan, oleh statusnya yang mirip orangtua dan biasanya oleh reputasinya sendiri yang cukup baik sebagai warga masyarakat—“sifat-sifat baik borjuis” ini mengimbangi kekuatan-kekuatan yang tidak jelas secara moral, yang dengannya ia berurusan dan kemungkinan melakukan perbuatan jahat yang dikesankan orang kepadanya—dukun tiban tidak memiliki perlindungan serupa itu. la menukar penerimaan sosial atas praktik dukun biasa dengan kemampuan lebih besar yang dimungkinkan, melalui pendekatan yang lebih sederhana, langsung dan sangat tidak berhati-hati kepada kekuatan-kekuatan yang lebih gelap. Peran dukun biasa dan dukun tiban berbeda hampir dalam segala hal. Kalau kemampuan dukun biasa didasarkan atas belajar tambahan dan kadang-kadang juga faktor keturunan, kemampuan dukun tiban datang secara tiba-tiba, tanpa persiapan apa pun dari pihak yang bersangkutan, karena “tertimpa sesuatu yang suci" (tiban berarti sesuatu yang jatuh dengan sendirinya, seperti suatu “keajaiban yang jatuh dari langit”). Kalau kebanyakan dukun biasa adalah laki-laki, maka mayoritas dukun tiban adalah perempuan. Kalau dukun biasa pada umumnya stabil secara psikologis dan terjamin dalam hal ekonomi, dukun tiban biasanya dianggap setidaknya kurang seimbang secara psikologis dan datang dari kalangan yang secara ekonomis menderita. Sementara kemampuan dukun biasa lestari serta relatif sedang-sedang saja, maka kemampuan dukun tiban bisa hilang secara mendadak sebagaimana kedatangannya semula (biasanya dalam setahun, tetapi hampir selalu dalam tiga tahun) dan selama kemampuan itu ada, intensitasnya senantiasa semakin besar. Kalau dukun biasa jumlahnya banyak di mana-mana, maka dukun tiban sangat jarang dan muncul secara sporadis saja (kebanyakan informan mengatakan bahwa di sekitar Mojokuto, ada saja muncul satu orang kurang lebih setiap lima tahun). Dan apabila paling banter hanya terdapat skeptisisme yang lunak terhadap kemanjuran maupun moralitas praktik dukun biasa, ada ketaksepakatan yang tajam baik mengenai kenyataan maupun sifat etik kekuatan-kekuatan yang dipanggil oleh dukun tiban. Satu-satunya dukun tiban yang akan muncul di wilayah Mojokuto selama lima atau enam tahun terakhir, untungnya, “muncul” pada masa studi lapangan saya di sebuah desa tepat di sebelah utara Mojokuto,