Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dibisikkan kepada orang-orang lain sebagai desas-desus jahat atau didiskusikan secara agak abstrak sebagai hipotesis untuk menerangkan kelakuan-kelakuan yang aneh. Jadi, seorang perempuan yang perkawinan ketiga kalinya dengan orang yang sama berakhir dengan cara yang sama sebagaimana dua perceraian sebelumnya—karena suaminya menghabiskan semua uang di permainan kartu—ketika ditanya mengapa ia mau kawin lagi dengannya, sekalipun sudah demikian keadaannya, akan mengatakan secara sungguh-sungguh bahwa ia mungkin telah disihir. Ketika pemilihan lurah yang pertama di desa tempat saya tinggal dinyatakan tidak sah oleh pemerintah, banyak orang menganggapnya sebagai keberhasilan usaha dukun yang diberi tugas oleh calon yang kalah. Seorang laki-laki bercerita kepada saya bahwa dua tahun setelah isterinya meninggal, tiba-tiba ia menemukan bahwa musuh lamanya telah menyihir isterinya. Ketika saya tanya, apakah ia akan menenung kembali penjahat itu atau melakukan pembalasan lain kepadanya, ia mengatakan tidak, karena sekarang semuanya sudah berlalu. Perhatian utamanya kepada pengertian sihir tampak terutama sebagai penjelasan atas sesuatu yang tak bisa diterangkannya dengan cara lain. Dalam banyak hal, penderitaan langsung akibat sihir adalah nyata secara psikologis dan tuduhannya kuat. Seorang muda yang lamarannya ditolak mempersalahkan tekanan batinnya yang pedih kepada kenyataan bahwa gadis itu bukan hanya menolak lamarannya saja, tetapi juga me- minta seorang dukun untuk menyihirnya dan anak itu selama beberapa minggu makan dalam gelap gulita, bersembahyang tiga jam lamanya tiap malam (ia seorang santri) dan, saya kira, meminta dukun yang meru- pakan temannya sendiri untuk mengirim beberapa kutukan balasan kepada gadis itu. Bahkan dalam kasus-kasus semacam ini, dimana rasa sakit adalah nyata dan bersifat langsung, tuduhan tak pernah dinyatakan secara langsung kepada penjahat yang disangka, tidak pula dilakukan tuntutan secara publik. Penyiaran desas-desus kepada semua tetangga adalah pola umumnya. Bu Min mengajak saya ke rumahnya. (Ia tetangga kami, sebagaimana juga orang yang dituduhnya). Ia menunjukkan kepada saya dua gelas air yang telah disiapkannya, masing-masing untuk ayah dan ibunya almarhum. Bersama dua gelas itu, ada juga segelas kopi dan satu kotak bumbu perlengkapan menginang. Ia mengatakan bahwa seharusnya disediakan juga sebatang rokok untuk almarhum ayahnya. Kemudian, setelah mempersilahkan saya duduk, ia mulai berbisik-bisik kepada