Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 9 Permai: Sekte Abangan Modern Selain pembagian antara abangan, santri dan priyayi yang telah saya tekankan, ada lagi pembagian kedua yang harus dilakukan, yang tanpanya, kebanyakan kepercayaan dan perilaku keagamaan di Mojokuto akan sangat sukar ditafsirkan. Ini adalah pembagian antara kuno (atau kolot) dan modern. Kuno berarti tradisional, cara zaman dulu. Modern mempunyai arti persis seperti bunyi kata itu sendiri—modern, dan kontras antara kata Jawa dengan kata kedua yang samasekali bukan kata Jawa, tetapi dipinjam dari bahasa Belanda lewat bahasa Indonesia, memberikan gambaran dari kontras antara kepercayaan-kepercayaan keagamaan, ideologi serta moral yang dimaksudkan oleh istilah itu. Untuk orang kuno, adat kebiasaan orangtua mereka adalah cukup baik, sementara godaan masa kini dianggap sebagai jerat dan angan-angan belaka. Bagi orang modern, yang kebanyakan mengelompok di kota, ada keperluan untuk mengubah kepercayaan kepada masa lampau agar selaras dengan apa yang mereka anggap sebagai tuntutan masa sekarang. Bahwa perubahan semacam itu kadang-kadang secara paradoksal mengambil bentuk pengembalian kepada bentuk kepercayaan yang dianggap lebih awal dan lebih murni, lebih memuaskan daripada kemerosotan yang mengiringinya. Hal itu tidak mengherankan jika dilihat dari berbagai kajian antropologi tentang gerakan kebangkitan kembali keagamaan di berbagai bagian dunia, atau malahan dalam sejarah agama Kristen: para rasul Kristen juga mengutuk masa kini atas dasar ukuran masa lampau. Kontras antara kuno dan modern tampak paling tajam di kalangan santri, yang telah membawa sebuah keretakan yang serius dalam kelompok itu, tetapi kontras itu memang membelah seluruh masyarakat serta semua kategori. Di kalangan abangan, hal ini menyebabkan munculnya salahsatu manifestasi yang paling menarik—sebuah sekte