Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
berpolakan kepercayaan abangan, tetapi dengan modifikasi dan makna- makna tersembunyi yang hanya bisa dipahami oleh para pencetusnya. Ketiga, sebuah organisasi sosial yang sangat gigih menentang Islam, yang sebagian besar terdiri atas buruh-buruh kota, baik yang bekerja maupun yang menganggur, kalangan radikal desa yang melarat serta pekerja-pekerja perkebunan dulu dan sekarang. Permai, menurut para pemeluknya, didasarkan pada “ilmu asli murni”, pada kepercayaan Jawa “asli" seperti sebelum dikorup oleh tambahan-tambahan dari Hindu dan, lebih khusus lagi, Islam. “Setiap orang mempunyai ilmunya sendiri”, demikian menurut keterangan seorang pemimpinnya. “Orang Barat mempunyai ilmu mereka sendiri, orang Islam mempunyai ilmu mereka sendiri dan kita orang Jawa punya ilmu kita sendiri. Ilmu itu cocok baik untuk kehidupan modern maupun kehidupan lain yang manapun. Sulitnya orang Indonesia selalu mencoba menjadi orang Hindu, Arab atau Belanda daripada menjadi orang Indonesia. Sekarang setelah kita merdeka, kita harus menggali filsafat nenekmoyang kita dan membuang jauh-jauh semua ilmu asing itu”. Sikap anti-Hindu Permai hanyalah pro forma saja dan banyak gagasan maupun praktik yang oleh orang-orang ini dianggap “asli”, sebenarnya berasal dari India juga, tetapi oposisi kepada Islam benar- benar sangat keras dan dilaksanakan dengan baik sekali. Dia (seorang anggota Permai) melancarkan kecaman-kecaman terhadap umat Islam. Katanya ada dua macam Islam di Indonesia, Islam Arab, yang asing dan Islam lugu (secara harfiah berarti “modal awal”). Yang terakhir ini adalah agama asli di sini, sedangkan yang pertama adalah impor dari luar. Kemudian ia melanjutkan perbandingan poin demi poin dari keduanya. Islam Arab mempunyai sembahyang lima waktu, tetapi Islam Jawa bersembahyang setiap waktu, kapan saja. Mereka bisa saja bersembahyang 40 kali sehari atau tidak sembahyang samasekali, tergantung kepada situasi. Selain itu, mereka tidak bisa dilihat jika sedang sembahyang. Sembahyang adalah soal-soal dalam dan tak perlu diucapkan keras-keras, sembahyang itu seluruhnya dilakukan dengan pikiran, sementara kaum santri bersembahyang dengan membaca do'a keras-keras dan menggerakkan tubuh mereka menurut gerak-gerik sembahyang. Kedua, soal sedekah. Untuk kalangan santri, hanya sekali setahun, sebuah jumlah yang tetap, ada kewajiban memberi beras kepada fakir miskin. Orang-orang Permai, katanya, menganggap besek daun pisang yang berisi makanan yang diberikan orang pada slametan adalah sedekah dan mereka melakukan ini sepanjang tahun: mereka tidak perlu