Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
akan bersifat nasionalis: saya hanya bisa mengakses sebagiannya saja. Secara umum, doktrin itu tampaknya merupakan peleburan ideologi nasionalis modern, khususnya sebagaimana ditetapkan dalam Pancasila, “Lima Dasar”, rumusan Presiden Sukarno yang terkenal (Monoteisme, Nasionalisme, Perikemanusiaan, Keadilan Sosial dan Demokrasi), yang merupakan dasar filsafat resmi Republik Indonesia yang baru, dengan pola keagamaan Jawa tradisional seperti ramalan menurut penanggalan, simbolisme makanan dan beberapa metode disiplin spiritual, ditambah satu catatan baru tentang moralisme yang eksplisit, yang di satu sisi, dimaksudkan untuk menandingi moralisme Islam serta di sisi lain, untuk menghubungkan nilai-nilai petani tradisional, seperti rukun (kerjasama dalam pembangunan rumah, pengairan dan sebagainya) dengan etika Marxi. Semua tema ini muncul dengan jelas dalam pertemuan-pertemuan terbuka Permai yang diselenggarakan di beberapa desa di wilayah Mojokuto, pada atau sekitar tanggal satu Sura, permulaan tahun baru Jawa, ditahun 1953, sebuah hari yang dengan sendirinya melambangkan kepercayaan “Jawa” sebagai lawan dari kepercayaan “Islam". Di desa tepat saya tinggal, di mana Permai mempunyai pengaruh kuat, pertemuan tahunan ini diadakan di rumah seorang pegawai rumah sakit. Gubuk bambunya yang kecil, pada peristiwa itu, dihiasi seperti ia sedang mengawinkan anak perempuannya atau menyunat anak laki-lakinya. Janur kuning dilingkarkan di pintu gerbang, dengan kain bendera merah putih menghiasi rumah dan tambahan atap dari anyaman daun untuk melindungi tamu-tamu pria dari hujan. Kaum perempuan, Sebagaimana biasanya, duduk di dalam rumah. Di serambi depan, ada corong pembicara yang ditempatkan di tempat yang tinggi dengan berbagai jenis hasil pertanian, seperti jagung, singkong, cabe, kacang kedelai, bawang. Di depannya, diletakkan bendera Indonesia yang lebar. Pertemuan itu dibuka dengan slametan singkat, dengan nasi tumpeng, kemenyan dan semuanya—sekalipun tidak ada pembacaan do'a dalam bahasa Arab. Pak Min, (pegawai rumah sakit itu) membuka pertemuan dengan bentuk kesopanan yang lazim. Ia menjelaskan bahwa pertemuan ini adalah rapat Permai, bahwa Permai adalah ilmu keagamaan dan bahwa tujuan ilmu ini adalah membuat setiap orang jadi rukun—mampu hidup bersama secara damai serta membantu kemajuan satu sama lain di zaman baru ini. Wito, pemimpin muda kelompok itu yang agr: