Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
yang secara logis tak tercela ini adalah bahwa modin juga merupakan ahli keagamaan dan teknis dalam mempersiapkan orang buat keperluan pemakaman, “pengurus” pemakaman d la Jawa, maka orang pun agak bingung tanpa bantuannya. Begitu pula, karena jarang sekali seorang yang meninggal itu begitu konsisten sehingga hanya mempunyai sanak-kerabat warga Permai saja, maka dalam tekanan kesedihan, dimana orang tak begitu tertarik kepada reformasi sosial dalam bentuk apa pun, desakan untuk menyelenggarakan pemakaman secara tradisional selalu ada. Perempuan yang saya sebut terdahulu, yang menggantung diri karena tumpukan utang akibat pesta khitanan yang terlampau meriah, adalah isteri seorang warga Permai. Orang kedua dalam pimpinan Permai di Mojokuto, seorang tukang sepatu, bergegas ke desa tempat perempuan itu tinggal serta menyatakan kepada modin yang bertugas, bahwa suaminya adalah anggota Permai, sehingga ia lebih baik pulang saja dan mengerjakan urusannya sendiris modin itu, teringat akan saran camat, segera pulang dengan tergopoh-gopoh. Akan tetapi, suami perempuan itu, yang hancur hatinya karena mendapati kenyataan bahwa isterinya bunuh diri dan tak mau lagi menambah persoalan, sejenak kemudian datang ke rumah modin itu sambil meratap serta memintanya atas nama Tuhan untuk melaksanakan upacara pemakaman Islam yang biasa, mulai dari memandikan, mengkafani sampai menyembahyangkan mayat. Modin itu pun, saya kira dengan rasa puas, menyanggupinya. Sebuah kasus yang lebih dramatis lagi mengenai konflik yang sama terjadi di lingkungan saya. Seorang laki-laki berusia sekitar 10 atau 11 tahun yang tinggal bersama bibi serta pamannya, seorang penjual es dan anggota Permai yang setia, meninggal secara mendadak. Sang modin, karena menuruti kebijaksanaan camat, menolak untuk campurtangan. Akibatnya, seluruh pemakaman terhenti dan jasad anak itu terlentang sepanjang pagi di rumah tanpa ada sesuatu pun yang dilakukan untuk persiapan pemakaman. Tak lama kemudian, seorang santri kenalan pamannya—yang lebih lunak dari kebanyakan lainnya— mencoba menolong serta memandikan anak itu, tetapi ia diingatkan oleh modin, bahwa dengan begitu ia memikul tanggungjawab yang berat dan karenanya ia menjadi ragu, karena takut melakukan dosa besar. Semua tamu hanya duduk dalam suasana yang bertambah tegang, tanpa ekspresi seperti biasanya, bertanya-tanya apa yang akan