Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
terjadi selanjutnya. (Karena tarikan tradisi mengharuskan semua orang sekitar berkumpul pada pemakaman, maka di sana pun kalangan santri atau abangan tampak hadir, tetapi mereka duduk terpisah). Sesudah kurang lebih satu jam kemudian, ayah dan ibu anak itu tiba dari rumah mereka di Surabaya. Dan mungkin karena tersentak oleh keadaan yang kacau-balau, ibu dan bibi si anak menjadi histeris, satu-satunya ledakan emosi dalam kematian yang pernah saya jumpai di Mojokuto. Santri teman sang paman kemudian mendekati ayah anak itu—sang modin, sebagai pejabat pemerintah merasa tidak seharusnya melakukan itu—dan bertanya kepadanya, apakah ia menginginkan pemakaman secara Islam. Ayah itu, karena bukan anggota Permai, menjawab ya. Dengan ini, modin pun melaksanakan kembali perannya dengan gembira dan pemakaman itu diselesaikan dengan pola yang biasa. Namun, slametan hari ketiga berubah menjadi pertemuan politik Permai di rumah paman anak itu dan bukan pesta serta pembacaan do'a sebagaimana biasa. Tak seorang santri pun hadir di sana. Mungkin yang paling menarik dari semua ini adalah kenyataan bahwa pada suatu ketika, modin meminta kepada para pemimpin Permai untuk memimpin upacara, tetapi karena kurang percaya diri, mereka menolak. Dan mereka juga gagal dalam ujian berikutnya ketika ayah anak itu ternyata menyetujui pemakaman secara Islam. (Ketika ditanya apakah ia menginginkan pemakaman secara Islam, ia menjawab, “Tentu saja, saya memang bukan pemeluk agama yang teguh, tetapi saya bukan orang Kristen?”). Kalau para pemimpin Permai itu bersedia memimpin upacara, kita pasti sudah menyaksikan kasus asli dari perubahan upacara. Kita akan menangkap proses historis pada titik yang susah ditangkap, dimana segala sesuatu berhenti berjalan sebagaimana biasanya dan berubah menjadi sesuatu yang lain, dimana sebuah pola bubar dan digantikan oleh pola yang baru. Bagaimanapun juga, dalam gerakan Permai, orang melihat sistem keagamaan abangan yang mencoba memperluas wilayahnya dengan memasukkan pengalaman sosial baru, yang menyesuaikan dirinya kembali dalam sebuah konteks, dimana segala sesuatu yang semula dianggap tetap, telah berubah dan dimana ada tuntutan yang lebih dari sekadar hubungan timbal balik yang sederhana dan pengendalian emosi. la merupakan sebuah sistem keagamaan yang dirancang untuk petani yang datang ke kota.