Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
ia akan berangkat ke Mekkah. Kalau ia orang yang serius, ia belajar kepada seorang guru di Mekkah. Kalau ia bukan seorang yang serius, ia belajar dengan berkeliling melihat-lihat keadaan. Namun, terlepas dengan cara mana ia belajar, kalau ia kembali, ia akan dianggap sebagai seorang ahli agama serta pengarung dunia dan terkadang, ia mendirikan tempat belajar Al Gur'an yang disebut pondok (kadang-kadang disebut juga pesantren, yang diambil dari kata asal santri—"pelajar agama”) dimana para murid, pemuda-pemuda berumur antara enam sampai 25 tahun, mengisi sebagian hari mereka dengan mengaji Al Gur'an dan sebagian lagi dengan bekerja di sawah haji? itu untuk membiayai hidup mereka. Pada awal abad ini, pernah ada hampir selusin pondok demikian dengan ukuran layak di sekitar Mojokuto. Beberapa darinya terkait dengan industri pencelupan kain atau industri rokok dengan tangan, dimana para murid itu bekerja. Manfaat ekonomi dari etik keagamaan yang menekankan hidup hemat, kerja keras dan usaha individual, ditambah dengan suatu bentuk pendidikan yang cenderung menciptakan organisasi kerja yang lebih rasional dibandingkan dengan adat pertukaran kerja tradisional di kalangan abangan, telah membuat istilah haji sama artinya dengan “orang kaya” di wilayah Mojokuto. Di Mojokuto, tumbuh sejumlah pesantren seperti ini, umumnya masih bersangkut-paut dengan pengajian Al Gur'an secara sederhana yang maknanya pun tidak mereka mengerti. Masing-masing pesantren terpisah dan berdiri sendiri, menjadi sejenis agama sendiri di bawah gurunya sendiri dan terkadang, bersaing dengan semua pesantren lain di wilayah itu. Akan tetapi, pada 1915, pengaruh perkembangan situasi nasional mulai terasa di kota Mojokuto, dimana sekelompok pedagang, guru dan terutama pejabat pemerintah dengan dipimpin oleh seorang kiai? yang berapi-api dan tidak konvensional, yang pondoknya terletak tepat di pinggir kota, mendirikan cabang Sarekat Islam, partai massa Islam yang baru didirikan di Jawa Tengah tiga tahun sebelumnya. Kiai itu, yang juga seorang haji—dan karenanya dipanggil orang Kiai Haji Nazir—ditakdirkan memainkan peran memimpin pada tiap tahap perkembangan berikutnya, menjadi penganjur terkemuka dan pembela modernisme Islam, serta diidentifikasi dengan modernisme itu, sesuatu yang tidak pernah dialami orang lain di Mojokuto. Ia dihor- mati dan dipuja oleh mereka yang setuju padanya, dibenci dan dicaci oleh mereka yang menentangnya. Karenanya, adalah menarik untuk mencatat bahwa gambaran wataknya yang saya terima dari semua orang