Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
yang mengenal dia, baik yang menyukainya maupun tidak, merupakan pribadi yang tidak khas dilihat dari nilai-nilai Jawa. Saya bertanya kepadanya (seorang santri modernis yang sekarang belajar kepada putera Haji Nazir) apakah ia mengingat Kiai Nazir dan dia mengatakan iya. Jelas dia memang mengenalnya dan katanya, Nazir adalah seorang yang sangat keras wataknya hampir seperti Haj Zakir (salah seorang pengikut terkemuka, seorang pedagang tua, yang masih tinggal di Mojokuto), hanya tentu saja Nazir lebih mempunyai otak, berani berdebat dengan siapa saja, di mana saja, bahkan dengan orang-orang yang lebih besar dan lebih terkenal di seluruh Jawa. Ia tidak perduli: ia langsung menyeruduk mereka. Kalau Nazir marah, ia akan terang-terangan memperlihatkannya bahkan dalam kereta api dengan banyak orang di sekelilingnya atau di depan umum sekalipun. (Semuanya ini diceritakan dengan nada merendahkan oleh Umar, informan itu sehingga saya mendapat kesan, bahwa menurut anggapan umum, Nazir adalah seorang yang tidak terlalu “sopan” atau “beradab”. Dia tidak hanya menceritakan kebaikannya secara terbuka, tetapi ia menyatakannya secara langsung dan menunjukkan perasaannya di depan umum—semuanya dosa besar bagi orang Jawa). Ia bertengkar dengan pemimpin setempat lainnya hampir di sepanjang waktu dan sangat terang-terangan—khususnya dengan kiai di Tebuireng (pemimpin gerakan konservatif di seluruh Jawa serta mungkin merupakan kiai yang paling terkenal serta paling dihormati di seluruh pulau itu) dan pada umumnya, orang tidak suka dengannya. Ia juga bekerja sangat keras dan sangat tepat waktu. Kalau seseorang terlambat ke sekolah, n marah sekali. Kalau hujan turun dan ia sudah mengadakan janji untuk bertemu atau mengajar di kelas, ia akan menerjang hujan itu sebagaimana biasa, tak peduli betapapun jauhnya dan kalau orang tinggal di rumah karena hari hujan, kemarahannya tak mengenal batas. (Untuk hampir setiap orang Jawa, bukan hanya tepat waktu itu tidak nggap sebagai keutamaan, tetapi juga menepati janji bertemu selagi hujan turun merupakan sesuatu yang anehi satu-satunya orang yang menepati janji dengan saya walaupun hujan, sepanjang masa saya tinggal di Jawa, hanyalah Haji Zakir, pengikut Nazir). Ia selalu harus mengatakan secara langsung apa yang ada dalam pikirannya: dan kata 'Oorang, serangan jantung yang menyebabkan kematiannya adalah karena dimasa Jepang, ia tidak bisa bicara secara terbuka, lalu memendamnya dalam hati, sehingga membuat jantungnya pecah. Nazir lahir di Mojokuto pada 1886, keturunan langsung gelombang pendatang pertama dari Kudus dan anak seorang kiai lama yang memimpin sebuah pondok di dekat kota dengan murid lebih dari 100