Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
orang yang Islamnya belum sempurna dan mengeluarkan mereka ini dari kaumnya. Sementara, ulama klasik terdahulu membawa orang setapak demi setapak serta bersedia menerima pengikut yang “tidak murni" dan “tidak sempurna”. Katanya, banyak oposisi yang keras terhadap Nazir pada masa itu. Semua kiai di wilayah itu menentang dia dan suasana menjadi agak panas serta berat untuk sementara waktu. Tetapi, aspek politik dari partai Nazir mencampuri aspek keagamaannya, terutama setelah Belanda yang merasa khawatir oleh pemberontakan komunis di Jawa Barat dan Sumatera pada 1926, mulai menekan semua partai politik yang tidak mau bekerjasama serta secara resmi melarang pejabat-pejabat negara untuk menjadi anggota partai-partai itu. (Di Mojokuto, Karman, pemimpin SI-Merah ditahan dan diasingkan ke Irian Jaya). Dalam konteks seperti itu, bahkan kehadiran dalam salahsatu rapat Nazir, menurut banyak orang, terasa sama bahayanya dengan tindakan menghasut dan akibatnya ia pun dikucilkan. Pada 1931, sebuah cabang Muhammadiyah, organisasi Islam yang bergelut dalam bidang kesejahteraan sosial dan juga berpusat di Yogyakarta, didirikan di Mojokuto. Diabdikan tidak saja kepada penyebaran ajaran Abduh, tetapi juga pada penerapannya, perkumpulan ini menaruh seluruh perhatiannya pada masalah-masalah agama dan mengesampingkan masalah-masalah politik. la menganjurkan kerjasama dengan pemerintah. Kombinasi antara konservatisme politik dengan radikalisme agama menarik perhatian kalangan yang lebih terpelajar di antara keluarga penghulu yang dipekerjakan negara dan keluarga Arab, yang samasekali tidak tertarik kepada nasionalisme Indonesia dalam bentuk apa pun. Karenanya, ia merupakan koalisi dari anggota dua kelompok ini, ditambah dengan seorang penilik sekolah setempat dan pedagang santri yang baru saja tiba, yang memulai Muhammadiyah di Mojokuto. Walaupun Nazir yang terikat oleh kesetiaannya kepada Sarekat Islam dan non-kooperasi di bidang politik, tidak memasuki Muhammadiyah, diam-diam ia mendukungnya serta banyak di antara keluarga serta pengikutnya yang menjadi penggerak utama dalam Muhammadiyah sejak semula. Muhammadiyah membangun sekolah modern lain, dengan hanya sepertiga waktunya—bukan setengah—yang digunakan untuk pelajar- an agama. Pelajaran ini juga diberikan dalam bahasa Jawa, bukan Arab. Mereka memulai gerakan kepanduan sendiri, mendirikan rumah