Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 217
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 217 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

tidak benar-benar Islam, tetapi sebuah ajaran sesat. Katanya, sesudah ia dan orang-orang Muhammadiyah lainnya berkeliling dan berbicara di berbagai desa untuk meyakinkan rakyat, ketegangan itu berkurang, meski masih tetap ada. la mengatakan bahwa isi utama ceramah- ceramah itu adalah penerapan Islam kepada masyarakat, ajaran Al Gur'an serta Hadis yang bersangkutan dengan koperasi desa, moralitas dalam kehidupan desa dan semacamnya. Berbeda dengan pengajian kolot dan pengkhususan pengajian Al Gur'an hanya untuk orang-orang tua yang tidak akan mengerti maknanya. Apa yang mereka coba lakukan adalah membawa Al Gur'an agar benar-benar tertanam di bumi. Dengan demikian, pertempuran bergeser ke medan agama sepenuhnya. Namun, sebagaimana yang ditunjukkan oleh catatan saya, penghindaran dari masalah-masalah politik tidak melunakkan reaksi kalangan konservatif. Dalam kenyataannya, dengan memusatkan serangan hanya pada aspek-aspek praktik santri yang menjadi ciri sangat penting dari ortodoksi para kiai dan pengikutnya (Muhammadiyah hanya sedikit menaruh perhatian pada kalangan abangan secara langsung: pembaruan mereka diarahkan ke dalam umat sendiri), yakni ketergantungan kepada hukum Syafi'i dan pengajian Al Gur'an gaya lama, Muhammadiyah malah semakin memperburuk konflik ini. Ketegangan memuncak sampai kepada titik dimana seorang muslim konservatif tidak mau pergi ke masjid yang sama dengan anggota-anggota Muhammadiyah. Bahkan membuka kitab Abduh dianggap sebagai dosa besar yang dapat menyebabkan buta. Lalu, seorang informan saya yang mendirikan satu- satunya cabang desa Muhammadiyah di wilayah Mojokuto (cabang desa ini tidak lama bertahan. Dari dulu sampai sekarang, organisasi hampir seluruhnya merupakan sebuah fenomena perkotaan di Mojokuto) mendapati bahwa tak seorang pun dari sahabat-sahabat lamanya mau berbicara kepadanya selama hampir dua tahun dan akan menghindar ke seberang jalan kalau mereka melihatnya datang. Kalangan konservatif juga mengorganisir diri, membentuk cabang Nahdatul Ulama (disingkat NU) setempat, organisasi alim-ulama konservatif dan para pengikutnya di seluruh Indonesia yang markas besarnya berjarak 48 kilometer dari Mojokuto. Di bawah kepemimpinan Kiai Hasyim Ashary, markas besar ini mungkin menjadi pondok paling terkenal (dan paling besar, dengan beberapa ribu murid) di seluruh Jawa. Nahdatul Ulama sebenarnya berdiri di Mojokuto pada 1926, beberapa tahun sebelum Muhammadiyah muncul. Dirangsang oleh jaraknya yang


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 217 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi