Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dekat dengan markas besar dan penyampaian misi modernis yang gigih dari kelompok Nazir, organisasi yang diabdikan untuk “membangkitkan” guru-guru agama desa agar merespons ancaman reformisme Islam terhadap gaya hidup mereka, memperoleh pemimpin-pemimpin sejatinya dari kalangan kiai terkemuka di wilayah itu ditambah beberapa pedagang kota yang meninggalkan SI Nazir karena arah modernismenya. Kombinasi antara kemampuan menyesuaikan diri secara politis dengan konservatisme agama yang menghindarkan mereka dari kedua ujung tanduk dilema Nazir, segera memperoleh daya tarik. Organisasi itu berkembang sampai mencapai sekitar 15.000 anggota (perkiraan kasar seorang pemimpinnya sebelum perang) pada 1940, sementara Muhammadiyah tetap kecil, tak pernah mempunyai anggota lebih dari 40 orang. Namun, sekalipun ada kesenjangan dalam keanggotaan, kedua organisasi itu hampir sebanding, karena Muhammadiyah mengimbangi kekurangan dalam besarnya anggota dengan organisasi yang lebih rapi dan semangat yang jauh lebih agresif. Intensitas perbedaan pendapat bertambah kuat, sehingga memecah masyarakat di kota maupun desa (walaupun pada yang terakhir ini, tentu saja kalangan konservatif sangat dominan) dan akhirnya menjurus kepada perpecahan yang serius di dalam keluarga penghulu sendiri serta krisis pergantian jabatan pada birokrasi keagamaan pemerintah. Naib (yaitu penghulu) Mojokuto kedua yang paling lama memangku jabatan dan dianggap sebagai nenekmoyang paling penting dari keluarga itu, adalah seorang yang melakukan poligami dengan tiga isteri. Dari isterinya yang kedua, ia hanya mempunyai seorang anak, tetapi isterinya yang pertama dan ketiga, masing-masing memberinya lima orang anak. Karena isteri pertamanya hampir satu generasi lebih tua dari isteri ketiga, maka anak-anak dari isteri pertama juga satu atau setengah generasi lebih tua dari anak-anak isteri ketiga. Ketika orang ini meninggal pada 1919, kedudukannya digantikan oleh anaknya yang tertua (anak dari isteri pertamanya), menurut aturan tak tertulis. Karena anaknya yang bernama Kasman ini, seperti semua anggota keluarga yang lebih tua, adalah seorang yang berkeyakinan konservatif, ia menggunakan jabatannya untuk memajukan kepentingan konservatif. Usahanya ini ditentang oleh sayap keluarga itu yang lebih muda, anak-anak dari isteri ketiga yang kesemuanya modernis dan anggota Muhammadiyah. Kasman tidak saja sangat amat menyukai partai konservatif, tetapi pelan-pelan, ia juga berhasil menggeser semua anggota keluarganya