Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
yang Muhammadiyah—jelas melalui manuver dalam keluarga yang detailnya sukar direkonstruksi—dari posisi pegawai di jawatan agama. Dengan demikian, muncullah perang antargenerasi dalam keluarga penghulu, sebuah perpecahan ideologis antara saudara-saudara tiri, yang terkadang berkembang menjadi sangat panas. Bisri (cucu naib tua itu, dari salah seorang anaknya dari isteri yang lebih muda) mengatakan bahwa ketika ayahnya (almarhum) masih muda, iaadalah seorang yang aktif dalam organisasi. Semangatnya sangat kuat. Ia adalah perintis Muhammadiyah dan setiap hari ia berdebat dengan Kasman dalam soal ini. Pada waktu itu, Kasman, saudara tirinya, yang menjabat sebagai naib di Mojokuto dan anggota tertua keluarga itu, ditentang oleh saudara-saudara tirinya, termasuk ayahnya. Suatu ketika, ayah Bisri merencanakan agar khotbah di masjid diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sesudah disampaikan dalam bahasa Arab walaupun ia tahu Kasman sangat menentang hal itu. Ketika Kasman mengetahui hal itu, ia dan ayahnya bertengkar habis-habisan serta ayah Bisri pergi dari rumah untuk kemudian tinggal di sebuah pondok. Dengan meninggalnya Kasman, perjuangan ini mencapai puncaknya ketika sayap modernis keluarga itu berhasil meyakinkan kepala penghulu di kabupaten—yang dengannya, seperti telah saya katakan tadi, keluarga di Mojokuto ini memiliki hubungan kekeluargaan melalui perkawinan—untuk mengangkat (memberi rekomendasi kepada bupati untuk mengangkat) salah seorang saudara tirinya sebagai naib, bukan anak Kasman sebagaimana lazimnya. Saudara tiri ini adalah pemimpin intelektual sayap modernis dan pendiri Muhammadiyah. Hal ini dilakukan dengan alasan yang kabur, bahwa anak Kasman agak sakit-sakitan. Reaksi terhadap pengangkatan ini sangat besar. Kejadian itu tidak saja menyebabkan perpecahan dalam keluarga penghulu menjadi terbuka (ibu naib baru itu sendiri, seorang yang tidak percaya kepada cara-cara baru, tidak menyetujui anaknya memangku jabatan itu) tetapi juga memecah hampir seluruh umat, khususnya di dalam kota, menjadi dua kubu. Surat-surat dikirimkan kepada pers Indonesia, petisi disampaikan ke ibukota kabupaten, tuduhan dilemparkan ke kedua arah dan berbagai jenis ancaman dilakukan—tetapi naib baru itu tetap menduduki jabatannya. Dengan pengangkatannya, konflik moderen-kolot mencapai klimaksnya dan kelestarian Muhammadiyah dilingkungan setempat menjadi terjamin. Karena kaum reaksioner yang keras mulai tua dan meninggal, maka proses rekonsiliasi pun dimulai.