Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 222
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 222 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

politik dunia dan ketertiban dalam negeri, serta kembali ke Mojokuto untuk menyebarkan teori-teori baru itu di lingkungan mereka. i mengatakan bahwa semasa Jepang, Yahya (sekarang ketua Muhammadiyah Mojokuto) dan Akhmad Mukhlas (ngib yang menang dalam perjuangan melawan kaum konservatif di kasus terdahulu) adalah diantara mereka yang dikirim ke Jakarta untuk belajar sebagai bagian dari percobaan Jepang untuk memperoleh simpati kaum santri. Menurut Bisri, jelas usaha itu tidak seluruhnya tanpa hasil, karena kemudian baik Yahya maupun Mukhlas secara sukarela ikut serta dalam Barisan Jibaku (“Korps Bom Manusia”) di Bragang yang dibentuk untuk pertahanan kamikaze melawan Amerika kalau mereka menyerang Pulau Jawa. Bisri mengatakan bahwa ia ragu-ragu apakah kedua orang itu betul-betul akan menjadi kamikaze kalau saatnya nanti tiba, tetapi pada masa itu keduanya memang anti-Amerika dan pro Jepang, yang menurutnya, merupakan akibat dari kurangnya pengalaman politik kaum muslimin. Katanya Jepang memerintah tanpa menekan Islam dan kaum muslimin tidak merasakan adanya pertentangan antara kepercayaan mereka serta kepercayaan orang Jepang. Ia juga mengatakan bahwa orang- orang yang dipanggil ke Jakarta, kecuali dua pimpinan Muhammadi- yah itu, kebanyakan adalah para kiai. Anak-anak seperti dirinya, juga dijejali dengan propaganda Jepang, yang diterima mereka dengan baik, bahkan oleh dirinya sendiri, tetapi mereka sebenarnya tidak tahu banyak. Katanya, anak-anak sekolah dengan sukarela mencukur gundul kepalanya agar lebih mirip orang Jepang dan mengenakan topi & la Jepang dengan inisiatif sendiri. Katanya, setiap pagi mereka harus membungkuk ke arah Jepang di sekolah. Ditanya apakah hal ini tidak bertentangan dengan Islam, ia mengatakan tidak, karena hal itu dianggap bukan ibadah. Ada perdebatan panjang pada masa itu, dimana akhirnya perbuatan itu dianggap berbeda dari sembahyang Islam karena beberapa perbedaan dalam posisi tubuh dan sebagainya. Katanya lagi, Jepang cukup hati-hati untuk tidak menyerang Islam. Pemimpin-pemimpin Islam dari kedua golongan ini menduduki banyak pos penting dalam organisasi-organisasi yang disponsori Jepang di Mojokuto. Baik di Mojokuto maupun di desa-desa sekitarnya, mereka mengepalai organisasi dana bantuan untuk menolong para orangtua yang anaknya dikirim kerja paksa di Siam atau tempat lain.” Mereka pun diangkat untuk menduduki pos-pos birokrasi khusus yang meniru pekerjaan-pekerjaan yang ada di birokrasi biasa, yang kewajiban pokoknya sepertinya berhubungan terutama dengan memata- matai para priyayi yang menduduki pos yang sebenarnya. Mereka


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 222 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi