Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Masyumi, tetapi keduanya menguatkan fakta bahwa percaturan politik modern telah tiba di daerah pedesaan. Di pihak lain, pengaosan lebih bersangkut-paut dengan ajaran agama dan sosial yang umum daripada dengan persoalan politik tertentu. Berikut ini catatan ringkas tentang sebuah pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam: Sesudah membuka pengaosan NU, Muksim memanggil seorang pemuda untuk membaca Al Gur'an. Muksim kemudian mengatakan beberapa hal tentang pentingnya mengunjungi pengaosan, bahkan bagi seorang tua seperti dia yang dapat dikatakan sudah mau meninggal. la telah menerima surat, katanya dari seorang anggota NU yang jatuh sakit dan meminta agar anggota-anggota NU mendo'akan kesembuhannya. Akhmad (seorang kiai muda dari kecamatan sebelah) berbicara setelah itu. la menganjurkan rakyat agar datang ke pengaosan, memperolok mereka yang kerjanya hanya duduk-duduk dan sembahyang saja serta tidak berbuat apa-apa lagi. Ia juga mencemooh orang yang datang ke pengaosan, tetapi lalu tertidur, yang tidak ikut serta dalam kehidupan organisasi dan hanya berpikir tentang akhirat saja. Katanya, orang harus menyesuaikan Islam dengan dunia modern tanpa kehilangan intinya. 1a mengkritik orang yang tidak berpakaian rapi, yang rambutnya tidak disisir dan yang pakaiannya kedodoran—lalu memiringkan pecinya ke samping sebagai ejekan. la mengatakan bahwa Nabi tidak hanya berdo'a tetapi berdo'a sambil berbuat. Pidatonya, yang berlangsung lebih dari dua jam, merupakan rangkaian lelucon rutin, masing-masing dengan sebuah pesan moral. Ia berjalan dengan kaku untuk menunjukkan kekakuan kaum cerdik-pandai. Ia meniru orang yang mendengar bel sepeda serta memalingkan muka secara tiba-tiba untuk melihat apa yang menghampiri dan kemudian menghindar ke samping—untuk menunjukkan bahwa berbagai indra bekerjasama telinga pertama-tama mendengar, mata kemudian melihat dan seterusnya. Ia meniru orang gemuk dan mengatakan, “Kalau Anda makan terlalu banyak, maka perut Anda akan buncit, lengan Anda jadi gemuk, tetapi—Alhamdulillah!. telinga Anda tetap saja sebesar semula”. la membuat lelucon dengan kata-kata, mengejek pegawai negeri (priyayi) yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain (berjalan menyentak, merasa diri penting, di sekitar panggung) serta mencemooh orang-orang yang menyembah batu dan kayu. Semua obrolan ini dirangkai bersama seperti rangkaian bunga aster. Pidatonya tak terarah dan tak teratur, tetapi disampaikan dengan baik sekali. Pertemuan itu menyerupai semacam komidi keagamaan dimana ajaran-ajaran moral didramatisir dalam pantomim. Pertemuan itujuga merupakan semacam rapat umum dengan beberapa pembicara menyemangati para pendengar dalam pengertian-pengertian umum