Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 262
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 262 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

ngan membentuk kelompok-kelompok semimandiri, seperti kelompok pemuda, organisasi petani dan serikat buruh—yang masih melekat pada partai, sifat kontras dari tugas yang dihadapi elite partai bahkan lebih jelas lagi. Organisasi para perempuan muda demikian kerasnya ditentang oleh pemimpin-pemimpin agama di desa, sehingga organisasi itu hanya muncul di lingkungan yang benar-benar modernis di dalam kota. Organisasi kepanduan, yang memiliki kepopuleran tertentu sebelum perang, kabarnya semakin melemah sekarang ini. Di desa-desa, para kiai paling banter masih bersikap mendua terhadapnya: di kota- kota, semua orang, kecuali anak-anak kecil, menganggap kepanduan agak berada di bawah derajat mereka. Akibatnya, walaupun pandu NU dan Muhammadiyah, Ansor dan Hizbul Wathon (pandu PSII disebut SIAP), masih cukup aktif menyelenggarakan perkemahan, jambore dan sebagainya, tidak sekuat yang diinginkan oleh para pemimpinnya. Saya bertanya kepada Mul, Ketua Hizbul Wathon, pandu Muhammadiyah, tentang kepanduan. Katanya, struktur kepanduan Islam dan non-Islam (ada juga organisasi kepanduan sekuler yang besar di kota) sama saja, tetapi dasarnya berbeda dalam hal dimasukkan tidaknya ajaran agama ke dalamnya. la mengatakan, tujuan kepanduan adalah kesehatan jasmani dan watak yang baik. Menurut dia, tidak ada pungutan bayaran, tetapi saya dapati anak-anak itu diharapkan mengenakan pakaian seragam. Ia mengatakan bahwa kepanduan tidak begitu populer: orang-orang tua yang tidak mengerti tidak menginginkan anaknya masuk dan banyak anak-anak, khususnya yang lebih besar, tidak ingin menjadi anggota. Mengingat di desa-desa, anak-anak diharapkan bekerja di sawah, maka kebanyakan pandu berasal dari kota. Katanya, alasan kurangnya minat dalam kepanduan adalah ketidaktahuan. Mengenai perkumpulan petani dan serikat buruh, kekurang- berhasilannya bahkan lebih menonjol lagi serta tak satu pun mampu memperoleh banyak momentum di wilayah Mojokuto. Alasan kegagalan tampaknya berbeda-beda untuk masing-masing partai. Untuk NU, kegagalannya hampir total. Walaupun ada beberapa rencana di atas kertas, khususnya untuk organisasi petani, dan banyak pemimpin NU yang lebih modernis benar-benar menyadari kebutuhan akan organisasi seperti itu, tak satu pun yang pernah dikerjakan. (“Semua argumen tentang doktrin tidak ada artinya samasekali”, demikian tutur salah seorang pemimpin itu kepada saya: “partai yang pertama kali


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 262 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi