Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
mendirikan organisasi yang benar-benar berbuat sesuatu untuk petani akan memenangkan pemilihan umum mana pun dengan mudah"). Tampaknya penyebabnya bukan saja karena kurangnya pemimpin yang efektif untuk melaksanakan proyek-proyek demikian, tetapi juga kurangnya guru-guru Al Gur'an yang mempunyai pengaruh ganda dalam partai—secara politis sebagai penasihat pimpinan dan secara agama sebagai pembimbing para pengikutnya. Mereka ini paling banter hanya bersikap tak peduli dan paling buruknya menentang penetrasi bentuk organisasi sekuler dari partai itu ke desa, tempat basis kekuasaan mereka sendiri. Keadaan Masyumi sangat berbeda. Pertama, mereka memiliki pimpinan yang berpendidikan teknis dalam jumlah memadai. Kedua, mereka melakukan lebih banyak usaha penuh harapan dalam organisasi- organisasi buruh dan tani daripada NU. Untuk Masyumi, yang jadi persoalan adalah adanya kecenderungan kuat pada pimpinan kotanya yang terorganisasi dengan baik, untuk mengadakan sentralisasi yang berlebihan dalam organisasi semacam itu ketika dibentuk sehingga mereka tercerabut dari konteks pedesaannya. Saya bertanya kepadanya (seorang pemimpin Masyumi di desa) apakah Sarekat Tani Islam Indonesia (STII, organisasi petani Masyumi) pernah melakukan sesuatu di desa karena saya dengar dari Ketua STI di Mojokuto bahwa ia, Abdul, adalah ketuanya di desa Banyuurip. Abdul mengatakan, “Tidak ada kegiatan samasekali, tidak ada. Kalau nanti Anda bertemu dengan Mahmud (pemimpin STII Mojokuto), tanyakan kepadanya, mengapa ia tidak menaruh perhatian samasekali kepada desa-desa”. Abdul sangat sedih dan jelas serius agar saya mengatakan itu kepada Mahmud untuk menyampaikan perasaannya kepada dewan pimpinan. Katanya, mereka hanya memperhatikan pabrik beras milik STII dan samasekali tidak ada kepemimpinan yang disediakan untuk desa. Ia mengatakan bahwa persoalan utamanya adalah pimpinan yang lemah. Ketika Rusman (pemimpin STII sesudah revolusi, di saat semangat zaman waktu itu menyebabkan organisasi semacam ini bisa berbuat lebih baik daripada sekarang) memegang pimpinan, ada banyak pekerjaan yang dilaksanakan di desa-desa di sekeliling Mojo- kuto. Misalnya, di Banyuurip mereka memiliki sawah koperasi atas nama STII yang digarap bersama-sama oleh para anggota. Sekarang ini, semuanya telah dijual kepada perorangan dan STII sebenarnya sudah tinggal nama saja.