Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Saya menjumpai Atmilan lagi dan menanyakan kepadanya apa perbedaan antara PSIl dan kelompok-kelompok lain seperti NU serta Masyumi. Katanya, tidak ada perbedaan samasekali: semuanya didasarkan atas ajaran Islam. Menurutnya, semua itu hanya soal jalan yang ditempuh dan bisa berbeda-beda karena perbedaan di antara orang-orang yang ada dalam berbagai partai. Maksudnya, beberapa orang menjadi anggota dari sebuah partai karena mereka mengikuti pemimpin-pemimpin tertentu, tetapi tidak ada perbedaan samasekali dalam politik: semuanya merupakan bagian dari umat Islam. Saya katakan bahwa banyak orang bercerita kepada saya tentang adanya beberapa perbedaan. Ia menjawab bahwa apa yang mereka ceritakan itu tidak benar. Beberapa mengatakan bahwa NU itu kolot, Muhammadiyah itu modern, PSII kekiri-kirian, Masyumi itu kanan, tetapi menurut pendapatnya, perbedaan itu tidak ada. Ia mengatakan bahwa semuanya itu hanya soal mengemudikan mobil: banyak orang ingin memegang kemudi, karena itu harus ada banyak partai. Semacam teori primadona dalam percaturan politik Indonesia. Banyak yang harus dikatakan mengenai teori semacam itu, khususnya dalam menjelaskan perilaku yang tak dapat diduga pada kalangan elite yang haus kekuasaan. Akan tetapi, itu hanya menjelaskan sedikit sekali tentang penetrasi kedua partai ke tengah-tengah massa secara mendalam dan peran mereka yang semakin meningkat dalam aspek-aspek kehidupan yang non-politis, baik di kalangan pemimpin maupun pengikut. Dengan berjalannya waktu, partai-partai politik rupanya semakin lama semakin bertambah penting sebagai dasar organisasi sosial kaum santri di desa maupun kota, menggantikan ikatan geografis yang lama dengan ikatan ideologi (sebuah kecenderungan yang ada, tetapi tidak begitu terlihat di kalangan abangan dan priyayi). Tujuan Nahdatul Ulama, menurut seorang pemimpinnya, adalah untuk “membangunkan kiai yang tertidur”. NU berusaha mewadahi bentuk-bentuk ikatan sosial keagamaan tradisional yang berpusat di sekitar pondok dengan struktur partai politik modern yang hanya sedikit saja mengubah bentuk ikatan tradisional itu. Sedangkan Masyumi-Muhammadiyah mencoba mengganti bentuk lama itu dengan mengajukan beberapa model buatan kota yang membuka berbagai kemungkinan: semua ini merupakan kelompok-kelompok sosial yang menjadi rujukan pokok bagi kaum santri di Mojokuto.