Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
pada umumnya seorang haji yang disebut kiai dan sekelompok murid laki-laki yang berjumlah 300 atau 400 sampai 1000 orang yang disebut santri.' Secara tradisional dan sampai tingkat tertentu sekarang ini, para santri tinggal dalam pondok yang menyerupai asrama biara Mereka mendapat makan dengan bekerja di sawah kiai atau orang-orang Islam terkemuka lainnya dalam masyarakat dengan melakukan kerja-terampil seperti mencelup kain ke pewarna, menggulung rokok, menjahit atau mendapat kiriman beras dan uang dari keluarga di rumah. Kiai tidak dibayar dan para murid pun tidak membayar uang sekolah. Seluruh biaya lembaga itu dipikul oleh orang-orang yang saleh di antara umat sebagai bagian dari kewajiban membayar zakat. Bangunan pokok hampir tanpa kecuali terletak di luar kota. Biasanya terdiri atas sebuah masjid, rumah kiai dan sederetan asrama untuk para santri. Pengajian diberikan di masjid, dimana kiai membaca bagian dari kitab fatwa keagamaan (dan sejak munculnya Muhammadiyah, Al Gur'an dan Hadis makin sering dibaca) kemudian para santri menirukannya baris demi baris. Kalau kiai-nya bisa berbahasa Arab, jarang sekali terjadi, ia mungkin akan memberikan komentar mengenai makna bagian-bagian tertentu dari waktu ke waktu yang dicatat oleh para santri di pinggir kitab mereka (dengan tulisan Arab). Kalau ia tidak tahu bahasa Arab, ia bisa menggunakan terjemahan Indonesia. Dalam keduanya, adalah bentuknya yang sangat penting dalam hubungannya dengan pembacaan yang benar, bukan isinya. Kiai bisa mengajar di tempat lain satu sampai lima jam sehari, tetapi tidak ada keharusan bagi siapapun untuk mengikutinya. (Murid yang lebih pandai bisa memimpin yang lain kalau kiai tidak ada). Seseorang boleh saja mengaji kalau mau atau tidak mengaji kalau enggan. Pondok tidak mempunyai jadwal tetap. Orang bahkan bisa tinggal di sana tanpa mengaji samasekali kalau ia menginginkannya, asal ia mencari nafkahnya sendiri dan tidak menimbulkan masalah dengan tingkahlakunya. Orang mengaji menurut kecepatan masing-masing, belajar sebanyak-banyaknya atau sekadarnya menurut kebutuhan mereka sendiri. Kalau sebuah kitab selesai, orang dianggap “telah menamatkan” kitab itu. Kalau beberapa orang secara bersama-sama menamatkan satu kitab, sebuah upacara yang disebut kataman diseleng- garakan, dimana dipertunjukkan pencak, gambus serta terbang sebagai hiburan dan diadakan berbagai adu kekuatan.