Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kat” dalam pondok baik dalam arti “kelas” maupun “angka”. Orang tidak lulus dari sekolah ini, tetapi meninggalkannya kapan saja ia menginginkan atau kalau ia punya keperluan demikian. Dengan demikian, orang keluar masuk pondok sesukanya cukup dengan meminta izin kiai yang mudah sekali diperoleh kalau seseorang mempunyai reputasi baik. Beberapa tinggal selama dua minggu, beberapa bahkan sampai 10 tahun. Beberapa murid berpindah-pindah terus dari satu pondok ke pondok lain, seringkali bepergian jauh sekali dari rumah untuk tinggal beberapa lama di sini dan beberapa lama di sana. (Kiai yang berbeda memiliki spesialisasi yang berbeda. Seorang mungkin ahli dalam bidang hukum, seorang lainnya dalam astronomi, seorang dalam filsafat dan sebagainya. Sepanjang bulan puasa adalah lazim bagi santri untuk melewatkan bulan itu di pondok lain yang tidak ditinggalinya selama ini, tetapi ini terserah pada individu yang bersangkutan). Walaupun dalam beberapa hal pondok mengingatkan orang pada biara, santri bukanlah pendeta. Mereka yang sudah menikah tak diper- kenankan menjadi santri. Bukan karena ada hal-hal yang dianggap tidak kudus dalam perkawinan, tetapi semata-mata karena kewajiban dan tanggungjawab kehidupan keluarga bertentangan dengan pola kehidupan tak teratur yang menjadi ciri pondok. Baik janda maupun duda bisa menjadi santri jejaka tua, kalaupun ada di Jawa, biasanya tidak tinggal di pondok. (Kebanyakan santri berumur antara 12 sampai 25 walaupun saya pernah menjumpai beberapa yang berumur enam tahun dan 35 tahun). Karena menjadi santri bukan merupakan penghidupan, maka kecuali kiai, jarang sekali terdapat orang berumur setengah baya atau orang tua di pondok. Karenanya, yang ada dalam pondok bukanlah sistem biara yang diatur secara ketat seperti pada Katolikisme abad pertengahan, tetapi sebuah sistem, dimana setiap ahli agama yang lebih tua menetap dalam akademinya sendiri." Para murid datang serta pergi semaunya (walaupun dalam pondok mereka diharapkan untuk tinggal saja di dalam dan membatasi kontak dengan dunia luar seminimal mungkin), membiayai diri sendiri dengan bekerja, mengaji sebanyak yang diinginkannya dan memperbincangkan masalah agama dengan rekan-rekannya. Ada kecenderungan kuat pada beberapa santri untuk menetap di sebuah pondok sesudah beberapa lama dan menjadi pengikut kiai pondok itu, sehingga sering memberi suasana sekte keagamaan pada pondok, tetapi ketiadaan organisasi yang kaku seperti pada kehidupan biara Katolik